Sekilas Sejarah Cigarukgak Cipunagara Subang

31572 medium post 40359 f570366f 655d 41ce a5fc 953a27716e61 2018 08 30t10 21 59.717 07 00 31573 medium post 40359 8a8b0049 edf9 4847 949d 3460ec82b75d 2018 08 30t10 22 00.623 07 00 31574 medium post 40359 2cfd96d4 c5b6 4088 807e c9a90b81225f 2018 08 30t10 22 01.031 07 00
Cigarokgak adalah salah satu sebutan wilayah yang membentangi beberapa desa yang berada di Kecamatan Cipunagara Kabupaten Subang.

Sejak zaman dahulu Kabupaten Subang kaya akan hasil alam perkebunan nya yang membentang dari utara hingga ke selatan, tak ayal membuat cigarukgak yang berada di kawasan timur Kabupaten Subang ini sangat melimpah hasil alam perkebunan nya. Ketika subang di kuasai oleh Pamanoekan & Tjiasem landen atau di singkat P&T Land yang bermilik saudagar kopi bernama peter willem hofland membuat 8 kedemangan(Pejabat partikelir yang menangani satu wilayah) yakni Cisalak, Wanareja, Sagalaherang, Pagaden, Pamanukan, Ciasem, Purwadadi, dan Kalijati pada tahun 1859 untuk membantu ia mengurus hasil perkebunan di kabupaten subang ini.
Hasil Kekayaan alam Cigarokgak yang masuk kedalam kecamatan cipunagara masuk ke dalam kedemangan pagaden yang nantinya melewati desan manyingsal lalu ke pusat kota Subang.

Hasil kekayaaan alam di Cipunagara bermayoritaskan karet, pedes (lada), asem, jambu mede dsb yang memang kekayaan alam tsb sangat menguntungkan bagi pihak kolonial Belanda dan masyarakat belanda di eropa terlebih lada dan bumbu dapur yang hanya dapat di temui di negara tropis di indonesia untuk penghangat badan serta bernilai jual yang tinggi. Infrastruktur yang di bangun oleh belanda pun sangat gencar mulai dari akses jalan, listrik tenaga air, jembatan, kereta lori serta pabrik pabrik pengolah hasil alam pun sudah di sediakan. Ini bukti bahwa infrrastruktur adalah kunci dan urat nadi perekonomian masyarakat sekitar untuk mempermudah pekerjaan dan mempercepat pekerjaaan.

Kini peninggalan peninggalan sejarah sudah tidak dapat terlihat lagi, pabrik pabrik, serta rel kereta lori menuju manyingsal pun sudah hilang yang tersisa kini hanya jembatan tua yang di bangun th.1901 penguhubung desa yang masih menyimpan rel lori pengangkut hasil kekayaan alam.
Sudah dilihat 105 kali

Komentar