Semangat Bangkit Jamaah Masjid Al Bayani Setelah Gempa

40566 medium albayani
Masjid Al Bayani yang berada di Dusun Karang Pendagi desa Gondang menjadi salah satu bukti bagaimana dahsyatnya gempa bumi berkekuatan 7 SR, 5 Agustus 2018 yang meluluhlantakkan Kabupaten Lombok Utara. Bangunan yang selalu ramai oleh jamaah yang tidak hanya dari dusun Karang Pendagi tapi juga dari dusun Karang Anyar ini ambruk rata dengan tanah, menimpa beberapa jamaah yang sedang melaksanakan shalat Isya berjamaah. Bangunan yang memiliki tiang dari kayu ini tidak mampu menahan getaran gempa. Tercatat 3 orang jamaah syahid di tempat ini tertimpa bangunan saat berusaha menyelamatkan diri. Jamaah yang meninggal tersebut berasal dari dusun Karang Anyar 2 orang dan satu orang dari dusun Karang Pendagi.
Pada saat kejadian, beberapa orang langsung berhamburan keluar Masjid, menyelamatkan diri, ada yang memilih bertahan dengan memeluk tiang-tiang kayu, serta berlari ke mimbar Masjid. Bangunan yang seyogyanya dapat menahan gempa karena mempunyai bahan baku kayu ini tidak mampu menahan dahsyatnya gempa 7,0 SR tersebut. Tiang kayu dan plafon ambruk seketika menimbulkan suara gemuruh yang mengerikan. Arah ambruknya seperti disengaja karena menghadap kiblat seperti sedang sujud kehadirat Ilahi.
“Suasana sangat mencekam malam itu, karena langsung diiringi dengan suara gemuruh bangunan yang ambruk dan listrik padam,” ungkap Suyanto salah seorang jamaah Masjid Albayani ini. “Kita tidak memikirkan siapa-siapa, yang penting bagaimana kita bisa selamatkan diri dulu,” tambahnya.
Cerita haru juga terjadi di tempat ini, dimana seorang bocah kelas 3 SD yang disangka sudah tewas oleh orang tuanya berhasil selamat, setelah sebelumnya anak ini kebingungan harus berlari kemana menyelamatkan diri. Bapaknya yang kebetulan saat kejadian belum berada di Masjid tapi masih diperjalanan untuk mengejar shalat Isya berjamaah di Masjid ini, sangat panik menyaksikan masjid yang ambruk, sementara anaknya masih berada di dalam. Dalam hati bapak ini sudah pasrah ketika melihat bangunan Masjid yang sudah rata dengan tanah. Suara tangisan dan teriakannya mencari anaknya bercampur riuh bersama teriakan tangisan jamaah lain mencari keluarga yang terjebak di reruntuhan Masjid. Beberapa saat mencari tetap tidak ia temukan. Dalam hati sambil kembali ke rumah ia bingung harus menjelaskan apa ke istrinya. Ia belum mampu dan belum siap mengatakan jika anak mereka menjadi korban gempa.
Dengan langkah gontai dia pulang, berpikir keras merumuskan kalimat pas menjelaskan ke sang istri. Alangkah terkejut dan terharunya ketika melihat istri dan anaknya berangkulan yang disangka sudah tiada. Tangis haru tumpah dalam pelukan keluarga. Tanpa henti-hentinya ucapan Alhamdulillah terlontar dari bibir yang diiringi goyangan-goyangan dari sang lindu. Kesyukuran atas masih diberinya kesempatan mendidiknya menjadi anak yang soleh dan berguna bagi bangsa dan agama.
Diketahui yang menyelamatkan jiwa anak itu merupakan salah satu jamaah Masjid Al Bayani ini. Secara lugas ia menjelaskan kronologi kejadiannya berlangsung sangat cepat dan spontan.
“Saat itu kita dalam posisi ruku’ pada rakaat kedua, tiba-tiba gempa sangat besar bergetar membuat kita hilang keseimbangan,” jelas laki-laki yang kesehariannya sebagai pembuat tahu ini. “Untuk menyelamatkan diri saja kita sangat kesulitan, apalagi menyelamatkan orang lain. Kuasa Allah masih memberi kekuatan, meskipun dalam kondisi seperti itu saya bisa menyelamatkan anak itu,” tambahnya.
Setelah kejadian itu, total tidak ada aktivitas di tempat ini, yang ada hanya bongkahan dan puing-puing kayu menjuntai berserakan tidak karuan, dinding-dinding pagar amblas tidak bersisa, genteng berserakan, dan lantai-lantai retak tidak terurus ditinggal jamaah mengungsi beberapa waktu.
Namun situasi itu tidak berlangsung lama, bangunan tempat ibadah yang hancur itu kini dalam tahap pembangunan kembali oleh warga dan donator. Mereka yang peduli terhadap iman para korban secara gesit dan sigap membangun kembali tempat ini. Walau belum seratus persen rampung, lantunan azan yang beberapa waktu tidak terdengar, kini menggema kembali menggugah hati menghadap sang Khaliq, shalawat-shalawat dikumandangkan ke Junjungan Alam, jamaah-jamaah yang dulu trauma kini perlahan-lahan kembali mengisi saf-saf shalat. Dengan wajah baru masjid Al Bayani, Insyaallah semangat baru untuk terus menyalakan cahaya-cahaya agama di tempat ini akan tetap ada, demi kehidupan dunia wal akhirat yang hasanah,,Amiin.
Sudah dilihat 247 kali

Komentar