Ribuan Rumah Tak Layak Huni Di Kabupaten Serang

14525 medium data



Dinas Sosial (Dinsos) Banten mencatat ada 17.542 rumah tidak layak huni di 29 kecamatan se-Kabupaten Serang. Rumah yang tidak layak huni itu kriterianya sesuai dengan yang ditetapkan oleh Kementerian Sosial (Kemensos).

"Kita data dari desa dan kecamatan dan di-input di kabupaten, yang diakui kita, data 17 ribu sekian," ucap Kepala Seksi Penanganan Fakir Miskin dan Pedesaan Dinsos Banten, Yayat Sutiana, ketika ditemui, Rabu (5/7/2017).

Kriteria yang ditetapkan Kemensos terhadap rumah tidak layak huni yaitu luas rumah 24 meter persegi di wilayah perkotaan dan 10 meter persegi di pedesaan dengan tidak ada sumber air sehat, tidak memiliki fasilitas MCK (mandi, cuci, kakus) dan bangunan tidak permanen dari bambu atau beratapkan rumbia, serta tidak ada pembagian ruangan dan minim pencahayaan dengan lingkungan kumuh dan becek.

Namun setelah diverifikasi ulang, Yayat menyebut angka itu berkurang menjadi 12.725 rumah tidak layak huni. Sisanya, menurut Yayat, adalah rumah yang ada di bantaran kali atau pinggir rel kereta api atau tanah negara yang ada di seluruh wilayah Kabupaten Serang.

Dari seluruh 29 kecamatan di Kabupaten Serang, 5 kecamatan terbanyak dengan rumah tidak layah huni adalah Cinangka dengan 2.408 rumah, Tunjung Teja 1.380, Jawilan 1.210, Cikeusal 1.180, dan Bandung 970 rumah.

Sementara itu, pada tahun 2017 Dinsos Banten baru dapat membedah 80 rumah tidak layak huni. Pembangunan masing-masing di pedesaan 43 rumah dan daerah pesisir sekitar 37 rumah.

Menurutnya, dari 12.725 rumah tak layak huni yang terverifikasi oleh Dinas Sosial, bisa ada penurunan jumlah rumah tidak layak karena bisa jadi ada bantuan pembangunan dari pihak provinsi, Korpri, atau dari Baznas.

Sebelumnya diberikan ada sekitar 400 rumah di Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Serang, yang masuk kategori rumah tidak layak. Dari beberapa sampel yang diwawancarai, yaitu di desa Kadu Agung terdapat hampir 80 rumah yang tidak layak. Kebanyakan kategori rumah seperti ini ditempati oleh buruh tani atau janda-janda yang tinggal seorang diri.

Bahkan, satu warga bernama Rusni tinggal di rumah berukuran 4 meter x 6 meter dengan bangunan dari bambu. Ia dan keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk MCK dari tetangga sekitar. Ketika air sudah semakin berkurang, keluarga ini bahkan harus mengumpulkan air hujan.

"Bantuan nggak pernah ada. Sudah beberapa kali minta, sampai sekarang belum ada buktinya," kata Rusni

Semoga segera ada aksi nyata, ketika data sudah ada dikantong.

Disarikan dari detik.com
Sudah dilihat 52 kali

Komentar

  • 292 new thumb data

    Amin... kita semua berharap demikian. ayo kita arusutamakan peningkatan kualitas hidup masyarakat dalam beragam cara.

  • 3029 new thumb profile image

    Mudah-mudahan masalah ini mendapat perhatian pemerintah daerah, biar kenyamanan bisa dirasakan warga.