Sejarah Dusun Gunting dan Kelestarian Seni Budayanya

45539 medium post 52354 0d4b8147 df1c 44cd 9b4a 79e72e8fc92d 2019 01 10t12 56 46.438 07 00 45540 medium post 52354 8832aeaf 30eb 4924 bbba e9dcca775e74 2019 01 10t12 56 46.899 07 00
Gunting adalah sebuah pedusunan yang terletak di daerah pegunungan, tepatnya di wilayah Kelurahan Gilangharjo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jalan raya terdekat adalah Jalan Raya Samas (sebelah timur) dan Jalan Raya Srandakan (sebelah barat) , dengan jarak masing-masing kurang lebih 2 km dari jalan raya menuju dusun.

Dusun Gunting mempunyai wilayah yang cukup luas, yang dibatasi oleh enam dusun. Di sebelah utara, berbatasan dengan Dusun Karanggede, Dusun Tirto dan Dusun Jalakan di sebelah barat, Dusun Depok di sebelah selatan, serta Dusun Goseng dan Dusun Nogosari di sebelah timur.

Dusun ini diperkirakan ada sejak masa penjajahan Hindia-Belanda. Konon cerita, seorang prajurit pasukan Pangeran Diponegoro, berlari ke pegunungan untuk menyelamatkan diri dari musuh. Ia singgah dan beristirahat di tempat yang terdapat mata air. Ketika ia beristirahat, ia melihat pohon mangga dan pohon kepuh yang tumbuh menyilang menyerupai gunting. Oleh karena itu, dinamailah daerah peristirahatannya dengan nama Gunting. Kemudian tempat bermata air itu diberinya nama Sendhang Pelempoh. Sendhang dalam bahasa Jawa berarti tempat yang bermata air. Sedangkan Pelempoh sendiri merupakan gabungan dari pohon ‘pelem’ (mangga) dan pohon ‘kepoh’ (kepuh).

Baca juga : http://navigasi-budaya.jogjaprov.go.id/heritage/cerita-rakyat/441

Suasana di pedusunan ini masih sangatlah alami. Pepohonan hijau tumbuh di sepanjang jalan dan juga di ladang atau kebun milik warga setempat. Polusi udara jarang bahkan tidak pernah terjadi, meskipun jumlah kendaraan yang dimiliki warga terus bertambah.

Sekalipun letaknya di pegunungan dengan persebaran rumah penduduk yang menyebar di lahan rata, dusun ini tidak bisa dikatakan sebagai sebuah dusun terpencil yang terbelakang. Misalnya, sarana pendidikan dan masjid. Di sini terdapat satu sekolah untuk tingkat dasar (SD), satu sekolah untuk tingkat pra-sekolah (PAUD), dan juga dua masjid yang selalu berfungsi untuk ibadah dan tempat musyawarah.

Dusun ini pun sama sekali tidak mengalami ketertinggalan budaya. Justru sebaliknya, dusun ini sangat giat melestarikan budaya, kesenian, dan mengembangkan kreatifitas. Ada tempat-tempat di mana batik tulis dan batik lukis diproduksi, seperti Batik Jitho-Novi dan Pragitha Batik. Batik yang dihasilkan tidak semata-semata hanya kain saja, tapi juga lukisan, kaos batik, sajadah batik, dan masih banyak lagi. Bahkan pengrajinnya sendiri merupakan warga setempat yang mumpuni dibidangnya. Batik tersebut tidak hanya dikenal dan diminati oleh masyarakat lokal, akan tetapi hingga ke mancanegara seperti Amerika, Australia, Spanyol, Yunani, dan lainnya. Selain batik, terdapat juga tempat produksi blangkon secara tradisional dan mahkota penari, yang pengrajinnya, lagi-lagi adalah warga setempat, lebih tepatnya anak-anak muda.

Baca selengkapnya : http://www.bantulbiz.id/id/bizpage_sentra/id-354.html

Kaum tua maupun muda juga tergerak dalam pelestarian kesenian, seperti macapat (tembang Jawa kuno), kethoprak (seni teater), campursari atau organ tunggal. Dalam perayaan-perayaan karnaval dan hari besar, seperti hari kemerdekaan Indonesia, seringkali diadakan pementasan kesenian oleh komunitas tersebut. Jadi dapat disimpulkan bahwa, terdapat  banyak seniman–pekerja seni di dusun ini sehingga Dusun Gunting memang patut diapresiasi dan disebut sebagai desa wisata.


Akses jalan yang baik menuju maupun di dusun ini, sangatlah memungkinkan pengunjung merasa nyaman dan tidak perlu khawatir jika ingin berkunjung dengan mengendarai mobil.

Tempat pembuatan batik tulis dan batik lukis, adalah tujuan yang sangat menarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara untuk membeli batik secara langsung dari pengrajinnya atau sekedar menyaksikan proses pembuatannya, untuk memperluas wawasan tentang batik sebagai warisan maha agung yang sangat populer di dunia.

Semoga desa-desa di Indonesia semakin maju dengan terus menjaga eksistensi budaya dan kesenian masing-masing serta mengembangkan kreatifitsnya. Karena dengan itu, membuka lapangan pekerjaan, berpotensi menarik wisatawan dan ikut pula menyumbang untuk perekonomian Indonesia yang lebih baik. []
Sudah dilihat 68 kali

Komentar