PMI Gelar Lokakarya Konsultasi Pemutakhiran Ina-Safe dan Pemanfataan Ina-Risk untuk FbA

65690 medium img 20190701 232242 465 65693 medium img 20190701 232242 465
Forecast-based Early Action (FbA) merupakan sebuah pendekatan baru untuk mengedepankan aksi dini (siaga darurat) berdasarkan informasi prakiraan cuaca atau iklim yang handal akan berlangsungnya kejadian bahaya hidrometeorologi dalam waktu dekat. Pendekatan FbA memerlukan prasyarat, diantaranya, kapasitas prakiraan cuaca yang baik, kebijakan pendanaan aksi dini (siaga darurat), SOP aksi dini serta kapasitas organisasi pelaksana aksi dini dan tanggap darurat. Percontohan FbA telah dilaksanakan di sejumlah negara oleh IFRC, Red-Cross Climate Centre dan German-Red-Cross bersama sejumlah mitra, diantaranya di Peru, Haiti, Phillipina dan Nepal.
Komponen Gerakan Palang Merah akan membangun dan melaksanakan konsep FbA untuk diterapkan oleh Palang Merah Indonesia (PMI) dalam kegiatan penanggulangan bencana di Indonesia maupun dalam rangka mendukung Pemerintah melaksanakan siaga darurat. FbA akan dilakukan terhadap ancaman banjir (termasuk longsor) dan kekeringan. PMI bersama IFRC dan Red-Cross Climate Centre telah melakukan kajian kelayakan pelaksanaan FbA di Indonesia. Kajian ini mendalami tiga hal, yakni kapasitas prakiraan cuaca dan iklim, kebijakan dan tatakelola terkait dengan siaga darurat, serta kapasitas organisasi pelaksana siaga darurat/tanggap darurat (PMI dan kelembagaan pemerintah daerah pada tingkat daerah aliran sungai). Hasil kajian ini berpotensi memberikan manfaat bagi penguatan kebijakan dan kapasitas pelaksanaan siaga darurat oleh Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota serta oleh Palang Merah Indonesia (PMI).
Sebagai bagian dari pengembangan konsep FbA, Red Cross/Red Crescent Climate Centre (Climate Centre) dan Kartoza Pty (Ltd.) meyelenggarakan kegiatan pemutakhiran Ina-Safe dan penggunaan Ina-Risk untuk pelaksanaan FbA. IFRC dan PMI mendukung kegiatan tersebut sebagai bagian dari kegiatan palang merah dalam mengembangkan FbA di Indonesia.
Namun, menerapkan FbA seringkali cukup sulit, karena ketika prakiraan hidrometeorologis tiba, masih belum jelas apa dampak yang akan ditimbulkan bagi masyarakat dan harta benda (Rumah hancur? Jalan ditutup? Di mana?). Untuk memilih aksi dini yang tepat di tempat yang tepat, para pelaku kemanusiaan membutuhkan informasi tentang di mana dampak potensial akan berlangsung. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, gerakan palang merah dan mitra telah mengadopsi pendekatan Prakiraan Berbasis Dampak (Impact-based Forecast), yang mengembangkan peta di mana dampak paling kritis diperkirakan akan terjadi, berdasarkan pada perkiraan kejadian ekstrem. Ini didasarkan pada analisis historis peristiwa ekstrem dan dampaknya, dan memungkinkan Gerakan Palang Merah untuk memutuskan di mana (dan apa jenis) aksi dini yang harus dikerahkan. Dengan demikian IbF adalah menjadi bagian dan mendukung FBA.
Meskipun saat ini telah ada beberapa (jika ada) sistem untuk mendukung orang untuk melakukan Prakiraan Berbasis Dampak, telah ada system yang memungkinkan orang untuk menganalisis dampak bencana. InaSAFE (http://inasafe.org) adalah salah satu system ini, yang memungkinkan negara mana pun untuk menggabungkan informasi tentang peristiwa ekstrem dengan informasi kerentanan dan paparan untuk menganalisis risiko. Pengguna dapat mengajukan pertanyaan tentang berbagai potensi kejadian ekstrem, serta memahami risikonya. Misalnya, pengguna dapat bertanya: "Jika terjadi banjir, berapa banyak struktur bangunan yang mungkin terpengaruh?", Perangkat lunak akan menggabungkan informasi bahaya banjir dengan data paparan (misalkan data yang diunduh dari OpenStreetMap) untuk memperlihatkan struktur yang terdampak. Di sejumlah tempat, hal ini telah menjadi tantangan oleh prakiraan banjir bertumpu hanya pada lokasi pengukur sungai tertentu, sementara itu tidak tersedia informasi mengenai area di tepi sungai yang kemungkinan akan tergenang air.
Dengan memanfaatkan teknologi yang ada ini, proyek ini menggabungkan prakiraan waktu-nyata dari kejadian ekstrem aktual ke dalam perangkat lunak InaSAFE. Ini akan memungkinkan pengguna untuk melihat manusia dan harta benda mana yang kemungkinan akan terdampak oleh kejadian yang diperkirakan akan terjadi dalam beberapa hari mendatang. Dengan informasi Prakiraan Berbasis Dampak ini, mereka dapat memprioritaskan aksi dini di tempat-tempat yang paling membutuhkannya.
Tujuan dari proyek ini adalah untuk mendukung pengembangan konsep Aksi Dini Berdasarkan Prakiraan Cuaca. Konsep ini bisa menjadi alat transformatif untuk memanfaatkan sejumlah besar informasi GIS pada OpenStreetMap dan kumpulan data kerentanan untuk membantu kelompok rentan dan masyarakat umumnya sebelum bencana melanda.
Untuk mencapai tujuan pada proyek ini, kegiatan berikut akan dilakukan: (1) memperkenalkan proyek ke BNPB (2) menyelenggarakan lokakarya dengan pemangku kepentingan yang relevan untuk mengumpulkan umpan balik tentang informasi yang diperlukan untuk mendukung skenario aksi awal berbasis prakiraan dan input data yang diperlukan dan data yang tersedia untuk InaSafe yang ditingkatkan dan menggunakan Ina-Risk, (3) pengembangan fungsi baru Ina Safe dan Ina-Risk untuk mendukung aksi dini berbasis informasi prakiraan cuaca/iklim (siaga darurat). Pelaksanaan proyek ini di Indonesia akan langsung dikelola oleh Red-Cross Climate Centre di Indonesia dan tenaga ahli KARTOZA serta didukung oleh PMI dan IFRC.
Sebagai langkah awal, lokakarya konsultasi “Pemutakhiran Ina-Safe dan Pemanfaatan Ina Risk Untuk Pelaksanaan FbA” akan diselenggarakan bersama oleh PMI, KARTOZA, IFRC/Red-Cross Climate Centre. Lokakarya konsultasi akan dihadiri oleh BNPB (Direktorat Kesiapsiagaan dan Direktorat PRB), Pusat Meterologi Publik BMKG dan sejumlah organisasi kemanusiaan/penanggulangan bencana.


Sudah dilihat 103 kali

Komentar