Tiwul Riwayatmu Kini

37451 medium post 45398 8386ac7f e4b2 43ee 917c a91e58333a94 2018 10 28t06 49 01.011 07 00 37452 medium post 45398 57609062 e2fd 4300 b111 92770ae0c24f 2018 10 28t06 49 01.991 07 00
Membicarakan makanan yang satu ini pikiran kita akan teringat dengan kota Wonosari - Gunung Kidul. Ya makanan tradisional ini berasal dari sana. Namun saat ini makanan tersebut di Kulon Progo masih dapat kita jumpai di pasar tradisional. Tiwul adalah sejenis makanan yang berasal dari singkong yang telah dikeringkan melalui dijemur. Setelah kering disebut dengan Gaplek. Ditumbuk halus diberi sedikit air lalu di kukus baru disebut dengan Tiwul. Dalam penyajiannya sangat sederhana, Ada sebenarnya singkong yang proses pengeringannya dengan di asapi tetapi nanti hasil terakhir setelah di kukus namanya menjadi Gatot. Tiwul yang telah selesai dikukus diberi sedikit parutan kelapa muda dengan sedikit garam atau bisa ditambah ikan asin diatasnya. Atau bisa di santap dengan sayur sebagai pengganti nasi.

Generasi millenial tidak banyak yang tahu apa itu Tiwul. Karena mereka tidak memasukkan Tiwul kedalam daftar menu mereka. Akan tetapi setidaknya peran Tiwul di dunia kesehatan bisa kita sampaikan kepada generasi muda saat ini. Tidak bisa dipungkiri kenapa nenek moyang kita berumur panjang dan tidak pernah atau hampir jarang sakit. Salah satunya karena mengkonsumsi Tiwul sebagai dafatar makanan pokok mereka sehari-hari. Selain alasan kesehatan ternyata dalam setiap proses awal hingga menjadi bahan siap saji, Tiwul tidak menggunakan bahan kimia apapun. Semua proses tersebut sangat organik. Tidak seperti makanan saat ini yang hampir semua produknya sarat dengan tambahan bahan lain yang mengandung kimia.

Menurut penulis Tiwul bisa menjadi makanan alternatif untuk ketahanan pangan di masa yang akan datang. Harapannya tentu petani harus semakin bijak dalam menggarap lahan pertanian dan tidak tergantung dengan produksi beras. Ada banyak ragam makanan alternatif lain (bothe, telo, suwek,gembili, ganclong, gadung, tales) dan masih banyak yang lain. Bagaimana tidak pada saat ini luas lahan sawah/pertanian semakin tahun mengalami penurunan produksi akibat berkurangnya luas lahan pertanian. Perubahan tata ruang dan lingkungan oleh modernisasi menjadikan petani kehilangan sebagian lahan mereka. Oleh karena itu pengolahan lahan pertanian khususnya diwilayah pegunungan setidaknya harus memprioritaskan berapa persen untuk menanam tanaman palawija selain tanaman keras untuk alasan investasi jangka panjang. sebagai bentuk dan menompang ketahanan pangan dimasa yang akan datang.

Bukan tidak mungkin dalam perkembangan jaman yang semakin modern dan serba digital, kita akan dihadapkan kembali untuk mengkonsumsi makanan tradisional ini. Sekali lagi untuk alasan kesehatan. Kalau demikian berarti ini peluang bisnis untuk kita dimasa yang akan datang. Menarik kiranya jika ada sebuah even dan gagasan untuk Festival Makanan Tradisional. Salah satu upaya untuk melestarikan dan mengenalkan kembali makanan tradisional kepada generasi muda.


red.

Sudah dilihat 49 kali

Komentar