Sanggar Ori Produk Original Ngeposari

66480 medium screenshot 2019 07 12 13 03 01 1 1 1
Sanggar Ori Produk Original Ngeposari

MAHASISWA yang tinggal ditengah-tengah dusun yang jauh dari perkotaan ini tampak asik bergurau dengan anak-anak yang berumur jauh dibawahnya. Sekilas tampak tak ada batas diantara mereka. Duduk di teras sanggar menjadi kebiasaan mereka untuk menikmati waktu luang, serta untuk mengembangkan bakat terpendam dari diri mereka.
Jevi Adhi Nugraha atau yang sering dipanggil Jevi ini merupakan pendiri Sanggar Ori. Sanggar yang letaknya kurang lebih 10km dari kota Wonosari menjadi tempat pengembangan potensi kawula muda di Dusun Keblak, Ngeposari, Semanu, Gunungkidul. Sanggar yang didirikan pada 13 September 2013 ini menjadi wadah dari tercecernya orang-orang kreatif di dusun tersebut.
Melihat potensi Seni yang tinggi di Dusunnya, mulai dari menggambar, bermain alat musik, sastra dan lain sebagaianya. Namun, satu yang tidak dimiliki mereka, yaitu koordinator untuk menyatukan bakat mereka. Jevi cukup peka melihat potensi tersebut, ia akhirnya bergegas untuk membentuk wadah dan ruang untuk mengembangkan kreativitas yang ia namakan "Sanggar Ori".
Sanggar Ori yang mempunyai singkatan Oyot Ringin atau "Akar Beringin" ini mempunyai makna persatuan, yaitu untuk menyatukan orang-orang kreatif di dusun tersebut. Disisi lain, orang jawa mengatakan bahwa Beringin mempunyai filosofi kedudukan yang istimewa, jika duduk dibawahnya merasa adem. "Ya intinya kita pengen orang yang dibawahnya selalu merasa adem dan nyaman", kata Jevi sambil tersenyum bahagia.
Walaupun di dalam Dusun Keblak sendiri sudah didirikan Karang Taruna, namun untuk melengkapinya Sanggar Ori juga menampung anak-anak usia SD dan SMP. Sedangkan untuk anak usia SMA dan Mahasiswa dijadikan sebagai pengurus dari sanggar ini.
Sanggar yang didirikan tepatnya setelah bulan puasa ini mempunyai perkembangan yang cukup bagus. Perkembangannya bisa dilihat dari jumlah anak yang ikut terjun di dalamnya, yang awal mulanya hanya terdiri dari 25 anak di Tahun 2013, hingga kini tahun 2018 bertambah menjadi sekitar 60 orang anak.
Dulu sanggar yang selalu menggunakan Serambi Masjid untuk tempat berkumpul. Kini mempunyai Basecamp yang cukup luas, berkat kemurahan hati seorang Ibu yang juga merupakan Ibu dari salah satu anggota sanggar Ori, beliau menawarkan rumahnya secara cuma-cuma untuk dijadikan basecamp.
Untuk kegiatan rutin Sanggar ini, Jevi membuat agenda Baca bareng dan Menggambar pada Setiap Hari Minggu, Jeguran Sastra tiap Malam Tahun Baru, Ngaji Kangen, Teater Rakyat, Musikalisasi Puisi, Les Mata pelajaran dan belajar musik. Untuk kegiatan teater, Mahasiswa Jurusan Kesejahteraan Masyarakat ini selalu membuat naskah sendiri yang kemudian di perankan oleh anggota Sanggar Ori. Beberapa produk teaternya yaitu berjudul Baratetan, Rumah Pelangi, dan Nggaru Ngluku.
Selain itu Ngaji kangen merupakan salah satu agenda yang lebih di tekankan dalam Sanggar Ori ini. Ngaji kangen merupakan bentuk dari diskusi mereka pada setiap malamnya. Diskusi yang dilakukan pun dalam bentuk pembahasan umum, seperti PKN, Agama, Pluralisme dan lain sebagainya. "Biasanya sih ngalir pembahasannya", kata Jevi.
Sanggar menjadi besar menurut Jevi bonus dari keinginannya, namun yang paling ia inginkan yaitu regenerasi dari Sanggar Ori ini tetap berjalan sampai kapanpun."Sanggar nggak ada nggakpapa yang penting masyarakaratnya bisa tetap kreatif, mandiri dan menjadi inspirasi di Dusun lain." ungkapnya diakhir pembicaraan. (Di Tulis oleh Eka Ariyanti, Mahasiswi Semester Akhir Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)
Sudah dilihat 84 kali

Komentar