Ribuan Istri Di Brebes Minta Cerai Dari Suami

Data
Ribuan Istri di Brebes Minta Cerai dari Suami


Brebes- Jumlah kasus perceraian di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, pada kurun waktu hingga pertengahan 2017 ini, tergolong cukup tinggi. Hal itu berdasarkan data yang diperoleh dari Kantor Pengadilan Agama (PA) setempat.

Ketua Pengadilan Agama Brebes, Abdul Basyir mengungkapkan, hingga Juni 2017 lalu, pihaknya mencatat 2.190 pengajuan kasus perceraian. Januari merupakan paling banyak jumlah kasus perceraiannya, yakni 585 kasus. Disusul Maret 403 kasus. Sedangkan Februari, April, Mei, dan Juni rata-rata mencapai 300 kasus.


Dilihat dari grafik, tren perkara yang masuk selalu meningkat setiap bulan, bahkan setiap tahunnya. Baru-baru ini saja, kata dia, angka perceraian itu mengalami peningkatan.

Bahkan saat hari pertama masuk kerja usai libur Lebaran lalu, pihaknya sempat kewalahan. Rata-rata ada 50-70 permohonan per hari. Padahal, saat kondisi normal jumlahnya rata-rata hanya 20 kasus setiap harinya.

”Kalau untuk perbandingan tahun lalu, kami belum bisa memastikan naik atau turun. Tapi sesuai data kami, di 2016 lalu total angka perceraiannya sebanyak 4.108 kasus, tahun ini kan masih berjalan,” ujar Abdul Basyir, Jumat 28 Juli 2017.

Menurut Basyir, sedikitnya ada 20 permohonan yang harus mereka terima setiap harinya. Pada kondisi tertentu, jumlahnya bisa sampai 70 permohonan cerai per hari.

"Pada pertangahan tahun (Juni) 2017, angka perceraian di Kabupaten Brebes mencapai 2.190 kasus. Dari jumlah itu, terdiri dari 557 cerai talak dan 1.550 cerai gugat," terang Basyir.

Sementara itu, kata Basyir, pada 2016 lalu ada sebanyak 4.108 kasus perceraian yang ditanganinya. Persentase dari jumlah tersebut, 1.023 cerai talak dan 3.085 cerai gugat dari pihak istri.

Kasus perceraian di 2016 lalu juga tersebar merata di seluruh wilayah kecamatan. Terbanyak di Kecamatan Bulakamba dengan 450 kasus cerai. Disusul Larangan 418 kasus. Kemudian Kecamatan Brebes dengan 385 perceraian. Lalu Losari 378 kasus, Banjarharjo 335 kasus, dan Kecamatan Wanasari total 334 kasus.

Selain itu, di Kecamatan Ketanggungan ada 280 kasus, Tanjung mencapai 244 kasus, Songgom dengan total 210 kasus, Bumiayu 202 kasus, Jatibarang 190 kasus, Paguyangan 155 kasus, Kersana 153 kasus, Tonjong 129 kasus, Bantarkawung 126 kasus, Sirampog 90 kasus, dan Salem menjadi kecamatan paling sedikit, hanya terjadi 29 kasus.


Basyir menjelaskan, perkara yang disidangkan, melihat persentase gugat cerai dari istri yang mencapai tiga kali lipat dari kasus cerai akibat talak suami. Artinya, mayoritas adalah perempuan (istri) yang meminta cerai.

Ada kemungkinan dipicu ketidakpuasan dari istri terhadap kondisi suami atau internal rumah tangganya. Pengadilan Agama Brebes yang mencoba memediasi keduanya, mencatat alasan kondisi ekonomi menjadi faktor dominan pemicu perceraian (gugatan). Selain itu, faktor lain berasal dari perilaku sang suami.

Basir melanjutkan, persoalan ekonomi menjadi faktor utama pasangan suami istri memutuskan untuk bercarai.

"Hal ini dilihat saat pertama kali pasangan suami-istri mengajukan berkas perceraian. Dimana, 90 persennya ini karena akibat faktor ekonomi," paparnya.
Panturanews.com

Komentar