Sejenak Berimajinasi dengan Secercah Harapan Bersama Sisa-sisa kerusakan

62238 medium post 67556 9a9e3bc7 1749 42f2 ae56 3b3e40065561 2019 05 26t20 31 46.191 08 00
Mentari pagi muncul perlahan-lahan dibalik bukit, sinarnya yang hangat mulai merasuki tubuh yang kaku ini. Titik-titik embun dingin di dedaunan mulai mengering. Aku yang tengah asik duduk menikmati suasana pagi yang menakjubkan seraya beberapa kali mengucapkan syukur kepada-Nya.
Yaahh... seperti itulah keadaan di daerahku, keadaan yang membuatku tak henti-hentinya bersyukur. Daerah yang aman, tentram dan damai serta terpampang beberapa panorama indah yang menakjubkan. Hal inilah yang patut untuk disyukuri.
Jika harus mengingat kembali kondisi yang berbanding terbalik dengan keadaan di ibukota tercinta Palu (SulTeng) dan sekitarnya. Dimana terlihat peristiwa naas yang mengiris hati, pilu rasanya jika mengingat hal-hal yang mengerikan itu. Mata dan hati tak henti-hentinya menangis atas kehilangan sanak saudaraku yang menjadi korban bencana, yang sampai sekarang belum ditemukan kabar mengenai mereka. Semua keluarga dan relawan turut membantu, namun tak kunjung menemukan titik terang.
Ada sesuatu yang mengganjal dalam hati ini, sesuatu yang membuat mata dan hati menangis pilu. Meskipun keadaan di daerah kami tidak termasuk kedalam wilayah yang terkena bencana itu, namun dampaknya sangatlah berpengaruh. Mereka sanak saudaraku yang niat baiknya pergi mengadu nasib di perantauan kota Palu demi mengais rezeki dan menghidupi keluarganya malah harus kehilangan segalanya, sampai-sampai nyawa pun yang direnggut begitu saja dalam sekejap.
Bagaimana denganku? Keluargaku? Ayah Ibuku? Kondisi perekonomian yang nyaris mengalami penurunan drastis terpaksa harus menghentikan pendidikan kuliah kakak ku. Pendapatan yang kami peroleh dari hasil perkebunan seadaanya tidaklah cukup untuk membiayai semuanya. Ingin rasanya aku memberontak, aku ingin memaki pemerintah, aku ingin menuntut Tuhan yang kuanggap tidak berlaku adil. Tapi aku sadar Tuhan lah yang mengatur rotasi kehidupan ini, Dia lah sebaik-baiknya maha pengatur. Sejak itu aku mulai belajar bersyukur bahwa apa yang aku dan keluargaku alami jauh lebih baik daripada mereka yang harus kehilangan segalanya akibat tragedi itu.
Kutatap wajah kedua orang tuaku dengan penuh kasih sayang. Raut wajah yang kian menua membuatku semakin jelas bisa berpikir jauh dan menyadari bahwa ada secercah harapan yang harus kuwujudkan disana, api semangat dalam dada semakin menyala, kondisi kelam ini tak bisa menghentikan impian masa depanku. Kota tercinta ini harus bangkit kembali dan itu dimulai dari sekarang. Siapa lagi kalau bukan kita? Kita adalah generasi penerus yang akan mengembalikan senyum untum semuanya. Tidak perlu saling menghujat dan menyalahkan satu sama lain, cukup sadari dan bangkit kembali karna semua ini merupakan teguran dari sang Khaliq. #RamadhanBangkit #AtmaGoSulteng
Sudah dilihat 64 kali

Komentar