Perpusjal Mendobrak Minat Baca Warga Gunungkidul

46158 medium post 52945 16ed1829 2a00 441e 9006 3e50a3fde86c 2019 01 14t20 21 24.377 07 00
Wonosari, atmaGo
Ada banyak hal yang punya andil untuk mempengaruhi hidup kita, seperti buku, musik, hobi 2dan lain-lain. Dan buku merupakan jendela dunia yang merupakan sumber literasi yang luar biasa.
Berawal dari hobi membaca dan kecintaan kepada buku, sebanyak 15 pemuda di Kabupaten Gunungkidul menginisiasi berdirinya Perpustakaan Jalanan (Perpusjal). Kebanyakan dari mereka adalah pelajar, baik di tingkat sekolah menengah maupun di perguruan tinggi.
Komunitas ini mulai aktif sejak awal Oktober 2018, setiap Hari Minggu sore sekitar pukul 18.00 WIB sampai malam mereka mulai membuka lapak baca di Panggung Rakyat Taman Kuliner Alun-alun Wonosari. Dimulai dari obrolan ringan di warung kopi, lahirlah gagasan untuk membuat sebuah komunitas perpustakaan jalanan.
Awalnya ya cuma temen-temen ngopi, terus diajak bikin perpusjal. Dimulai dari kayak gitu, ngobrol-ngobrol panjang, akhirnya jadilah tanggal 11 Oktober kalau nggak salah, itu pertama kita ngelapak,” ujar salah satu anggota Perpusjal Gunungkidul, Seno Aji, pelajar MA Darul Qu'ran warga Besari, Desa Siraman, Kecamatan Wonosari, Sabtu (12/01/2019).
Menurutnya, perpustakaan jalanan ini bukan sekadar untuk mendongkrak daya literasi masyarakat, tetapi juga sebagai wadah masyarakat menjalin interaksi sosial. Pasalnya selain membaca, pengunjung juga bisa saling diskusi santai di lapak mereka.
Karena temen-temen itu pada hobi baca buku, ada juga yang dari pers mahasiswa. Terus buku itu paling mudah sih bagi kita. Berawal dari kayak gitu nanti kita bisa ada diskusi-diskusi kecil lah, pengunjung-pengunjung nanti juga bisa ikut ngobrol, diskusi-diskusi santai, jadi asyik. Lebih intim kalau ngelapak itu,” tambah Seno yang kini masih duduk di bangku kelas 2 MA.
Menurut Seno, tingkat literasi masyarakat Gunungkidul saat ini sangat memperihatinkan. Hal ini dia lihat ketika masih sangat banyak orang-orang yang tak acuh dengan keberadaan mereka ketika membuka lapak. Kendati begitu, masih ada beberapa kelompok masyarakat yang cukup antusias, kebanyakan dari mereka justru anak-anak kecil.
Sampai sekarang buku yang dimiliki Perpusjal Gunungkidul ada sekitar 100 buku dari berbagai genre yang mereka kumpulkan dari koleksi pribadi anggota-anggotanya. Mereka tidak membatasi jenis buku apapun, mulai dari buku anak-anak, novel, kumpulan cerpan, sampai buku-buku penelitian mereka bawa setiap membuka lapak.
Semua jenis buku kita tampung, buku apa saja. Buku anak-anak ada, buku kanan kiri tengah lah, sebuku-bukunya,” ujar Seno sambil berkelakar.
Kedepan mereka bertekad untuk meluaskan jaringan, tidak hanya di Wonosari tetapi di tempat-tempat lain di Gunungkidul dengan harapan masyarakat akan semakin melek literasi. Selama ini kendala utama yang mereka hadapi adalah cuaca.
"Jika turun hujan bisa di pastikan lapak kami tutup".
Pasalnya ketika hujan mereka tidak bisa membuka lapak mengingat buku-buku yang rawan rusak. Selain itu, rendahnya atensi atau perhatian dari masyarakat juga dinilai menjadi tantangan tersendiri bagi mereka.

Karena kebanyakan anggota mereka sedang sibuk dengan urusan studi, saat ini untuk sementara Perpusjal Gunungkidul belum membuka lapak. Rencananya mereka akan kembali membuka lapak lagi di Panggung Rakyat Taman Kuliner mulai Bulan Februari besok. (*)
Sudah dilihat 53 kali

Komentar