Tiga Catatan di Akhir Ramadan.

Header illustration
SIAPA yang tidak mampu meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta (waktu berpuasa), maka Allah tidak membutuhkan lapar dan hausnya” (HR Al- Bukhari). Maha Agung Allah yang menggantikan malam kepada siang. Siang pun kembali menuju malam. Hari-hari beriring membentuk bulan. Dan bulan-bulan pun beredar menjadi tahun. Semua nikmat dan berkah-Nya seperti berkumpul pada satu puncak bulan: Ramadan.

”Ada tiga catatan yang patut kita garis bawahi selama menikmati Ramadan tahun ini,” kata Ketua Tanfidziyah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Limpung, Batang, Ahmad Syaichur Rozi, kemarin.

”Pertama, seliar apa pun nafsu kita, ia bisa didewasakan. Ramadan adalah tarbiyah khusus buat nafsu kita. Di luar Ramadan, mungkin nafsu bisa mendikte apa dan siapa pun. Di balik tuntutan lapar, ia bisa saja menciptakan seribu satu dalih agar orang mencuri.

Ia juga bisa mengelabui orang hingga terjebak pada zina. Di balik tuntutan istirahat, ia pun mampu mengungkung orang menjadi penyantai dan pemalas.” Menurut Takmir Masjid Besar Nurul Huda Limpung, Batang, hal itu Allah Swt menghadiahi shaum agar seorang mukmin bisa mendewasakan nafsu.

Hingga nafsu tidak lagi seperti anak kecil yang bisa dapat apa pun ketika merengek dan menuntut. Nafsu harus dipaksa untuk menjadi dewasa. Semoga Tarbiyah Rabbaniyah di bulan Ramadan ini telah mendewasakan nafsu kita. Sehingga, setelah Ramadan nanti kita bisa mengendalikan nafsu kita.

Bisa Dibersihkan

”Kedua, sekotor apa pun jiwa kita, ia bisa dibersihkan. Jangan pernah membayangkan kalau yang di dalam tak tersentuh kotoran. Alur hidup persis seperti aliran air dalam pipa-pipa. Ada yang masuk, mengalir, dan berproses hingga menjadi keluaran.

Kian kotor masukan, makin banyak endapan yang melekat pada bagian dalam pipa. Suatu saat pipa bisa keropos. Ini akan berpengaruh pada keluaran yang dihasilkan,” jelasnya. ”...dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah Swt mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sungguh beruntung yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh merugi yang mengotorinya”(QS. 91: 7- 10).

Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung karena telah berusaha membersihkan jiwa kita selama Ramadan. ”Ketiga, sepicik apa pun ego kita, ia bisa dicerdaskan. Kadang manusia bangga berdiri di atas egonya. Seolah ia mengatakan, ”Inilah saya!” Nalar berikutnya pun bilang, pusatkan semua kekuatan diri demi kepuasan ego.

Walau sebenarnya keakuan itu sudah melabrak nilai-nilai ketinggian Islam.” Menurut kiai kelahiran Batang 18 Juni 1976 ini, ego bisa ditundukkan dengan memperbanyak sujud. Itulah di antara makna qiyamul lail. Ketika sendiri, kemuliaan ego melalui simbol kepala secara terus-menerus disejajarkan dengan bumi.

Ego dipaksa untuk melihat kenyataan diri bahwa ia hanya seorang hamba. Semoga Tarbiyah Rabbaniyah di Ramadan ini telah mengembalikan kita kepada kesadaran bahwa kita hanyalah seorang hamba yang tugas utamanya adalah menyembah Allah Swt. Tidak lebih. 

kanal berita
Sudah dilihat 52 kali

Komentar