Tips Membuat Hidup Lebih Berkah

Menggapai keberkahan hidup
Semua orang pasti suka diberi kesehatan, umur panjang, serta hidup yang bahagia dan berkecukupan. Hanya saja, perjalanan hidup tak selalu ideal. Ibarat pepatah, hidup seperti roda pedati. Kadang di atas, kadang di bawah. Ada orang mudah mencari harta, kaya-raya, tetapi tidak berkah, hatinya selalu gundah, dan penyakit datang tiap saat. Sementara itu, ada orang yang setiap hari hanya mampu makan dan minum saja, tidur bahkan hanya di atas becak namun Allah Subhânahu wa Ta’âla selalu memberinya kesehatan, merasa cukup dan batinnya tidak gelisah. Yang membedakan kondisi kedua orang tersebut adalah keberkahan. Karena itu, Islam menganjurkan muslim untuk mencari keberkahan.

Keberkahan atau barakah, dalam kamus Al Munawwir artinya adalah “karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia”. Sedang menurut ulama, keberkahan artinya ziyadâtul khair (penambahan nilai kebaikan). Jadi, keberkahan berarti penambahan nilai kebaikan dalam hidup dan memiliki manfaat yang luas. Karena itu, ketika keberkahan hadir pada sesuatu, maka ia akan bertambah banyak, dan ketika hadir di satu tempat maka penambahan nilainya terlihat jelas dalam bentuk kebaikan dan manfaat yang luas, baik harta, anak, waktu, ilmu maupun amal. Contohnya adalah keberkahan yang ada pada Baitullâh (Ka’bah), kota Madinah, dan Masjidil Aqshâ.

Keberkahan adalah nilai yang dicari setiap muslim dalam hal apapun, agar jasmaninya, hidupnya, anak-anaknya, dan semua yang ada di sekitarnya tumbuh dengan baik. Keberkahan bukanlah pemberian yang tiba-tiba hadir tanpa sebab, tetapi keberkahan diperoleh lewat usaha dan ikhtiyar manusia. Untuk itu, ada beberapa tips yang ditawarkan Islam dalam meraih keberkahan.

Pertama: Berdoa kepada Allah Subhânahû wa Ta'âla dalam semua aktivitas dan membaca surah Al Baqarah.

Keberkahan bisa dihadirkan ke dalam rumah dengan cara berdoa kepada Allah dan membaca surah Al Baqarah. Hal ini sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam dalam sabda beliau,
إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللهَ عِنْدَ دُخُوْلِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: لاَ مَبِيْتَ لَكُمْ وَلاَ عَشَاءَ.
“Apabila seseorang memasuki rumahnya lalu berdzikir kepada Allah saat memasuki rumahnya dan menyantap makanannya, maka syetan akan berkata, ‘Tak ada tempat menginap dan makan malam bagi kalian’.” (HR. Muslim)
Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam juga besabda,
اقْرَأُوْا سُوْرَةَ الْبَقرَةِ؛ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ، وَتَرْكَهَا حَسَرَةٌ، وَلاَ يَسْتَطِيْعُهَا الْبَطَلَةُ.
“Bacalah surah Al Baqarah, karena sesungguhnya membacanya adalah keberkahan dan tidak membacanya adalah kerugian dan tidak bisa ditembus oleh para penyihir.” (HR. Muslim)
Keberkahan juga bisa diperoleh dari makanan ketika diawali dengan menyantap dari bagian pinggir, seperti yang dianjurkan Nabi Shallallâhu Alaihi wa Sallam dalam sabda beliau,
إِنَّ الْبَرَكَةَ تَنْزِلُ فِي وَسَطِ الطَّعَامِ، فَكُلُوا مِنْ حَافَّاتِهِ، وَلاَ تَأْكُلُوا مِنْ وَسَطِهِ.
“Sesungguhnya keberkahan turun di bagian tengah makanan, maka santaplah makanan dari bagian pinggir dan jangan menyantap dari bagian tengahnya.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah & Al Hakim)

Kedua: Beristighfâr secara kontinyu.

Keberkahan akan diperoleh dengan cara beristighfâr secara kontinyu. Contohnya adalah doa yang diajarkan Nabi Nuh Alaihissalâm kepada umatnya sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhânahu wa Ta’âla,
﴿فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (١٠) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (١١) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (١٢)﴾ [نوح: ١٠ – ١٢]
“Maka aku (Nuh) berkata kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, menganugerahkan harta dan anak kepadamu, menjadikan kebun-kebun untuk kamu, serta membuat sungai-sungai bagi kamu’.” (Qs. Nûh [71]: 10-13)

Ketiga: Shalat Shubuh berjamaah dan memulai aktivitas di pagi hari.

Keberkahan akan diperoleh ketika seseorang melaksanakan shalat Shubuh secara berjamaah. Karena ada nilai keuntungan besar yang diperoleh darinya, yaitu keberkahan bangun di pagi hari, sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam dalam sabda beliau,
اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُوْرِهَا.
“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR. Abu Daud & Ahmad)
Karena itu, ketka Nabi Shallallâhu Alaihi wa Sallam akan mengirim Sariyyah (pasukan perang yang jumlahnya kurang dari 100 orang) atau pasukan, beliau melakukannya di pagi hari. Begitu pula Shakhr seorang pebisnis terkenal, dia biasanya mengirim barang dagangannya di pagi hari, hingga kekayaannya semakin banyak dan melimpah.

Keempat: Mendoakan orang lain agar memperoleh keberkahan.

Mendoakan orang lain agar memperoleh keberkahan adalah cara terbaik untuk menghadirkan nilai tambah dan nikmat dari keberkahan tersebut. Misalnya kisah yang disebutkan dalam hadits dari Aqil bin Abu Thalib Radhiyallâhu Anhu, bahwa setelah dia menikahi seorang wanita, orang-orang pun datang menemuinya untuk mengucapkan ucapan selamat, mereka berkata, “Semoga rumah tanggamu harmonis dan memperoleh keturunan.” Lalu dia berkata, “Jangan memberi ucapan selamat seperti itu.” Mereka bertanya, “Lalu apa yang harus kami ucapkan wahai Abu Zaid?’ Dia menjawab, “Ucapkanlah, ‘Bârakallâh lakum wa bâraka alaikum (semoga Allah memberikan keberkahan kepada kamu dalam senang dan sulit)’. Seperti itulah yang diperintahkan kepada kami.” (HR. Ahmad)

Kelima: Menebarkan salâm.

Keberkahan akan diraih dengan membiasakan diri mengucapkan salâm yang merupakan identitas Islam dan umat ini, sebagaimana ditegaskan Allah Subhânahu wa Ta’âla firman-Nya,
﴿فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ﴾ [النور: ٦١]
“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) maka kamu hendaknya memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.” (Qs. An-Nûr [24]: 61)

Keenam: Jujur dan transparan dalam berbisnis dan transaksi apapun.

Keberkahan akan hadir dalam bisnis dan perniagaan jika dilakukan dengan penuh kejujuran dan transparansi. Karena Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam bersabda,
الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا -أَوْ قَالَ: حَتَّى يَتَفَرَّقَا-، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا، بُوْرِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا، مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا.
“Dua orang yang melakukan transaksi jual-beli memiliki hak menentukan pilihan selama belum berpisah —atau beliau bersabda: sampai mereka berdua berpisah—. Apabila kedua belah pihak jujur dan transaparan dalam transaksinya, maka jual beli mereka memperoleh keberkahan, namun jika kedua belah pihak tidak transparan dan tidak jujur, maka keberkahan pun dihapus dari jual beli mereka.” (HR. Al Bukhari & Muslim)

Ketujuh: Menjaga silaturrahim.

Silaturrahim adalah sumber keberkahan yang menambah produktifitas umur dan rezeki. Hal ini sebagaimana dijelaskan Nabi Shallallâhu Alaihi wa Sallam dalam sabda beliau,
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ.
“Siapa yang senang rezekinya dilapangkan dan umurnya dipanjangkan, maka sambunglah silaturrahim.” (HR. Al Bukhari & Muslim)

Kedelapan: Membangun persatuan dan kebersamaan serta membina hubungan yang harmonis.

Membangun hubungan yang harmonis dan persatuan merupakan salah satu cara meraih keberkahan. Karena itu, Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam sangat menganjurkan para sahabat agar selalu bersatu dan tidak berpecah belah dalam kondisi apa pun. Suatu ketika para sahabat bertanya,
يَا رَسُوْلَ اللهِ! إنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ، قَالَ: تَجْتَمِعُوْنَ عَلَى طَعَامِكُمْ أَوْ تَتَفَرَّقُوْنَ؟، قَالُوْا: نَتَفَرَّقُ، قَالَ: اجْتَمِعُوْا عَلَى طَعَامِكُمْ، وَاذْكُرُوْا اسْمَ اللهِ يُبَارَكُ لَكُمْ.
“Wahai Rasulullah! Sesungguhnya kami selalu makan tapi tak pernah merasa kenyang?!” Mendengar itu beliau bertanya, “Kalian biasa makan bersama-sama atau sendiri-sendiri?” Mereka menjawab, “Kami biasanya makan sendiri-sendiri.” Beliau bersabda, “Makanlah bersama-sama dan sebutlah nama Allah (sebelum makan), maka kalian pasti memperoleh keberkahan.” (HR. Ahmad)

Kesembilan: Peduli terhadap kelompok masyarakat miskin dan lemah.

Berbuat baik kepada kelompok masyarakat miskin dan lemah merupakan peluang emas bagi muslim yang ingin meraih keberkahan, karena Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam bersabda,
هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ.
“Kalian tidak ditolong dan diberi rezeki kecuali karena orang-orang lemah di antara kalian.” (HR. Al Bukhari)

Kesepuluh: Memakmurkan dan mengelola bumi berdasarkan hukum Allah.

Keberkahan akan hadir dalam sebuah negeri ketika bumi dimakmurkan dan dikelola berdasarkan hukum Allah, sebagaimana ditegaskan Allah Subhânahû wa Ta'âla dalam firman-Nya,
﴿وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾ [الأعراف: ٩٦]
“Sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, maka Kami pasti akan melimpahkan keberkahan dari langit dan bumi kepada mereka, namun (karena) mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al A’râf [7]: 96)

Semoga kita termasuk orang-orang yang diberkahi. Amin.

Komentar