Utang Dan Zakat, Mana Yang Harus Dibayar Lebih Dulu?

26666 medium images 1528839154055
Utang dan zakat sama-sama kewajiban.

Bagi setiap Muslim, zakat merupakan kewajiban, selain sholat, puasa, dan haji. Jika tidak ditunaikan, selain berdosa, orang yang bersangkutan dianggap menghina kedaulatan Islam.

Dalam catatan sejarah bahkan disebutkan, Khalifah Abu Bakar As Shiddiq sampai memerangi mereka yang tidak mau membayar zakat. Hal ini menunjukkan begitu pentingnya zakat.

Sementara di sisi lain, seseorang terkadang memiliki kewajiban lain berupa melunasi utang. Bahkan, utang akan terus ditagihkan meskipun orang yang bersangkutan sudah meninggal.

Yang lebih parah, seseorang yang dikenal beramal sangat baik dan beribadah dengan rajin bisa jadi terhalang masuk surga. Penyebabnya, utang yang tidak dia lunasi.

Lantas, karena keduanya sama-sama kewajiban, maka mana pembayaran yang harus didahulukan antara utang dengan zakat?

Dikutip dari laman Rumah Fiqih Indonesia, Ustaz Ahmad Sarwat Lc., memberikan penjelasan dengan merujuk pada kitab Fiqh Zakat karya Syeikh Yusuf Al Qaradawi. Pada bab pertama kitab tersebut, menurut Ustaz Sarwat, Syeikh Yusuf menerangkan kriteria harta yang harus dikeluarkan zakatnya.

Tidak semua jenis harta harus dizakati. Secara ringkas, dari semua syarat yang ditetapkan, jumlah harta yang melebihi kebutuhan dasar lah yang wajib dikeluarkan zakatnya. Istilahnya adalah al fardlu 'anli alhajah al ashliyah.

Penjelasannya, apabila seseorang memiliki harta melebihi nisab dan haul namun kebutuhan dasarnya jauh lebih besar, maka hartanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan itu. Jika masih ada sisa yang memenuhi nisab, barulah zakatnya wajib dikeluarkan.

Kebutuhan dasar yang dimaksud adalah kebutuhan sehari-hari, termasuk di dalamnya adalah utang. Sehingga, kewajiban utang harus didahulukan ketimbang zakat, disebut dengan istilah as salamatu minad din.

Komentar