Ratusan Keluarga di Desa Cibalung Kesulitan Air Bersih Jika Kemarau

56316 medium img20190329111157
Oleh : Husnul Khatimah

CIJERUK, AYOBOGOR.COM—Ketersediaan air bersih di Kabupaten Bogor masih menjadi permasalahan yang ada di lingkungan masyarakat. Setidaknya berdasarkan catatan Pemerintah Kabupaten Bogor warga di 17 Kecamatan mengalami kesulitan air bersih ketika musim kemarau.

"Di Kabupaten Bogor memang ada 17 kecamatan yang mengalami kesulitan air tapi itu tidak semua wilayah, jadi di 17 kecamatan itu ada yang kesulitan ada yang tidak," ujar Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor Burhanudin, Jumat (29/3/2019).

Salah satu potret warga yang merasakan kesulitan air di negeri tegar beriman ini adalah warga Kampung Muara Cihideung, Desa Cibalung, Kecamatan Cijeruk. Berdasarkan pengakuan warga setempat, air bersih sulit didapatkan sejak lama.

"Sudah lama banget, mungkin puluhan tahun kami merasa kesulitan air bersih jika musim kemarau datang," ujar Royanah yang merupakan warga RT02 RW04, Kampung Muara Cihedeung.

Royanah mengatakan, jika musim kemarau, Kali Cisadane yang berada di bawah perkampungan mereka menjadi tumpuan warga untuk mendapatkan air bagi keperluan sehari-hari.

"Kalau kemarau di sini kering, mau gak mau kami turun ke sungai kira-kira setengah kilometer jaraknya ke kali Cisadane, kita, warga ambil air di sana buat nyuci, mandi, dan kebutuhan lainnya," kata Royanah.

Sayangnya, sambung Royanah, air yang mengalir di Kali Cisadane itu tidak bisa digunakan untuk minum dan masak. Bukannya kondisi air yang tidak jernih atau bau, namun warga takut jika air tersebut tidak sehat untuk dikonsumsi.

"Kondisi air sih jernih gak bau juga cuma kalau dipakai buat masak atau minum kita gak berani, biasanya kalau sudah kekeringan warga pada beli galon, air kemasan buat masak, ya harus begitu karena gak ada air bersih," katanya

Kepala Desa Cibalung Rusyandi mengatakan, setidaknya ada ratusan Kepala Keluarga di Kampung Muara Cihideung yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih ketika musim kemarau.

"Di sini hampir 100 KK yang tinggal dengan dua RT yang memang musim hujan banyak air tapi kalau musim kemarau apalagi kemarau panjang ini masyarakat merasa kesulitan dengan air bersih sehingga mereka berbondong-bondong datang ke sungai, nyuci, mandi, dan segala macam," kata Rusyandi.

Dia mengatakan, ratusan KK di kampung yang berada di daerah ketinggian ini biasanya memanfaatkan sumur tradisional sebagai sumber air bersih mereka. Namun, sumur tradisional ini biasanya surut bahkan kering ketika musim kemarau panjang datang.

"Air sumur tradisional di rumah masing-maisng kalau kemarau datang air sumur itu pada surut airnya sehingga terpaksa ke sungai dan yang namanya di kampung tidak semua warga bisa memiliki sumur tradisional sehingga ketika musim hujan pun juga masih ada beberapa warga yang harus menumpang untuk dapat air bersih, mereka saling bantu saja," katanya.

Rusyandi menambahkan, setelah puluhan tahun warga sulit mendapat air bersih kala kemarau, kini mereka mulai terbantu dengan adanya sumur bor yang diresmikan hari ini oleh Kepala Pusat Air dan Geologi Tata Lingkungan Kementerian ESDM.

"Cuma ini belum tersalurkan lansung ke rumah warga. Jika perlu air masyarakat yang harus mendatangi ini (sumur bor), pipanisasi belum ada. Insyallah ke depannya tugas kami melakukan pipanisasi untuk masing-masing rumah," katanya.
Sudah dilihat 36 kali

Komentar