Sulawesi Tengah: Membangun di Wilayah Pusaran Bencana

63203 medium post 68242 e7bae635 d57f 4552 b306 2a0724b88fc9 2019 06 06t18 36 55.944 08 00
Membangun dan Bencana adalah wujud dari dua aktivitas yang dampaknya antagonis atau saling bertolak belakang. Membangun akan berdampak kepada manfaat, sedangkan bencana lebih kepada kerugian dan kehancuran. Menjadi pertanyaan kemudian bagaimana skenario atau strategi membangun di wilayah yang notabenenya berada di pusaran bencana.

Sulawesi Tengah

Sulawesi Tengah (Sulteng) adalah provinsi bercirikan kepulauan yang terdiri dari 13 kabupaten/kota. Pada satu sisi wilayah ini memiliki sumber daya alam yang sangat menjanjikan dalam hal penyediaan pangan, energi, tambang dan destinasi wisata, namun disisi lain wilayah ini berada di pusaran bencana.

Ada dua tipe bencana yang sering mengancam wilayah ini, yaitu pertama karena “takdir atau suratan” dan kedua karena ulah manusia.

Tipe bencana yang pertama merupakan bawaan, dikarenakan Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng dunia yaitu Eurasia, Indoaustralia dan Pasifik dan disebut dengan istilah wilayah Tapak Kuda atau Ring of Fire Indonesia, yaitu wilayah yang rentan dengan gempa yang ikutannya tsunami dan likuefaksi serta bencana letusan gunung api.

Berdasarkan peta kebencanaan, sebagian dari Sulawesi Tengah wilayahnya berada di lintasan Tapak Kuda, sehingga sering mengalami gempa yang berulang akibat aktivitas patahan atau sesar Palu-Koro.

Hasil penelitian Mudrik Rahmawan Daryono dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sejak 2011 lalu, menunjukkan bahwa gempa bumi dengan kekuatan besar di atas 7,0 magnitudo akibat patahan Palu-Koro telah terjadi di tahun 1285, 1415 dan kemudian tanggal 28 September 2018 baru lalu yang menyebabkan kerugian dan korban jiwa yang besar. Selain itu juga diinformasikan pernah terjadi gempa dengan kekuatan yang lebih kecil, namun berdampak yaitu di tahun 1907, 1909, dan tahun 2012.

Tipe kedua adalah bencana akibat ulah manusia yang tidak terkendali seperti pembukaan hutan untuk kegiatan perkebunan, pertanian dan pertambangan atau kepentingan lainnya; penyempitan Daerah Aliran Sungai (DAS); serta berkurangnya wilayah serapan.

Bencana ini baru saja dialami oleh kabupaten Sigi secara berturut-turut di bulan April dan Mei 2019 dan sebelumnya juga dialami oleh Kota Palu, Kabupaten Tolitoli, Morowali, Parigi Moutong dan sejumlah kabupaten lainnya yang datangnya terus berulang.

Berdasarkan kejadiannya, maka kita tidak dapat mengatasi bencana tipe pertama, hanya bisa menyesuaikan atau adaptif dengan keberadaanya. Sedangkan tipe bencana kedua dapat dikendalikan dan dikelola, tinggal bagaimana melakukan penataan wilayah hulu dan hilir.

Karena itu diperlukan sebuah skenario atau strategi membangun di wilayah yang berada di pusaran bencana. Kehadiran pusat studi kebencanaan di Sulawesi Tengah tentunya menjadi salah satu syarat utama.

Ubah Menjadi Kekuatan

Jepang adalah negara dengan tingkat kebencanaan gempa dan tsunami yang tinggi. Proses yang berulang dari bencana itu dilengkapi dengan kekalahan perang, dari tentara Sekutu oleh jatuhnya bom atom di Hirosima dan Nagasaki membuat masyarakat Jepang menjadi disiplin, komitmen, mau belajar serta konsisten.

Masyarakat Jepang patuh dengan “wilayah merah” yang telah terpetakan untuk tidak melaksanakan pembangunan, mereka patuh mengikuti aturan desain konstruksi anti gempa. Mereka telah terbiasa dengan proses mitigasi bencana bila musibah itu datang. Kebiasaan-kebiasaan ini membuat masyarakat Jepang memiliki Etos dan budaya kerja yang baik, sehingga wajar kalau saat ini, Jepang telah menjadi negara maju di hampir di semua aspek kehidupan.

Mengacu dari realitas di atas, maka Sulawesi Tengah dapat belajar dan mendalami serta menjadikan referensi bagaimana strategi Jepang membangun negaranya yang juga berada di Pusaran Bencana seperti Sulawesi Tengah.

Ke semua ini tentunya berpulang kepada pemimpin dan masyarakatnya bagaimana mengubah tantangan menjadi sebuah kekuatan untuk kemudian bermuara kepada terwujudnya sumber daya manusia yang produktif.

Butuh Penerobos Batas

Mengubah tantangan menjadi sebuah kekuatan diperlukan pemimpin yang mampu menerobos batas, pemimpin yang mampu melihat apa yang ada di balik bukit sehingga akan menjadi pemimpin yang produktif.

Paling tidak ada lima kriteria untuk menjadi pemimpin seperti itu diantaranya adalah update, adaptif, inovatif, demokratis dan tegas.

Sang penerobos batas harus “sedikit tau dari yang banyak” bukan “banyak tau dari yang sedikit”, sehingga memiliki mindset lebih terbuka untuk menggunakan sejumlah tenaga ahli dalam menyusun roadmap, menggunakan sejumlah ahli dan praktisi dalam hal transformasi inovasi.

Sebuah artikel di harian Kompas minggu lalu menulis bahwa: “Produktif dimulai dengan cara berpikir”. Cara berpikir yang dimaksud adalah seperti yang telah di ulas di atas tahun 2020, Provinsi Sulawesi Tengah akan melaksanakan pesta demokrasi dalam rangka memilih kepala daerah dimulai dari memilih pasangan Gubernur-Wakil Gubernur, Walikota dan Bupati. Ke semua ini akhirnya berpulang kepada masyarakat yang memilihnya.

Harapan dari sejumlah pihak bahwa kepala daerah yang terpilih tentunya adalah kepala daerah “Sang Penerobos Batas” yang mampu berlari dengan langkah sama bersama seluruh stakeholder terkait yaitu Masyarakat, Pelaku Usaha dan Pemerintah.

Dengan demikian tujuan mengejar ketertinggalan untuk Sulawesi Tengah yang lebih Kuat, Maju dan Mandiri dapat direalisasikan. Tidak lagi terperangkap dengan tujuan sekadar terpilih. Semoga

sumber : kumparan.com
Penulis: Hasanuddin Atjo (Ketua Ispikani Sulawesi Tengah)
Sudah dilihat 54 kali

Komentar