Waktu Takan Terlupakan

15 April 2019, 23:21 WIB
4 0 62
Gambar untuk Waktu Takan Terlupakan
Sore itu tepat sekitar jam setengah enam pada tanggal 28 september saya berada di rumah. Saya sedang telfonnan sama orang tua saya yang pada saat itu berada di Palu, mama saya menelfon untuk menyuruh saya memasak, dengan alasan mereka mau pulang. Dan sedang diperjalanan menuju rumah tante saya untuk mengambil nenek saya yang ingin ikut pulang ke pantai barat. Setelah telfonnan saya langsung pergi ke dapur untuk memasak, lampu pada saat itupun mati, jadi otomatis yang harus saya lakukan dahulu adalah menyalahkan lilin. Saya mencari macis untuk menyalahkan lilin tetapi saya tidak menemukan macis, terpaksa saya membawa lilin ke dapur dan menyalahkannya dikompor. ketika saya ingin memutar kompor, tiba-tiba gempa yang sangat kuat terjadi, meja bergesaran, suara piring-piring pecah yang jatuh dari lemaripun terdengar begitu kuat. Sayapun segera berlari keluar tanpa melepas apa yang ada ditangan saya(piring kecin dan lilin) Ketika saya keluar ternyata adik saya sudah berkumpul dengan tetangga sekaligus tante saya di depan rumah. Saya langsung kefikiran dengan orang tua saya yang tadinya bilang dia sedang diperjalanan pulang. Fikiran saya sudah aneh-aneh. Saya hanya bisa menangis pada saat itu. Ingin menelfon menanyakan kabar, tetapi jaringan semua langsung hilang. Warga berkumpul di pinggir jalan untuk menghindari bangunan yang rubuh. Yang dilakukan saat itu hanya bisa menetaskan air mata sambil beristighfar. Orang-orang berlalu-lalang mencari tempat yang aman. Tidak lama Om sayapun langsung pergi mengambil mobil dan mengajak kami semua pergi mencari tempat yang agak tinggi, karena difikiran orang tua pada saat itu air laut akan naik. Yang dibekalpun hanya air minum beberapa botol. kamipun pergi ke Gunung Bosa gunung yang berada di Desa Labean, diperjalanan terlihat beberapa bangunan yang rubuh termasuk sekolah saya juga ikut rubuh. Sesampainya disana ternyata disana sudah ramai. Banyak orang yang terlihat hanya memakai sarung, suara tangisan bayi dimana-dimana, entah apa yang membuat anak kecil itu semua menangis. Difikiran saya mereka menangis karena lapar dan digigit nyamuk atau bahkan mereka masuk angin. Semua orang kelaparan, dan tak ada makanan yang terbawah di mobil. Om sayapun pulang mengambil snack dan roti-roti yang ada di Kios sebelah rumah saya untuk mengganjal perut. Setelah beberapa jam kami berada disana, jam 1 malam tempat itu semakin ramai, om saya langsung bilang kita pindah ke tempat lain, coba lihat jalan sudah mulai retak-retak! kamipun pindah ke Sibantaya tempat yang tidak tinggi namun jauh dari pantai. Di sekeliling terdapat sawah-sawah. Semakin larut malam kamipun mengantuk, hanya tante saya dan anak kecilnya yang tidur di mobil. Kami tidur di tanah hanya beralaskan daun pisang dan beratapkan langit. Mana nyamuk menggigit, dingin, suara jengkrik berisik, ditambah lagi saya kefikiran sama orang tua saya. Tidur sayapun tak nyenyak, saya hanya bisa menangis tanpa bersuara mengingat kedua orang tua saya tak ada kabar. Bahkan bukan cuma mama dan papa saya tak ada kabar tapi kakak, tante, om, semua keluarga saya di Palu juga tak ada kabar. Hari telah Pagi, sayapun bangun dan pergi membersihkan muka. Om dan teman-temannya pulang pergi mengambil tenda dan beberapa tikar kecil untuk dipakai tidur nantinya, ia tidak lupa juga mengambil semua perlengkapan dapur termasuk kompor, belanga, kuali, piring, bahan makanan, dan lain sebagainya. Tante sayapun mengajak saya dan anaknya cewek yang seusia saya untuk segera memasak. Setelah selesai memasak semua orang sudah mulai makan, tapi saya hanya diam dan tidak ingin bergerak mengambil makanan. Saya masih kefikiran sama orang tua saya. Saya selalu bertanya-tanya. Dimana orang tua saya? apa yang terjadi sama orang tua saya? apakah orang tua saya selamat??. Melihat saya berdiam diri tak ada suara, tante sayapun menghampiri saya, berusaha menghibur saya dan bilang tidak usah kau fikirkan mama dan papamu selamat dorang itu, pergilah makan dulu! Sayapun makan. Hari pertama setelah gempa, Om saya pergi ke Palu untuk mencari orang tua saya, ditunggu-tunggu pulang Om sayapun tidak ada pulang. Hari ke dua keponakan papah saya menyusul ke Palu, karena Om saya yang tadinya pergi mencari orang tua saya juga tidak ada kabar.Hari sudah mulai malam Om sayapun datang dan membawa kabar kalau dia tidak ketemu sama orang tua saya. Besoknya Om saya yang satunya lagi berangkat ke Palu untuk mencari anaknya yang juga belum ada kabar, untungnya saat dia ke Palu dia bertemu anaknya sudah berada dirumah saudaranya di Palu. Ketika Om saya dan anaknya pulang, dia langsung memberitau kami kalau dia sudah ketemu sama orang tua saya. Syukurlah saya legah mendengarnya . Tapi Papa dan Mamamu belum bisa pulang katanya apa masih b cari kakakmu. Ternyata kakak saya saat itu ikut kegiatan di Desa Bangga kecamatan Sigi. Tapi untungnya tidak lama dari situ kakak dan papa saya ketemu. Dia dibawah pulang papa saya dan dipamitkan dengan panitia kegiatan. Hari ke empat setelah gempa di sore hari saya, adik, tante, om, dan teman-temannya berkumpul di tenda sambil bercerita-cerita. Tidak lama kemudian mama, papa, dan kakak sayapun datang. Saya senang akhirnya saya bisa ketemu sama orang tua dan kakak saya. Turun dari motor mama sayapun langsung menangis dan memeluk saya sambil bilang oh anakku kasian. Sayapun ikut menangis. Bahkan tante saya juga ikut menangis karena melihat papah saya sekaligus kakaknya selamat. Empat hari tidak ada kabar membuat saya jadi khawatir dan sering menangis, saya sangat bersyukur keluarga saya tidak ada yang kenapa-kenapa. Semua baik-baik saja.

Manfaatkanlah waktu kalian untuk berkumpul dengan keluarga sebanyak mungkin!!. Karena jarum jam tidak bisa berputar ke kiri.
#Donggala_Bangkit
#Atmago_Goes_To_School
#SMAN_2_Balaesang

  Komentar untuk Waktu Takan Terlupakan

Masuk ke akun AtmaGo kamu untuk ikut memberi komentar!

Masuk  atau  Daftar
Jadilah yang pertama memberi komentar!