Sejarah alun alun malang

Header illustration
Sejarah Alun-Alun kota Malang
a. Alun-Alun Sebagai Pusat Kota Jawa
Secara historis, pembentukan kota Malang terkait dengan pemerintahan tradisional Jawa, dengan Alun-alun sebagai pusatnya. Dalam keyakinan tradisional masyarakat Jawa, keberadaan tempat tinggal sangat erat terkait dengan “abstraksi” mereka terhadap alam semesta. Sehingga, di kalayak masyarakat Jawa, menamai kota sebagai “Negari” atau semacam negara. Sedangkan, lingkungan Alun-alun dengan Kadipaten dinamai sebagai “Kutha”, atau semacam ibukota negara. Berdasar keyakinan tradisional tersebut, keberadaan Alun-alun kota Malang menjadi halaman ibukota negara. Kadipaten dengan orientasi Alun-Alun, bersifat sakral, menggambarkan hubungan simbolisasi raja (dianggap keturunan Dewa) dan masyarakat yang “menyembahnya”. Kadipaten dengan Alun-alun sebagai kesatuan, merupakan area privasi. Disisi lain, yakni di wilayah lingkaran luar, merupakan area publik. Kedudukan Kadipaten berperan sebagai penyelaras kedua sifat berlawanan tersebut. Area lingkaran luar di satu sisi, sebagai implementasi sifat publik dan profan keduniawian. Alun-alun di sisi lain, sebagai inplementasi sifat privasi dan spiritual. Sifat spiritual Alun-alun, di implementasi dengan kebaradaan Masjid. Konsepsi demikian, merupakan perujudan keyakinan masyarakat Jawa, yang menginginkan hidup selaras dengan alam, seimbang dalam spirituil dan meteriil.

b. Alun-Alun Periode Kolonial

Kota Malang dibawah pemerintahan kolonial Belanda, berawal dari kekalahan pasukan Suropati di Pasuruan, sekitar tahun 1707. Pada awalnya, kota Malang dapat dikategorikan sebagai kota agraris. Semakin kuatnya pemerintah kolonial Belanda untuk menguasai perkebunan, merubah kota Malang menjadi kota administrasi. Ciri tersebut, terlihat dari susunan spasial kota, berpusat di sekitar Alun- Alun. Pada lingkaran pertama di sekeliling Alun-alun Malang, terdapat rumah kediaman kepala daerah setempat (Bupati). Di kawasan ini, juga terdapat bangunan-bangunan penting seperti gedung pemerintahan (Ass. Residen), masjid, gereja, penjara, serta kantor Bank. Pada lingkaran berikutnya, terdapat rumah-rumah pamong praja ataupun pejabat-pejabat daerah. Diselang seling bangunan tersebut, terdapat permukiman-permukiman lain, serta fasilitas penunjang kota.

2.3 Standar Taman Kota (Alun-Alun)
Taman kota alun-alun Merupakan Taman yang Indah yang dikelilingi oleh bangunan kuno seperti masjid Jami dan gereja Katolik serta pusat perbelanjaan. Taman kota alun-alun ini sangat cocok dijadikan pusat rekreasi masyarakat karena lokasinya yang strategis yang terletak di Jalan Kayutangan yang berada persis di sebelah Barat Alun-alun, membentang arah Utara – Selatan, merupakan jalur utama kota Malang. Suatu are dapat dikatakan sebagai alun-alun apabila area tersebut merupakan ruang public. Dimana alun-alun malang ini merupakan ruang public.


2.4 Desain Taman Kota (Alun-Alun)
desain alun-alun kota malang ini sangat dipengaruhi oleh budaya tradisional dan budaya bangsa belanda, hal ini dikarenakan pada masa pembentukan alun-alun sangat dipengaruhi oleh campur tangan dan pemikiran bangsa belanda. Hal ini berdasarkan pada data – data documenter yang terkait proses pembentukan alun-alun kota malang, misalnya tentang konsep pembentukan ruang terbuka di alun-alun yang diadopsi dari konsep di Eropa. Desain alun-alun kota malang terdapat kolam di tengah-tengah alun-alun tersebut, dimana perancangan kolam tersebut dirancang dengan kurang memperhatikan aktivitas-perilaku pengguna, sehingga penutup tanahnya di buat dengan bahan yang memberikan efek panas (pola-pola semacam paving), apalagi di sekitarnya tanpa ada naungan pohon-pohon. Selain itu para pengunjung juga ketika menikmati kolam sangat terganggu oleh adanya pagar disekitar kolam. Selain itu juga di bangun tempat – tempat duduk untuk para pengunjung agar bisa duduk lantai di alun-alun.
2.4.1 unsur-unsur fisik pembentuk alun-alun kota malang
Unsure-unsur fisik yang ada di alun-alun kota malang antara lain, meliputi ;
Di sekeliling kolam terdapat tempat duduk seperti teater terbuka
ditempat ini dulu dijadikan sebagai tempat anak-anak menonton atraksi topeng monyet.
Sisi timur area parkir alun-alun kota malang yang beraspal
Pada sisi ini biasanya digunakan oleh para pedagang kaki lima untuk berjualan.
Lantai paving sisi utara kolam dengan teduhan pohon beringin
Tempat ini biasanya juga di gunakan oleh para PKL untuk mencari nafkah.
Pedestrian berpaving
Area ini dinikmati sebagai tempat olahraga badminton.
Taman berumput
Area ini dapat dijadikan sebgai area rekreasi yang nyaman bagi para pengunjung alun-alun kota malang.
2.5 Lingkungan Sekitar Alun-Alun Malang
Di sekitar alun-alun kota malang terdapat berbagai macam bangunan-bangunan baik itu bangunan lama atu bangunan baru. Bangunan lama di sekitar alun-alun malang adalah gereja dan masjid jami`, sedangkan bangunan modernnya adalah mall – mall di sekitar alun-alun kota malang. Selain itu juga di sekitar alun-alun kota malang ini juga terdapat banyak PKL (Pedagang Kaki Lima) yang berjualan macam-macam makanan. Selain itu lingkungan sekitar alun-alun kota malang juga di kelilingi oleh pohon-pohon beringin yang member nuansa sejuk di daerah sekitar parkiran dan tempat para PKL berjualan.
2.6 Aktivitas masyarakat Di Alun-Alun Kota Malang
Aktivitas masyarakat di alun-alun kota malang sangat beraneka macam antara lain :
Aktivitas komersil para Pedagang kaki Lima (PKL) yang dilakukan mulai pagi sampai malam.

Aktivitas/kegiatan rekreasi yang dilakukan oleh para pengunjung dalam mengisi waktu luang (pacaran) atau menyenangkan anak-anak bagi orang-orang yang sudah berkeluarga.
Aktivitas dalam mencari pendapatan yang dilakukan oleh para pengamen, para pengamen ini mulai datag di alun- alun pada sore hari.
Sudah dilihat 78 kali

Komentar