Tips Mematahkan Nafsu Perut dari Imam Al-Ghazali

26766 medium post 35955 9f416a2a 514c 4479 ab06 edaacd976d5b 2018 06 15t17 37 29.592 07 00


Sumber dari segala dosa adalah nafsu yang berasal dari syahwat perut, dari situlah timbul syahwat kemaluan. Itulah yang disampaikan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin-nya. Menurut imam yang karya-karyanya kerap menjadi rujukan utama kaum muslimin ini, nafsu perutlah yang membuat Adam melanggar larangan Allah memakan buah khuldi sehingga dikeluarkan dari surga. Nafsu ini pulalah yang menyebabkan seseorang mencari dunia dan menyukainya.

Al-Ghazali menyampaikan, jika seseorang mampu meninggalkan nafsu perut ini, akan timbul kelembutan dan kerendahan hati pada dirinya, serta kesombonganpun akan tertolak. Ia pun mendapat faedah agar tidak melupakan orang yang mengalami musibah, tidak lupa siksaan serta akan mampu mematahkan syahwat-syahwat lainnya. Dengan itu ia dapat menguasai nafsu dan setan, lalu menaklukkannya. Dengan itu pula, ia jadi tahan untuk tidak tidur.

Mengutip perkataan seorang Syeikh, Imam Ghazali menulis, “Hai para murid, jangan makan banyak sehingga kamu banyak minum, lalu kamu tidur banyak dan rugi banyak.”

Menurut Al-Ghazali, rasa lapar akan membuat orang dapat tekun menjalankan ibadah. Maka siapa yang merasa kenyang, ia pun malas dari melakukan ketaatan. Banyak makan menyebabkan banyak persiapan, seperti mencari, memasak, mencuci tangan, membersihkan makanan di gigi, dan sering masuk ke kamar mandi untuk buang air.

Pada bulan Ramadan ini, kita diberi kesempatan berpuasa dan merakan rasa lapar dari fajar hingga petang. Ini merupakan peluang agar kita dapat mematahkan syahwat pada perut. Harapannya, tak hanya ketika Ramadan berlangsung, tetapi juga setelah Ramadan usai. Dalam bukunya, Imam Al-Ghazali juga memberikan cara latihan untuk mematahkan nafsu dari syahwat perut ini.

 

1. Mengurangi Makanan dengan Berangsur-angsur

Barang siapa beralih dari banyak menjadi sedikit secara sekaligus, rusaklah kondisinya. Hal ini ditekankan oleh Al-Ghazali karena seseorang harus mempertimbangkan keadaan dirinya dalam mengurangi porsi makanannya. Jika makan setiap hari tiga potong roti, maka kurang sepertigapuluh potong setiap harinya. Dalam sebulan akan berkurang sepotong dan dua bulan menjadi dua potong roti yang tidak akan memberatkannya. Cara ini dapat dilakukan hingga mencapai kadar makanan yang mencukupinya. Para shiddiqin merasa puas dengan kadar makanan yang menegakkan kehidupan dan akal.

“Makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan.” (Q.S. Al-A’raf [7]: 31)

 

2. Menentukan Cepat Lambatnya Makan

Selain mengurangi jumlah makanan, dapat pula dengan cara menentukan jangka waktu makannya. Al-Ghazali mengatakan, di antara murid-muridnya, ada yang lapar selama 3 hari dan ada yang melebihi 43 hari.

 

3. Menetukan Jenis Makanan

Lapar yang terpuji adalah yang tidak membuat lalai dari mengingat Allah. Apabila melampui batas, ia pun lalai, kecuali orang yang dikuasai syahwat yang besar sehingga melakukan itu untuk memuntahkannya. Al-Ghazali kemudian mengutip perkataan Jakfar Ash-Shadiq.

“Apabila timbul seleraku, aku melihat kepada diriku. Jika aku suka, aku pun memberinya makan dan itu lebih baik daripada mencegahnya. Jika seleranya sedikit dan ia menolaknya, maka aku menghukumnya dengan meninggalkan selera itu tanpa memberinya apa-apa. Ini adalah cara dalam menghukum nafsu atau selera (syahwat) ini.”

Siapa yang meninggalkan selera makan dan terjerumus dalam riya’ maka ia seperti orang yang lari dari kalajengking dan pergi kepada ular.

 

Itulah ketiga cara yang disarankan oleh Imam Al-Ghazali dalam menundukkan nafsu perut. Pendekatan yang ke arah pemahaman sufistik ala beliau kadang membuat kita mesti berpikir untuk mencernanya. Mari kita coba pahami dan praktikkan di bulan Ramadan ini! (Ed: EA)

 

(diolah dari buku Mukhtashar Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali)

salmanitb. com
Sudah dilihat 131 kali

Komentar