Sekolah Kebhinekaan III Upaya Menjaga Toleransi

67371 medium post 71723 55acbe77 7e45 430a a651 d1bf796e9aae 2019 07 20t19 15 31.237 07 00 67372 medium post 71723 bf76fe80 01fe 444a b896 66c3761f13a1 2019 07 20t19 15 31.841 07 00
Wonosari, atmaGo
Paritas Institute kembali melaksanakan lokakarya Penggerak Perdamaian untuk anak-anak muda lintas iman. Kali ini kegiatan pelatihan dilaksanakan di Gunung Kidul, 18-19 Juli 2019. Kegiatan ini menurut Direktur Paritas Institute Penrad Siagian, dilaksanakan sebagai upaya membangun sistem dan mekanisme pertahanan diri berbasis komunitas dari masyarakat sipil lintas iman atas semakin suburnya radikalisme yg berbasis SARA dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita.
Bangsa ini berdiri di atas kemajemukannya, kemajemukan baik suku, agama, etnik dan lain-lain adalah kodrat dari keindonesiaan itu. Namun akhir-akhir ini, kemajemukan dan kebhinnekaan kita sedang terancam oleh bangkitnya identitas primordial yang menegasikan perbedaan sebagai sesama anak bangsa. Intoleransi dan kekerasan berbasis identitas primordial telah semakin masif mewarnai relasi-relasi yang ada di tengah-tengah masyarakat. Intoleransi hingga kekerasan-kekerasan yang muncul dalam wajah keindonesiaan kita saat ini disebabkan oleh banyak faktor mulai dari kapitalisasi identitas primordial demi kepentingan politik kekuasaan, hingga keinginan menyeragamkan Indonesia dalam satu bentuk identitas dan ideologi tertentu.
Plt. Asisten Deputi Kerukunan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan menyampaikan apresiasi kepada Sekolah Kebhinekaan Gunung Kidul dan Paritas Institute yang berupaya untuk melakukan kerja-kerja preventif dalam rangka ikut serta mewujudkan kerukunan dalam Indonesia bersatu. Menurut Cecep, ideologi-ideologi dan gerakan radikal tersebut dalam kenyataannya telah mampu menggerakkan aktor-aktor dari masyarakat sipil menjadi pelaku intoleransi dan radikalisme. Hal ini banyak diketahui dari survey dari Kompas, PPIM, Wahid Foundation dan juga lembaga riset yang lain. Semakin meluasnya praktek intoleransi sering menjadi ukuran bahwa telah terjadi masalah Kerukunan antar umat agama di Indonesia.
Sementara itu, seharusnya umat beragama di Indonesia menyadari betapa uniknya Indonesia. Sangat kaya akan keberagaman, tandas Cecep. Berkembangnya aksi-aksi radikalisme dan intoleransi ini pada akhirnya akan mengoyak kebhinekaan, tumbuhnya ego sektarian, rasa curiga, bahkan tindak kekerasan ini mengkhawatirkan, namun di Gunung Kidul ini kami dari Kementerian Kemenko PMK ini menemukan jawaban. Kerja-kerja komunitas soal Kerukunan ini harus diperluas dan diperbanyak.
Pdt. Kristiono kepala sekolah Kebhinekaan menyampaikan bahwa Sekolah Kebhinekaan Gunung Kidul telah lulus Dua angkatan melalui 3 tahapan. Sekolah ini bertujuan juga mencetak kader muda perdamaian di Gunung Kidul. Upaya yang dilakukan Sekolah Kebhinekaan ini untuk terus menjadikan Gunung Kidul sebagai Kabupaten yang toleran dan menjunjung tinggi perdamaian dan hubungan baik antar umat beragama.
"Ke depan berharap bahwa Kementrian Kemenko PMK mampu mengkoordinasikan kementrian yang ada di bawahnya untuk dapat mendukung apa yang telah dilakukan oleh Sekolah Kebhinekaan, karena hal ini menjadi upaya baik untuk mencegah kasus-kasus intoleransi makin marak" ujar Pdt. Kristiono.
Sudah dilihat 48 kali

Komentar