SIPENA

48786 medium post 55283 40040c55 2914 46a1 a1e5 4a83f279f0d8 2019 02 03t21 47 57.469 08 00 48788 medium post 55283 c57441cf db79 4c39 af53 4b493d8e375a 2019 02 03t21 47 59.755 08 00 48787 medium post 55283 1e1e56ea 4272 4b3c b1a1 0932457d4153 2019 02 03t21 47 58.446 08 00
Ada banyak tugas yang tersisa setelah Lombok beranjak kondusif bahaya bencana (gempa). Banyak tugas yang harus diselesaikan. Banyak hal yang harus diperbaiki, diganti dan dilanjutkan. Prosesnya dapat dengan cara konvensional atau melalui pendekatan baru sesuai kondisi masyarakat saat ini. Tentu dengan satu tujuan utama untuk mengkondusifkan suasana. Termasuk mengebalikan masyarakat ke tempat dan kondisi seharusnya.

Secara umum masyarakat memahami bahwa bencana yang dapat terjadi hanya berupa bencana alam. Di tengah hirup pikuk proses recovery, mereka lupa bahwa ada bencana lain yang mengancam. Ya, bencana non-alam dan juga social disaster. Tiga jenis ini ibarat tali dengan dua ujung yang sama, terhubung satu dengan yang lainnya. Hanya berbeda simpul. Ketika bencana alam terjadi, dengan sendirinya akan menjadi pemicu bencana non alam. Selanjutnya menstimuli lahirnya bencana sosial.

Di Kabupaten Lombok Utara, tarik ulur pembahasan tentang kemungkinan tersebut sudah dilakukan sejak beberapa waktu lalu. Asumsi yang dominan berkembang adalah masyarakat hanya dapat bertahan ketika bencana terjadi. Seolah khilaf bahwa causa prima dari bencana sesungguhnya adalah manusia itu sendiri. Jadi, untuk meminimalisir dampak dan korban bencana pun harus diupayakan oleh manusia itu sendiri.

Dengan landas konsep pikir itu, sejatinya upaya-upaya praksis harus dilakukan. Berbicara bencana tidak akan selesai hanya di tataran konsep. Salah satu bidang yang selama ini jarang disentuh dalam membahas kebencanaan adalah dunia pendidikan. Padahal jika dilihat dari dampak bencana, dunia pendidikan adalah korban terbanyak dilihat dari banyak aspek.

Pemahaman mitigasi menjadi sangat urgen. Harus ditanam-tekankan kepada anak sejak dini. Targetnya adalah minimal anak-anak dapat menyelamatkan diri sendiri ketika bencana terjadi. Pilihannya adalah, mengaktifkan siswa untuk memahami berbagai hal tentang bencana. Hal inilah kemudian yang membidani lahirnya SIPENA (SISWA PEKA BENCANA) di Kabupaten Lombok Utara.

Deklarasi kehadiran SIPENA Kabupaten Lombok Utara sekaligus simulasi awal penanganan bencana sudah dilakukan per tanggal 2 Februari 2019 lalu. Inovasi ini diapresiasi positif oleh Bupati Lombok Utara yang kemudian melantik pembina dan pengurus SIPENA di Pantai Sira. Dalam moment tersebut Bupati (Dr. Najmul Ahyar, SH.,MH) menitipkan pesan agar siswa KLU menjadi siswa yang tangguh, tanggap dan peka terhadap situasi apa pun. Terlebih saat ini. Generasi Lombok Utara adalah GENERASI TANGGUH !!!
Sudah dilihat 125 kali

Komentar