Waspada penculikan anak

Header illustration
Waspada, Penculikan Anak Kembali Marak
February 23, 2017

CIREBON, (KC Online).-

Para orang tua harus waspada saat ini. Penculikan anak-anak bukan hanya isu semata, sebab di Desa Kaliwulu, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, terdapat penculikan terhadap dua bocah perempuan usia 6 dan 7 tahun. Keduanya, A dan S, saat ini telah pulang ke rumah masing-masing.

daihatsu-Epih
Peristiwa terjadi pada Minggu lalu, saat keduanya tengah asyik bermain di lapangan bola kompleks perumahan Kaliwulu selepas duhur. Oleh penculik yang saat ini masih misterius, keduanya dibawa hingga ke Kota Cirebon dan dilepas di lampu merah RSUD Gunung Jati, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon. Diduga, si penculik yang berjenis kelamin laki-laki ini mengincar perhiasan yang dikenakan oleh A dan S.

Kronologis peristiwa terjadi saat A dan S serta beberapa teman-teman korban bermain di lapangan bola kompleks perumahan pada pukul 12.00 WIB, Minggu (19/2/2017).

Saat sedang asyik menangkap ikan di sebuah selokan lapangan bola tersebut, mereka dihampiri oleh seorang laki-laki. Lantas, laki-laki ini menawari A dan S untuk ikut dibelikan boneka. A tertarik dan mengajak S untuk ikut laki-laki ini karena mereka pun diberi uang Rp 5 ribu. Mereka akhirnya ikut laki-laki misterius ini dengan membonceng sepeda milik A hingga ke Kota Cirebon.

Sebelum melakukan perjalanan menuju Kota Cirebon, menurut nenek S, Sawiya (50 tahun), keduanya dibujuk untuk menenggak sebuah minuman. A menurut, namun S menolak. Sepanjang perjalanan, laki-laki ini membujuk keduanya menyerahkan perhiasan yang dikenakan A dan S.

“A menurut saat dimintai kalung dan gelangnya, tapi cucu saya yaitu S menolak. Mungkin karena pengaruh minuman ya, semacam hipnotis,” Kata Sawiya saat ditemui di rumahnya, Rabu (22/2/2017).

Setibanya di lampu merah depan RSUD Gunung Jati, tiba-tiba laki-laki ini mengatakan jika dirinya akan membeli cat dulu dan keduanya diminta menunggu di dekat lampu merah tersebut.

“Tapi, ditunggu hingga berjam-jam si laki-laki ini tidak datang-datang. Cucu saya dan temannya ini mungkin sadar telah dibawa jauh dan tidak tahu jalan pulang akhirnya menangis, kemudian ada sepasang suami istri yang lewat bertanya kenapa nangis,” katanya.

Sepasang suami istri ini akhirnya tahu jika anak-anak ini bukan asli warga sekitar. Keduanya ditanya alamat rumah, akhirnya S mengatakan jika mereka merupakan warga Desa Kaliwulu. Oleh suami istri ini, keduanya berniat diantarkan namun sempat ditolak.

“Rupanya cucu saya takut mereka diculik lagi, jadi sempat ditolak niat mereka untuk mengantar. Tapi, lama-lama mereka sadar tidak tahu arah pulang dan akhirnya nurut. Setelah itu, keduanya benar-benar tiba di rumah dengan selamat,” ujar Sawiya.

Sawiya, ibunda S bernama Era, serta anggota keluarga lainnya shock begitu mengetahui cucunya ini menjadi korban penculikan.

“Kami langsung peluk, ya Allah kami benar-benar tidak menduga jika cucu saya ini jadi korban penculikan,” tuturnya.

Diantar suami istri

Sawiya mengaku tidak tahu jika cucunya menjadi korban penculikan hingga kedua anak ini diantarkan oleh sepasang suami istri tersebut.

“Cucu saya dan A memang akrab, mereka terbiasa main hingga di atas satu jam. Kami tidak khawatir karena biasanya mereka tidak main jauh. Teman-teman cucu saya yang tadinya main bareng sempat bilang kepada kami jika cucu saya dan A dibawa orang tidak dikenal tapi kami tidak percaya, karena kami menganggap tadinya mereka bercanda saja. Tidak tahunya benar-benar terjadi diculik,” ujarnya.

Menurutnya, saat cucunya kembali ke rumah, seluruh keluarga langsung melakukan pemeriksaan terhadap seluruh tubuh S.

“Kami khawatir ada organ tubuhnya yang diambil, tapi sepertinya memang tidak,” katanya.

Sementara S, mengaku kali ini tidak berani main jauh. Jarak antara lapangan bola perumahan Kaliwulu dengan rumahnya sebenarnya tidak terlalu jauh jika menggunakan sepeda. Menurut S, dirinya sering bermain di lapangan bola tersebut dengan teman-temannya. S sendiri terlihat masih trauma.

“Saya tidak mau lagi main jauh, saya juga diajarin sekarang untuk bilang tidak kalau ada orang asing datang,” kata bocah kelas 2 SD ini.

Kapolres Kabupaten Cirebon Ajun Komisaris Besar Risto Samudra melalui Kapolsek Plered Ajun Komisaris Budi Hartono mengatakan, saat peristiwa terjadi pada Minggu lalu tidak ada laporan yang masuk kepadanya. Namun, saat ini, meski korban sudah pulang kembali ke rumah masing-masing, pihaknya akan tetap menindaklanjuti penculikan yang disertai pencurian ini.

“Akan kita tindaklanjuti saat ini juga,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini orang tua harus lebih waspada lagi dalam menjaga anak-anaknya. Para orang tua, tambah Budi, juga diminta untuk memberikan pengetahuan kepada anak-anaknya agar menolak ajakan dari orang asing yang sama sekali tidak dikenal.

“Jadi, anak punya tameng tersendiri saat ada orang asing yang akan mengajaknya,” ucapnya.

Sementara itu, salah satu warga Desa Kaliwulu, Rinto Heprianto (36 tahun) mengatakan, dirinya yang memiliki dua anak usia SD ini khawatir dengan berkeliarannya penculik di sekitar desanya. Bahkan, tak hanya dirinya, para orang tua lainnya juga mengaku saat ini sedang resah.

“Saya sendiri sudah wanti-wanti kepada anak-anak saya agar menolak ajakan orang asing, jangan sampai mereka mau diajak meski dibelikan permen, dikasih uang, atau apa pun,” katanya.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun KC, seorang anak warga Desa Kaliwulu lainnya yang masih berusia tiga tahun, hampir diculik oleh seorang tidak dikenal dengan menggunakan sepeda motor. Diketahui, anak ini menangis saat akan diajak oleh orang tersebut dan beruntung sang ibu langsung mengetahui anaknya ini akan diculik dengan berteriak. Lantas, orang tidak dikenal tersebut langsung kabur.(C-11/C-16)
Sudah dilihat 79 kali

Komentar