Upaya Kota Bogor Turunkan Angka Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan

42672 medium diskusi %283%29
Oleh Husnul Khatimah

TANAH SAREAL, AYOBOGOR.COM--Kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi perhatian serius pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tercatat 1.885 kasus pengaduan kekerasan terhadap anak di 2018.

Angka yang cukup mengkhawatirkan ini membuat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) RI terus berupaya menurunkan angka kekerasan pada anak.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perlindungan Perempuan dan Anak (DPMPPA) Kota Bogor Artiana Yanar Anggraini mengatakan, sejak 2016 KPPPA mengenalkan program terobosan dalam upaya mengakhiri kekerasan pada anak dan perempuan. Program tersebut diberi nama Three Ends.

Three Ends memiliki arti akhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, akhiri perdagangan manusia dan akhiri kesenjangan ekonomi bagi perempuan. Program yang merangkul semua elemen ini bertujuan untuk bergerak bersama mengatasi masalah yang setiap tahun angkanya kian mengkhawatirkan.

"Sesuai namanya, Three Ends ada sebagai upaya solutif untuk mengakhiri tiga masalah yang selama ini seolah jadi pekerjaan rumah bersama yang belum terselesaikan," ujarnya Kamis (06/12/2018).

Tak hanya KPPPA, Pemerintah Kota Bogor juga terus berupaya mencegah, mengurangi, bahkan menghilangkan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Bogor. Upaya tersebut dilakukan dengan melakukan penguatan jaringan dan sinergitas kelembagaan yang di dalamnya ada DPMPPA Kota Bogor, P2TP2A Kota Bogor dan pihak kepolisian. Tak ayal, jika terjadi kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Bogor bisa langsung ditangani dengan cepat.

"Jumlah kasusnya tidak terlalu banyak karena kami selalu sosialisasi ke masyarakat agar segera melapor jika teridentifikasi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak sehingga bisa langsung ditangani," ujar Artiana.

Artiana menyebutkan, kekerasan pada anak terbagi dalam enam kategori kekerasan yakni kekerasan fisik seperti menampar, menginjak kaki, meludahi, memalak, dan lainnya. Kekerasan secara psikis berupa memandang dengan sinis, mendiamkan, mengucilkan, meneror lewat sms, telepon atau email, memelototi, dan lainnya. Selain itu, ada pula kekerasan verbal yakni memaki, menghina, meneriaki, mempermalukan di depan umum, memfitnah, menebar gosip, dan masih banyak lagi.

Lebih lanjut, Artiana menerangkan, kategori keempat yakni kekerasan simbolik berupa gambar-gambar yang menyimbolkan kekerasan, gambar-gambar pornografi, gambar-gambar diskriminasi. Kelima, kekerasan seksual mulai dari memegang, meremas bagian sensitif, berhubungan badan tanpa atau dengan paksaan, dan bentuk lain yang mengarah pada kekerasan seksual.

"Terakhir kekerasan cyber, yaitu mempermalukan, merendahkan, menyebarkan gosip di jejaring sosial internet," ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Bogor Ade Sarip Hidayat mengatakan, dalam hal menangani masalah kekerasan dan eksploitasi terhadap perempuan dan anak dibutuhkan gerakan semesta yang memungkinkan tercapainya kesepahaman semua pihak dan saling bergandengan tangan. Mulai orang tua (keluarga), guru (sekolah), pemerintah pusat dan daerah, media massa, dan netizen agar kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di negeri ini bisa dikurangi, dicegah dan diakhir.

"Kenapa harus ada satu pemahaman karena sering kali jika terjadi banyak kasus kekerasan akan disimpulkan pemerintah tidak peduli dengan perlindungan perempuan dan anak. Sementara jika angka kekerasannya sedikit pemerintah dianggap tidak berhasil karena dirasa tidak mewakili keadaan sebenarnya,” pungkasnya.

Editor : Andres Fatubun
Sudah dilihat 49 kali

Komentar