Tinggalkan Profesi Pelayar, Yahya Pilih Jadi Petani Hidroponik

27835 medium img 20180709 170641
Ponorogo - Ingin selalu dekat dan bersama keluarga, membuat Tantowi Yahya nekat meninggalkan profesinya sebagai pelayar. Dia pun memutar otak membuka usaha yang tetap bisa menjaga keluarganya dengan utuh.

Pria berusia 29 tahun ini pun akhirnya mencoba budidaya tanaman hidroponik. Dan usaha yang sudah dilakukan selama 4 tahun ini pun sedikit demi sedikit membuahkan hasil. Warga Jalan Parangmenang, Kelurahan Patihanwetan, Kecamatan Babadan, ini pun memantabkan hatinya menjadi petani.

Saat ditemui detikcom, tampak seorang pria tengah memanen bayam merah di depan rumahnya. "Hidroponik pun jadi pilihan utama karena keterbatasan lahan. Di sini selain bayam merah, ada bayam hijau, sawi, kailan, selada, kangkung, samhong, dakota dan caisin," tuturnya saat menyapa detikcom, Senin (9/7/2018).

Menurutnya, tanaman hidroponik memiliki kelebihan jika dibandingkan ditanam pada tanah. "Selain lebih bersih pun juga kita bisa mengontrol kandungan nutrisi yang disalurkan ke tanaman," terangnya.

Yahya menjelaskan kelebihan lainnya adalah masa panen yang lebih cepat. Contohnya saja bayam, jika ditanam di tanah membutuhkan waktu satu bulan. "Tapi kalau ditanam dengan sistem hidroponik hanya 3 minggu sudah bisa dipanen," ujarnya.

Yahya menambahkan dalam bertani hidroponik dia menggunakan konsep Nutrient Film Technique (NFT). Pada konsep ini air tidak menggenangi akar tetapi terus mengalir menggunakan pompa listrik. Sehingga akar tanaman cukup oksigen dan cepat panen.

Selain lebih cepat panen, sayuran bebas pestisida dan lebih renyah karena kaya kandungan air. Hal ini disebabkan nutrisi untuk tanaman tercukupi karena air yang digunakan sudah diberi pupuk Ab Mix. "Sebelum menambahkan pupuk saya ukur dulu menggunakan Total Dissolved Solids (TDS) meter," tegasnya.

Untuk pemasaran, lanjut Yahya, tidak begitu sulit. Pasalnya, saat ini masyarakat sudah tidak asing dengan sayuran hidroponik. "Dan kebanyakan memilih hidroponik dinilai lebih sehat, karena tidak disemprot pestisida," imbuh dia.

Demi meningkatkan jumlah pelanggan, Yahya mengaku setiap minggu berjualan di Car Free Day (CFD). Selain itu ia juga bekerjasama dengan komunitas hidroponik Mataraman Ponorogo untuk pemasaran. "Kami juga jual ke rumah makan yang ada di kota," tukasnya.

Harga jual untuk sawi pakcoy, samhong, dakota dan caisin dijual Rp 20 ribu per kilogram sedangkan selada Rp 20-30 ribu per kilogram dan untuk bayam merah, sawi pagoda dan kailan dijual Rp 25-30 ribu. "Kalau ditanya omzet, per bulan Rp 2-3 juta," pungkasnya. (fat/fat)

Komentar