Rendahnya Literasi, Mudahnya Terprovokasi

4 July 2019, 21:57 WIB
6 0 96
Gambar untuk Rendahnya Literasi, Mudahnya Terprovokasi
Kita sudah sering mendengar bahwa membaca adalah jendela dunia. Membaca juga merupakan cara untuk keliling dunia dengan gratis. Bahkan, Bung Hatta pernah melontarkan kata-kata ampuh yang di kemudian hari menjadi salah satu kutipan unggulan dari penggambaran sosoknya. “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” Namun, tak banyak orang yang benar-benar merasakan hal tersebut.

Dinegara kita aktivitas membaca ini masih belum akrab dilakukan. Sebagai contoh negara Finlandia, berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan PBB (UNESCO) yang dirangkum dalam laporannya tahun 2016, negara tersebut menduduki peringkat pertama dunia dengan tingkat literasi paling tinggi. Sedangkan Indonesia hanya peringkat 60 dari 61 negara yang disurvei.

Tidak adanya ketertarikan bangsa ini dengan dunia baca dapat dirasakan oleh siapapun yang hidup atau pernah hidup di Indonesia. Bahkan jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya, justru kakek nenek kita lebih mencintai buku, menulis, dan belajar ilmu pengetahuan daripada generasi sekarang. Sehingga apabila diukur, maka dapat dikatakan literasi baca di Indonesia telah mengalami kemunduran. Indikator tersebut terkonfirmasi dengan hasil survei UNESCO. Data lainnya masih dari UNESCO juga menggambarkan bagaimana rendahnya keinginan membaca orang Indonesia. Indeks membaca kita sekitar 0,001%. Artinya dalam setiap 1000 orang, hanya satu yang memiliki minat membaca. Ironis bukan?

Hingga saat ini, Indonesia masih selalu tergagap-gagap ketika berhadapan dengan tradisi baca tulis. Masyarakat kita lebih suka bercerita ketimbang membaca apalagi menulis. Ketertinggalan literasi kita semakin kentara saat teknologi informasi dengan kecepatan yang tak terduga sebelumnya. Kecepatan dan kebebasan mengakses informasi sudah menjadi bagian gaya hidup sehari-hari. Media sosial menjadi lahan favorit untuk menyampaikan pendapat dan menyebarkan berita. Sayangnya, penyampaian pendapat dan penyebaran berita tersebut tak disertai dengan klarifikasi dan konfirmasi lebih dahulu. Akibatnya dunia maya penuh dengan campur fakta dan hoaks.

Dalam sebuah esai yang ditulis Zen R.S. mengungkapkan bahwa bahaya dari rendahnya minat baca (literasi) adalah tingginya minat komentar yang diungkapkan di ruang publik bernama media sosial akan dianggap sebagai kebenaran oleh pembacanya. Ironisnya. Kebenaran tak lagi ditakar dari akuratnya data melainkan dari banyak follower atau like. Dalam konteks demikian, literasi menjadi penting dan mendesak. Literasi bukan hanya sekedar membaca dan menulis. Literasi erat dengan cara berpikir, cara mengelola informasi, cara bersikap dan cara menyelesaikan masalah. Seseorang dengan tingkat literasi mumpuni memiliki kemampuan berpikir kritis. Sebaliknya, rendahnya tingkat literasi akan membuat seseorang mudah terprovokasi. Semoga bermanfaat! #atmaGo #literasiIndonesia

  Komentar untuk Rendahnya Literasi, Mudahnya Terprovokasi

Masuk ke akun AtmaGo kamu untuk ikut memberi komentar!

Masuk  atau  Daftar
Jadilah yang pertama memberi komentar!