Sekilas Sejarah Batu Tulis Alun-alun Jonggol

69781 medium img 20190814 074800
Jonggol— Untuk mencatat sebuah sejarah, terkadang manusia membuat sesuatu untuk bisa dikenang. Seperti halnya tempat tempat bersejarah atau situs-situs yang berada di beberapa daerah. Simbol tersebut dibuat sebagai bukti akan adanya keberadaan peristiwa atau kejadian yang pernah ada di wilayah tersebut.

Untuk dikenal masyarakat di masa mendatang, banyak hal dilakukan masyarakat pada jaman dulu. Namun terkadang kita kurang peduli terhadap hal itu.
Salah satunya keberadaan Tugu Batu Tulis alun-alun Jonggol, yang dibuat oleh para anggota Persatuan Purnawirawan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Pepabri) yang di ketuai Kapten A, Sumirjo sekitar tahun 70an.

Keberadaan Tugu Batu Tulis Alun-Alun Jonggol yang berada di pusat alun-alun Jonggol, Kabupaten Bogor, merupakan sebuah bukti sejarah akan adanya perjuangan masyarakat Jonggol dalam merebut kemerdekaan.
Pada jaman penjajahan dulu, di posisi keberadaan tugu sekarang merupakan sebuah markas Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia dibawah kepemimpinanan Kapten Oking.

Menurut Sejarawan lokal Kabupaten Bogor, Didin, ia mencatat beberapa sejarah perjuangan masyarakat Jonggol. Dalam catatannya, tertulis Tugu Batu Tulis Jonggol merupakan sebuah markas Tentara Rakyat Indonesia yang hanya berukuran 4×6 meter.

Namun, karena kekompakan dan keberanian masyarakat Jonggol, Cileungsi dan sekitarnya, mereka yang tergabung bersama TRI dibawah pimpinan Kapten Oking sebagai komandan kompi IV yang bermarkas di alun alun jonggol, mampu menghadang iring-iringan pasukan Belanda dan sekutunya dari Bogor menuju Jonggol.

Aksi penghadangan pada waktu itu terjadi di beberapa tempat, seperti Kampung Panangga, Kecamatan Cileungsi saat ini, Kampung Bojong dan Malati, Kecamatan Klapanunggal saat ini.
Aksi heroik itu terjadi pada tanggal 1 hingga 9 Desember 1945 dan terakhir pada tanggal 9 hingga 10 Maret 1946.

Dalam sejarah yang dicatat Didin, pada tanggal tersebut di beberapa kampung konvoi pasukan Belanda dan sekutunya dengan menggunakan truk, tank baja di dihadang para pejuang Jonggol. Mereka berperang mengunakan senjata seadanya, keberanian para pejuang dengan pekikan semboyan ”MERDEKA ATAU MATI"

Waktu itu, pasukan Belanda dan sekutunya dapat dipukul mundur, korban pun berjatuhan baik dari pejuang bumi pertiwi maupun penjajah dan membakar seluruh kendaraannya.
Dari situ timbul niat para anggota Pepabri dibawah kepemimpinan, A. Sumirjo, untuk mencatat para pejuang Jonggol pada sebuah batu yang berada di atas tugu alun-alun Jonggol.

“Hal ini untuk mengenang akan keberadaan perjuangan masyarakat Jonggol yang telah ikut serta berjuang merebut kemerdekaan RI. Semoga saja keberadaan Tugu Batu Tulis Jonggol dapat mengingatkan kita akan perjuangan para pahlawan yang telah merebut kemerdekan kita.
Kemerdekaan bukan datang dari langit melainkan hasil tetesan darah para pejuang,” jelas Didin.

Sumber :

https://www.google.com/amp/s/hirwitnountoromba.wordpress.com/2016/03/14/sejarah-jonggol/amp/


Link :
@metrobogortimur
Sudah dilihat 30 kali

Komentar