server PPDB online Bekasi sempat offline

Header illustration
Ketidakberesan kembali terjadi pada sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Online 2018 di Kota Bekasi. Baru dua hari berjalan, server penerimaan siswa SMP negeri di kota itu mendadak offline. Akibatnya, para orang tuanya harus menunggu lama agar bisa meng-update pendaftaran anaknya.

”Padahal sehari sebelumnya saya sudah daftarkan anak saya ke sekolah negeri melalui PPDB online. Tapi hari ini, Rabu (4/7) saya belum bisa melihat statusnya lagi, karena sistem PPDB online offline,” terang Saiful, salah satu orang tua yang mendaftar anaknya ke SMP Negeri 33 Bekasi, Rabu (4/7).

Maksud Saiful dengan sering membuka server dirinya ingin mengetahui peringkat anaknya usai mendaftar PPDB Online tersebut. Apakah masih aman atau kalah nilai dengan siswa lain yang juga sudah mendaftar. Tapi sayangnya, server PPDB online belum update melainkan masih mengelola data sehari sebelumnya.

Senada juga dialami Samih, 37, calon orang tua siswa asal Kecamatan Bekasi Selatan yang tidak bisa mendaftarkan sang anak ke SMP Negeri 12 Pekayon ke PPDB online pada Selasa (3/7) lalu. ”Saya tidak bisa mendaftarkan anak jadinya, karena aturannya berubah dari tahun lalu,” terangnya.

Dia bercerita, tahun lalu pendaftaran lewat PPDB online bisa dilakukan secara kolektif oleh sekolah asal. "Tapi sekarang tidak boleh. Harus sendiri,” katanya. Padahal, ujarnya juga, tidak semua orang tua bisa mengakses situs PPDB Online.

Seperti diketahui, PPDB Online 2017 lalu juga banyak kejadian serupa dialami warga saat mendaftarkan anaknya ke SMP negeri melalui online. Akibat sejumlah gangguan itu, sistem PPDB online 2017 lalu terpaksa ditunda untuk beberapa waktu.

Peristiwa itu terjadi pada 3 Juli 2017 di SMP Negeri 21 membuat ratusan orang tua siswa harus menunggu beberapa waktu mendaftarkan anaknya saat sistem online dibuka kembali. Penyebabnya, kisruh terkait penambahan rombongan belajar (rombel)

Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bekasi saat itu beralasan masih menunggu surat balasan berupa izin dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) atas penambahan jumlah rombongan belajar (rombel).

Bermasalahnya sistem PPDB online tingkat SMP negeri menuai berbagai komentar miring. ”Masalah di PPDB online tingkat SMP ini seperti penyakit tahunan yang tidak pernah selesai,” terang Pengamat Pendidikan dari LSM Sapulidi, Kobul Imam, Rabu (4/7).

Imam menjelaskan, faktor yang paling sering terjadi saat PPDB online adalah masalah server. Seharusnya server yang dipihak ketigakan itu di maintance setiap hari, bukan setahun sekali. ”Padahal bayar server ke pihak ketiga itu dibayar 12 bulan. Tapi cuma satu bulan dipakainya sudah tidak beres,” ujarnya.

Selain itu kata Imam juga, petunjuk dan teknis PPDB online seharusnya disosialisasikannya enam bulan sebelum pelaksanaan digelar. Sehingga warga bisa melakukan persiapan saat mendaftarkan anaknya masuk SMP negeri. Tapi kenyataannya baru dilaksanakan bersamaan dengan waktu PPDB online.

”Jadi mendadak sekali sosialialisasinya. Kasihan kan ada anak lulusan SD yang cerdas tapi tak bisa masuk SMP negeri karena terkendla masalah ketidaktahuan cara pendaftaran,” cetusnya.

https://www.indopos.co.id
Sudah dilihat 44 kali

Komentar