Prepegan, Tradisi Brebes Menyambut Kemeriahan Lebaran

26755 medium post 35943 b68b56e7 2f71 443e 9d35 e82bfd61349e 2018 06 14t23 05 06.012 07 00
 Bagi sebagian besar masyarakat Brebes, satu hari menjelang lebaran merupakan hari persiapan yang harus dimaksimalkan dengan baik. Persiapan yang dilakukan di antaranya sajian menu lebaran dan kelengkapan lainnya. Semua itu dirangkum dalam tradisi "Prepegan".

Menurut Sejarawan Brebes Wijanarto, secara umum, Prepegan diartikan sebagai situasi menjelang atau menyambut hari Raya Idulfitri. "Istilah Prepegan berasal dari bahasa Jawa yakni mrepeg yang maknanya mendesak, mendadak, tergesa-gesa.

Urgensi dari istilah Prepegan mengarah pada bagaimana masyarakat Brebes secara cepat dalam waktu dua hari biasa memperlengkap semua kebutuhan lebaran.

Prepegan sendiri dibagi menjadi dua, berdasarkan intensitas dan volume transaksinya. "Ada Prepegan cilik pada H-2 dan Prepegan gede pada H-1,"

Menurut Wijan, ada ciri yang menarik setiap kali Prepegan digelar. "Prepegan identik dengan melonjaknya kebutuhan dan ramainya pasar," katanya.

Dengan kondisi demikian, maka dapat dipastikan sirkulasi perputaran uang cukup besar. Hal itu juga berakibat pada melonjaknya kebutuhan tertentu yang diperlukan hingga akhirnya harga bisa melambung tinggi.

"Dapat dikatakan bahwa, saat Prepegan inilah, manusia menjadi makhluk konsumtif, makhluk pembelanja atau homo sumptibus. Penyebabnya tak lain adalah berpadunya kebutuhan dan gaya hidup," terang Wijan.

Wijan memberikan konteks yang menarik dalam memaknai momen Prepegan. Yakni bagaimana​ sebuah tradisi yang bisa menggeser makna spiritual menjadi duniawi. "Pada konteks ini, terdapat pasar, komodifikasi yang membentuk perilaku manusia dalam memaknai Idulfitri pada tradisi Prepegan," paparnya.

Meski demikian, sisi positif yang dapat dirangkum dari Prepegan bisa menambah mobilitas pasar dan ekonomi kreatif. Di pasar induk Brebes, waktu Prepegan menjadi sebuah acara khusus untuk berbelanja. Proses jual beli lebih ramai dengan bertambahnya pemudik yang pulang ke kampung halamannya.

"Yang menarik adalah, bagaimana arus mudik yang melintas dan bertemu dengan pembeli di Jalur Pantura Brebes tepatnya di Pasar Induk. Hal tersebut seakan menjadi pengingat bahwa sebentar lagi datang lebaran," terang Wijan.

Saat Prepegan, banyak dijual beberapa produk khas lebaran. Di antaranya selongsong ketupat dari janur, bunga untuk ziarah makam dan batu nisan. Barang tersebut biasanya dijual oleh pedagang dadakan yang meramaikan pasar. Bahkan hingga memakan hampir separuh badan jalan.

Ruas perempatan pasar induk ke arah utara, yang memang ditutup oleh jajaran Satlantas Polres Brebes itu pun digunakan untuk berjualan dan area parkir hingga ke badan jalan sepanjang 50 meter.

SUMBER: PANTURA POST
Sudah dilihat 80 kali

Komentar