Warga Harapkan Jembatan Penyeberangan

21132 medium images %283%29
TUNTANG Kepadatan lalu lintas di jalan raya Semarang-Solo tepatnya di Dusun Praguman Tuntang membuat sebagian besar warga setempat merasa takut saat menyeberang jalan. Beberapa peristiwa kecelakaan lalu lintas yang merenggut korban jiwa penyeberang jalan membuat ketakutan warga semakin menjadi. Salah satu kecelakaan yang menelan korban cukup banyak terjadi sekitar sepuluh tahun lalu. "Sejak saat itu sebagian warga berinisiatif membuat jembatan penyeberangan tepat di kolong jembatan Praguman," jelas Muhammad Jaelani (60), salah seorang tokoh masyarakat setempat saat ditemui di lokasi.

Dijelaskan oleh Jaelani, warga secara swadaya membuat jembatan penyeberangan dari kayu dan papan yang ditata secara sederhana. Karena berada tepat di kolong jembatan, warga dewasa yang melintas harus membungkukkan badan saat melintas. Sebab jarak ketinggian antara jembatan kayu dan badan jembatan kurang lebih hanya satu meter.
Dikatakan, banyak warga dan anak-anak sekolah yang memanfaatkan jembatan itu. Meski tidak nyaman namun menurut warga mampu menjamin keamanan. "Daripada menyeberang lewat jalan raya yang sangat ramai lalu lintasnya, warga lebih suka memanfaatkan jembatan kayu di kolong jembatan Praguman itu," kata pria paroh baya yang juga imam Masjid At Taqwa Praguman Tuntang ini.
Jembatan under pass sepanjang kurang lebih lima puluh meter itu memang terlihat ramai siang itu. Ujung barat jembatan penyeberangan berada di mulut kolong jembatan Praguman yang langsung mengarah ke halaman Masjid At Taqwa.
Beberapa warga dari RT 1 dan RT 2 Dusun Praguman yang terletak di sebelah Timur jalan raya memanfaatkan jembatan itu saat akan ikut berjama'ah Sholat Dhuhur. "Mangga kalau mau lewat. Tapi harus membungkuk karena panjenengan tinggi badannya," kata Siyamah (63,bukan nama sebenarnya), seorang jamaah masjid yang akan pulang ke rumahnya yang berada disisi Timur usai sholat Dhuhur.
Sejurus kemudian, puluhan siswa SD yang sekolahnya terletak di sebelah Barat jalan raya tampak melintasi jembatan. Tnggi badan mereka yang pendek karena masih anak-anak menjadikan mereka bisa melintas sambil bersenda gurau.
Meski warga terkesan menerima keadaan, Jaelani berharap instansi terkait untuk membantu pembuatan jembatan penyeberanan orang. Selain untuk kepentingan warga setempat, jembatan itu juga bisa dimanfaatkan para musafir yang akan menjalankan ibadah usai mampir di sebuah warung kuliner kondang yang letaknya berseberangan jalan dengan Masjid At Taqwa.

Komentar