Sekeranjang Cinta buat Para Lansia

23 February 2016, 23:50
64 1 136
Gambar untuk Sekeranjang Cinta buat Para Lansia
Suami istri Erdi Suradipradja dan P Witari tak pernah menyangka gagasan berbagi dengan warga lanjut usia mendapat respons positif.

Sebelum resmi berbentuk organisasi bernama Komunitas Relawan Jembrana pada Maret 2015, Erdi dan Witari, berbekal keikhlasan, menyusup ke desa-desa untuk ”menemukan” para orang tua yang ”telantar”, penuh kesuraman hidup, tersingkir dari keluarga, dan menderita dalam kesepian yang menggigit.

Sejak Maret 2015 itu, Komunitas Relawan Jembrana (KRJ) sudah mengatensi, istilah untuk mendampingi, lebih dari 200 orang tua yang tinggal di berbagai pelosok desa di Kabupaten Jembrana, Bali.

Komunitas ini tak ingin membantu secara muluk-muluk. Mereka fokus pada pendampingan secara konsisten dengan berbagi suka dan terkadang rezeki sekali waktu.

Pada Selasa (9/2/2016), tepat di hari Penampahan Galungan (sehari sebelum hari raya), Erdi, Witari, Edy Bali, Esty Ratna, Nia, dan Sartika Handayani (10) bergerak ke arah barat dari kota Negara, ibu kota Kabupaten Jembrana. Mereka menuju gubuk Ni Ketut Nering (80), seorang nenek yang hidup sendirian di ruangan tak berlistrik.

Gubuk Nering tidak terpencil, berdiri tepat di sisi jalan raya Banjar Warnasari Kaja, Melaya, Jembrana. Hari itu hujan lebat. Air mengucur dari atap yang berlubang dan menggenang di ruangan samping gubuk Nering.

Ruang sebelahnya tampak gelap karena tanpa penerangan. Dengan susah payah Nering menyalakan lilin untuk memperlihatkan sajen yang ia bikin sendiri untuk menyambut Galungan keesokan harinya.

”Tidak masak apa-apa, cuma nasi dan garam saja,” kata Nering lirih. Suaranya menghilang ditelan deras hujan.

Di Penampahan Galungan, jika banyak warga Hindu Bali memasak daging, Nering cuma punya segelas garam dan sedikit beras.

”Ya, ini makanan sehari-hari, kadang pakai telur kalau dikirimi oleh cucu dari desa sebelah,” ujar Nering.
Gubuk Nering dulu dipasangi listrik, tetapi karena ia tidak mampu bayar, sudah lama penerangan milik negara itu diputus.

Kondisi serupa terjadi di gubuk milik I Wayan Tamba (75), yang tinggal di banjar yang sama dengan Nering. Rumah Tamba juga di pinggir jalan raya, tetapi kondisinya sudah reyot. Atap dari daun kelapa sudah bolong-bolong.

Oleh sebab itu, kalau tidur, Tamba selalu menggunakan kacamata hitam. Kacamata itulah yang menjaga matanya dari runtuhan atap daun kelapa yang lapuk dimakan usia.

Tamba juga tinggal seorang diri. Di sebuah panci teronggok nasi, parutan singkong, dan sambal tahu yang ia masak sendiri.

”Ini makan sehari-hari saya. Syukur-syukur masih ada tahu. Biasanya cuma daun singkong atau jantung pisang. Ya, seadanya, yang penting bisa makan,” kata orang tua yang sudah sendiri sejak puluhan tahun silam itu.

Hari itu, KRJ datang membawa sepaket bahan pokok dan sekadar uang hari raya yang dikumpulkan dari para donatur. Sebenarnya, kata Witari, KRJ jarang memberi uang.

Komunitas ini selalu melakukan survei sebelum melakukan atensi.

”Jadi, saat survei, kami tahu apa kebutuhan para orang tua itu,” kata Erdi, wiraswasta yang tergerak berbagi dengan para orang tua.

Pendampingan

Kakek Tamba dan Nenek Nering sudah sekitar enam bulan diatensi KRJ. Setiap saat, Witari dan kawan-kawan menyempatkan waktu untuk sekadar menengok keduanya.

Komunitas ini tak sekadar memberi bantuan, tetapi berbagi dengan cara menjadi ”keluarga” bagi para orang tua yang hidup sendiri akan jauh lebih berarti.

”Konsep kami memang berbagi kehangatan keluarga, syukur-syukur kalau ada donatur atau pihak-pihak yang tergerak ikut membantu,” kata Erdi.

Pada hari Penampahan Galungan itu, KRJ memperoleh data baru dari Kelihan Banjar Warnasari Kaja I Nengah Sudiarta (47).

Tak jauh dari rumah Tamba dan Nering terdapat I Nyoman Pasek (70), yang hidup bersama Ni Made Taman (70), istrinya, dan anak mereka, Luh Suci (40-an).

Kondisi rumah Pasek sangat memprihatinkan. Apalagi, Pasek sudah lebih dari 25 tahun menderita kusta. Kini ia lumpuh, jari tangan dan kakinya mengeropos. Pasek, kata Made Taman, juga sudah lama tidak lagi bisa berbicara.

”Dulu pernah ke dokter, tapi tak ada perubahan,” kata Luh Suci, yang mata sebelah kirinya tidak sempurna.
Di seberang rumah Pasek terdapat rumah keluarga Ni Kadek Suardani (36) dan I Made Wilantara (37). Anak pertama mereka, I Gede Sukadana (16), sejak berusia lima tahun mengalami kelumpuhan.

”Katanya saraf otaknya tidak sempurna,” ujar Suardani sembari membopong Sukadana.

Sukadana tak hanya lumpuh, tetapi juga tumbuh tidak sempurna. Tubuhnya mengurus, giginya mengeropos, seluruh kakinya mengecil, dan sama sekali tidak mampu berkomunikasi.

”Kami sudah berobat sampai ke Denpasar, tapi tak ada perubahan. Akhirnya pasrah saja,” ucap Suardani.

Di Banjar Warnasari Kaja, kata Sudiarta, saat ini terdapat sekitar 40 warga lansia yang berusia di atas 60 tahun.

”Tetapi, data itu termasuk mereka yang tinggal bersama anak-anak mereka. Ada memang sebagian yang benar-benar hidup miskin,” katanya.

Menurut Witari, KRJ bergerak secara reguler setiap hari Minggu atau sewaktu-waktu jika tim survei menemukan orang tua yang perlu diatensi.

KRJ berupa komunitas yang cair, setiap relawan bisa bergabung kapan pun atau menghilang begitu saja. Setidaknya kini terdapat sekitar 15 anggota komunitas yang aktif.

”Tak jarang kami menjalin kerja sama dengan instansi atau para profesional, seperti dokter, apabila dibutuhkan,” ujar Erdi.

KRJ menghimpun dana lewat media sosial, terutama Facebook.

”Nanti pertanggungjawabannya juga kami laporan di media sosial,” kata Witari sembari wanti-wanti, pengunggahan di laman Facebook sama sekali bukan ingin pamer, apalagi gagah-gagahan.

”Itu bentuk pertanggungjawaban kami kepada para donatur,” kata Witari.

Setiap kunjungan KRJ ke pelosok-pelosok desa seperti membawa sekeranjang cinta bagi para warga lansia.

Para orang tua, yang rata-rata berusia di atas 60 tahun, tak pernah minta muluk-muluk.

”Mereka cuma ingin dekat dengan keluarga karena rata-rata menjalani masa tua seorang diri,” ujar Erdi.

Sekeranjang cinta itu diwujudkan relawan KRJ dengan menjenguk, memperhatikan, bergotong-royong membersihkan lingkungan, memakaikan pakaian yang layak, dan kalau perlu membawakan dokter.

Sekali waktu membersihkan tubuh para orang tua yang sudah lama tidak memperoleh perhatian dari anak-anak mereka. Bagi para warga lansia, itu cukup sebagai pelipur lara di sisa usia…. (PUTU FAJAR ARCANA) Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 21 Februari 2016, di halaman 32 dengan judul "Sekeranjang Cinta buat Para Lansia".

  1 Komentar untuk Sekeranjang Cinta buat Para Lansia

Masuk ke akun AtmaGo kamu untuk ikut memberi komentar!

Masuk  atau  Daftar