SEKOLAH LAPANG PERTANIAN KONSERVASI

40843 medium img 0492

Pemanasan global telah menyebabkan perubahan iklim yang berdampak pada meningkatnya tekanan lingkungan dalam bentuk iregularitas ketersediaan air karena kekeringan dan banjir; degradasi lahan oleh erosi dan pengikisan bahan organik dan mineral tanah; perubahan praktik-praktik pertanian seperti pola tanam, ancaman terhadap kesinambungan produktifitas tanaman, baik itu yang menyangkut kuantitas maupun kualitas, serta perubahan dalam diversifikasi tanaman. Hal ini diramalkan akan mengancam kelangsungan produksi pangan di dunia maupun di Indonesia dalam jangka panjang.
Para ahli telah mengajukan kerangka mitigasi terhadap emisi GRK. Untuk sektor pertanian, International Panel on Climate Change (IPCC) telah merekomendasikan beberapa langkah penting dengan menggunakan teknologi maupun praktik yang saat ini tersedia. Langkah-langkah itu antara lain: memperbaiki manajemen lahan pertanian dan ladang penggembalaan untuk meningkatkan penyimpanan karbon di tanah; restorasi lahan gambut dan lahan yang telah rusak.
Memperbaiki teknik-teknik budidaya tanaman padi, manajemen di bidang peternakan dan pemupukan untuk mereduksi emisi gas metan; serta memperbaiki teknik aplikasi pupuk nitrogen untuk mengurangi emisi gas nitrat. Menggunakan energi berbasis tanaman untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil; dan memperbaiki efisiensi energi.
Teknologi dan praktik-praktik seperti itu terangkum dalam konsep Pertanian Berkelanjutan (Sustainable Agriculture), yang pada tingkat implementasinya terjelma di dalam praktik pertanian konservasi (Conservation Agriculture).
Pertanian konservasi yang memperkenalkan olah tanah konservasi, dalam bentuk olah tanah minimum, tanpa olah tanah dan pemanfaatan mulsa. Ini ternyata telah diterapkan pada kurang lebih 100 juta hektar lahan pertanian di dunia, terutama di Amerika Selatan, Amerika Utara serta beberapa negara Afrika. Namun laju adopsi olah tanah konservasi ini melambat dalam satu dekade terakhir ini. (media Tani)
Dari keterangan diatas dampaknya juga sangat dirasakan oleh para petani diwilayah Nusa Tenggara, baik NTB maupun NTT.
3 lembaga mitra WN (World Neighbors) diwilayah Lombok pada khusunya, yaitu Berugak Dese, LPSDM dan PSP-NTB telah memetakan beberapa wilayah yang akan dijadikan model pertanian konservasi terutama desa-desa dampingan program. Namun sebelum turun kelapangan untuk melakukan pelatihan dan praktik kepada kelompok tani dan masyarakat, tentu semua juga membutuhkan penguatan kapasitas terutama petugas lapangan yang nantinya berhadapan langsung dengan para petani.
Untuk keperluan tersebut, lembaga mitra WN yang berasal dari NTT yaitu YMTM menugaskan 2 orang pengurus untuk memberikan penguatan kapasitas kepada 3 lembaga yang ada di Lombok. Tujuan utama dari pertemuan ini adalah, agar semua mitra WN memiliki pengetahuan dan kemampuan yag setara. YMTM merupakan salah satu lembaga di NTT yang memiliki pengalaman yang cukup lama dalam memfasilitasi kelompok tani dalam penerapan pertanian konservasi diwilayahnya dan sangat berhasil. Penguatan kapasitas yang dilaksanakan pada hari senin, 26 Nopember 2018 bertempat di Aula Sekretariat Berugak Dese merupakan rangkaian dari kegiatan yang akan dilaksanakan selama tiga hari. Selain anggota lembaga, hadir juga perwakilan dari kelompok tani desa dimana akan dilaksanakan sekolah lapang pertanian konservasi dan sekaligus sebagai tempak pelaksanaan praktik pertanian konservasi yang akan dilaksanakan selama dua hari, yaitu desa Tanak Beak dan juga desa yang akan menjadi dampak langsung dari kegiatan tersebut yaitu kelompok tani dari desa Karang Sidemen.
Sebelum acara dimulai, Lalu Saprudin selaku direktur Berugak Dese memberikan kata sambutan dan penerimaan kepada semua yang hadir dan dilajutkan dengan pengarahan serta pembukaan oleh Bapak Putra Suardika selaku pimpinan WN.
Sudah dilihat 73 kali

Komentar