TEMAN BARU

32358 medium 20180908 180441 1
Teman Baru
Sebulan yang lalu, kami kedatangan pengungsi korban gempa dari Lombok Timur. Tepatnya berasal dari Desa Dames Kecamatan Pringgabaya. Lima belas jiwa yang berasal dari lima kepala keluarga itu, berangkat dari desa Dames menuju ke kampung kami di Dusun Perine Lauq Desa Perina Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah, dengan tujuan mengungsi ke rumah saudaranya, kebetulan saudaranya itu adalah tetangga dekatku, jadilah mereka tetangga baruku.
Semua korban gempa selalu menimbulkan rasa iba bagi semua orang, walaupun pengungsi yang kini menjadi tetangga baruku itu termasuk korban yang beruntung, dalam artian yang menjadi korban hanya harta benda berupa rumah dan isinya, sedangkan seluruh anggota keluarganya selamat tanpa luka sedikitpun bahkan mobilnya yang selalu diparkir dihalaman rumahpun masih utuh.
Masih kuingat ketika malam itu tepatnya minggu malam tanggal lima agustus kemarin, ketika lututku masih terasa gemetar dan kami sekeluarga berada di halaman rumah, menggelar tikar dan siap tidur beratap langit. Bagaimana tidak pada malam itu terjadi gempa darat berkekuatan tujuh magnitudo yang perpusat di delapan belas kilometer barat laut Lombok Timur, kami yang berada di Lombok Tengah merasakannya cukup keras. Pada malam itu setelah beberapa jam kejadian gempa itulah, kulihat rombongan orang-orang dewasa dan beberapa anak kecil masuk kekampungku, rupanya mereka tidak perlu menunggu pagi untuk keluar dari kampung halaman, mencari tempat yang aman. Rombongan pengungsi yang hanya membawa pakaian yang melekat dibadan itu memilih kampung kami sebagai tujuan dengan segudang harapan bahwa disinilah keamanan akan didapat setelah berminggu-minggu diguncang dengan guncangan yang tidak kecil. Muka pucat dan bias kelelahan nyata terlihat dari raut wajah mereka, bukan karena mengingat rumah yang sudah rata dengan tanah dan entah kapan akan bisa tegak kembali, namun mungkin karena guncangan bumi yang telah merampas nyalinya dan memicu degup jantungnya, namun kenyataanya di tempat pengungsian juga, ternyata guncangan itu di rasakan juga walaupun memang tak sehebat di kampung halamannya sendiri.
Yang menyita perhatianku adalah enam orang anak usia PAUD dan SD yang menjadi bagian dari pengungsi itu. Awalnya mereka sulit kudekati, kurasa trauma itu yang menjadikan mereka tidak pernah mau beranjak dari sisi orang tuanya, sehingga aku kesulitan mendekati dan mengajaknya bermain. Namun lambat laun ternyata mereka berhasil mengalahkan takutnya dan mulai berusaha berdamai dengan kondisi ini. Setiap hari mereka bermain dirumahku, kusuguhkan buku-buku bacaan dengan harapan, hal ini bisa mengobati rindunya pada bangku sekolah. Sore hari kuajak mereka ikut belajar di TPQ di desaku dan malam hari kutemani mereka membaca Al-Qur’an bersama anak-anak lainnya. Kutemani juga mereka bermain disela-sela waktu luangku. Lambat laun ternyata senyum itu mulai tampak, merekah dan membuatku terharu, bahkan jatuh cinta, terlebih ketika dengan senyum manisnya, empat orang dari mereka datang kepadaku dan mengatakan bahwa mereka setuju dengan usulku tempo hari, kalau sebaiknya mereka ikut sekolah di kampungku sementara waktu mereka bisa kembali ke kampung halamannya.
Waaahhh…indahnya, kini kalian adalah teman baruku, tapi maafkan aku kawan yang hanya mampu menemanimu sekedar mengusir trauma itu, seharusnya sebagai teman yang baik aku akan memberikan yang lebih dari itu, tapi saat ini aku hanya bisa mengatakan, “bersabarlah kawan, semua yang berawal itu pasti berakhir, yakinlah bahwa musibah itu akan mempertemukan kita dengan anugerah, tentu itu membutuhkan kesabaran dan keikhlasan menerimanya sebagai bentuk kasih sayang yang Maha Rahim”.

Perina Kampung Naga, Menikmati sore dengan teman baru (09/09/18)

Sudah dilihat 99 kali

Komentar