SEJARAH DAN REFLEKSI HARI PEREMPUAN INTERNASIONAL

52788 medium post 59000 227e15b2 45b7 40e4 ab0c c21468ff4d2d 2019 03 08t15 02 52.132 07 00 52789 medium post 59000 2782d156 e1a7 446f a2fb c99add624b64 2019 03 08t15 02 52.661 07 00
Wonosari, atmaGo
Setiap tanggal 8 Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional. Penetapan tanggal ini rupanya melalui proses yang panjang sejak lebih dari 100 tahun lalu.

Gerakan tuntutan hak oleh kaum perempuan pada 1908 ini dilatarbelakangi oleh para pekerja pabrik garmen. Mereka menuntut hak berpendapat dan berpolitik.


Pada tahun 1910, organisasi sosialis internasional berkumpul di Kopenhagen untuk menetapkan Hari Perempuan. Usul ini disepakati oleh 100 perempuan dari 17 negara. Namun belum ditetapkan soal tanggal berapa hari tersebut diperingati.


Pada kurun waktu 1913-1914, Hari Perempuan Internasional dipakai sebagai gerakan penolakan Perang Dunia I. Di sejumlah negara Eropa, Hari Perempuan Internasional dipakai untuk memprotes perang dunia atau sebagai aksi solidaritas sesama wanita.

Pada tahun 1917, para perempuan Rusia memprotes perang dengan gerakan bertajuk 'Roti dan Perdamaian' pada hari Minggu terakhir di bulan Februari. Hari tersebut bertepatan dengan tanggal 8 Maret di kalender Masehi. 4 hari kemudian, Tsar Rusia memberikan hak untuk memilih untuk para perempuan.

Hingga akhirnya pada tahun 1975, untuk pertama kalinya PBB memperingati Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret. Sejak saat itulah pada tanggal ini diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional.

Dalam konteks kekinian secara umum, pembangunan pemberdayaan perempuan telah menunjukkan hasil yang menggembirakan, tetapi berbagai permasalahan masih dihadapi, seperti masih tingginya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta masih adanya kesenjangan pencapaian hasil pembangunan antara perempuan dan laki-laki, yang tercermin dari masih terbatasnya akses sebagian besar perempuan di berbagai bidang. termasuk dalam hal peningkatan kapasitas kesejahteraan ekonomi bagi kaum perempuan.

Sulitnya mendapatkan akses permodalan dalam peningkatan kapasitas usaha perempuan menjadi sebuah Pekerjaan Rumah besar bagi kaum perempuan. Pemerintah diharapkan mampu membuka kesempatan yang lebih besar bagi kaum perempuan untuk berpartisipasi dalam perekonomian negara dan dalam mengembangkan bisnis.
International women’s day diharapkan tidak hanya menjadi ajang ceremonial belaka, namun menjadi pengingat bagi kita untuk terus memperjuangkan hak bagi kaum perempuan dalam meningkatkan kapasitas perempuan, sehingga tercapainya cita cita mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi perempuan. (RN)
Sudah dilihat 390 kali

Komentar