Suara Penyintas Bencana Palu yang Terancam Diusir: Kami Harus ke Mana?

23 July 2019, 9:59
3 1 39
Gambar untuk Suara Penyintas Bencana Palu yang Terancam Diusir: Kami Harus ke Mana?
Pemerintah Kota Palu hendak mengeluarkan 19 warga dari bilik hunian sementara (huntara) di Jalan Asam III, Kelurahan Kabonena, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu. Sebab, 19 orang itu dianggap hanya tinggal di kos-kosan atau rumah kontrak sebelum bencana 28 September 2019 menerjang.

PaluPoso kembali menyambangi huntara yang dihuni 160 jiwa itu pada Selasa (23/7). Tujuan kami adalah bertemu langsung dengan para penyintas yang hendak dikeluarkan dari huntara itu.

Pertama, kami bertemu dengan Risna (36), yang saat ditemui sedang mencuci pakaian. Sebelum bencana terjadi, ia dan suaminya tinggal di kos-kosan di Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat. Setelah tsunami menghancurkan rumah kontrakannya itu, ia dan suami sempat tinggal di shelter pengungsian Masjid Agung Kota Palu.

"Setelah tsunami menghancurkan kos-kosan yang kami tempati, bersama warga lainnya kami tinggal di tenda pengungsian di halaman Masjid Agung selama sembilan bulan. Pemerintah tidak mengetahui penderitaan kami di tenda pengungsian. Hujan, panas kami yang rasakan. Makan pun seadanya," ujarnya sambil terisak dan meneteskan air mata.

Sembilan bulan kemudian, wanita yang berasal dari Pantai Timur, Kabupaten Parigi Moutong, itu diarahkan oleh pemerintah untuk tinggal di huntara Jalan Asam III, bersama dengan 18 penyintas lainnya.

"Sudah dua bulan lebih kami tinggal di huntara. Selama itu tidak ada bantuan yang saya dapatkan. Terpaksa beras yang sudah tidak layak kami makan demi menyambung hidup. Sementara suami hanya kerja serabutan saja. Sehari kadang hanya sekali makan untuk menghemat beras," ujarnya pilu.

Usai Pemerintah Kota Palu berencana mengeluarkan mereka pada Selasa (23/7), Risna mengaku bingung harus tinggal di mana lagi setelahnya.

"Bila pemerintah mengeluarkan kami dari huntara, saya tidak tahu mau tinggal di mana lagi. Jangankan uang, kebutuhan makan sehari-hari saja kami saling berbagi sesama penghuni huntara. Apakah kami orang kecil seperti ini tidak diperhatikan pemerintah yah?" katanya.

Masih di lokasi huntara Jalan Asam III, PaluPoso kemudian menyusuri lokasi yang kontur tanahnya berbukit tersebut. Kemudian, bertemulah kami dengan Sri Rahayu (25).

Wanita yang sedang hamil delapan bulan lebih itu menuturkan, dia bersama suami dan seorang anaknya yang berusia enam tahun sebelumnya tinggal di Rusunawa Kelurahan Lere. Gempa bumi 28 September 2018 menghancurkan Rusunawa itu.

Seperti Risna, Sri dan keluarganya juga sempat tinggal di shelter pengungsian Masjid Agung Kota Palu.

"Kurang lebih sembilan bulan kami tinggal di tenda pengungsian Masjid Agung, setelah gempa bumi merusak Rusunawa yang kami tempati," jelasnya.

Sri Rahayu menjelaskan sudah dua bulan belakangan ini dia bersama suami dan anaknya tinggal di huntara Jalan Asam III.

"Saat ini suamiku berada di Kabupaten Poso untuk bekerja. Hanya saya dan anakku saja yang tinggal di huntara. Sementara saya hamil tua. Kalau memang pemerintah mengeluarkan saya dari tempat ini, kami tinggal di mana lagi," ujarnya sambil terisak.

Sri Rahayu sangat berharap agar pemerintah mempertimbangkan kembali keputusan untuk mengeluarkan ia dan beberapa pengungsi lain dari huntara Jalan Asam III. Sang suami kini tidak ada di sisinya, ia pun tidak tahu ke mana lagi mencari tempat tinggal.

"Saya tidak tahu lagi mau ke mana harus tinggal jika saya sudah dikeluarkan dari huntara. Mana saya lagi hamil besar. Suamiku tidak ada di sampingku. Mohon kepada pemerintah untuk memperhatikan nasib saya dan pengungsi lainnya," ujarnya.

sumber : kumparan.com

  1 Komentar untuk Suara Penyintas Bencana Palu yang Terancam Diusir: Kami Harus ke Mana?

Masuk ke akun AtmaGo kamu untuk ikut memberi komentar!

Masuk  atau  Daftar