Perpaduan seni dan komunikasi dalam pagelaran wayang kulit

23840 medium img 20180413 wa0049
KEDIRI. Pagelaran wayang kulit semalam suntuk dalam rangka buka giling PG Djengkol kemarin malam, menjadi hiburan tersendiri bagi warga Desa Jengkol pada khususnya dan Plosoklaten pada umumnya. Danramil Plosoklaten Kapten Cpl Pratikno, Kapolsek Plosoklaten AKP Suharsono, Camat Plosoklaten Elok Ertika dan Kepala Desa Jengkol Komarudin, turut menyaksikan kesenian asli nusantara ini, sabtu (14/04/2018)

“Dari tahun ke tahun kami tidak lupa warisan budaya leluhur kita. Kami senantiasa memelihara budaya itu. Tiap tahun kami mengadakan wayang kulit semalam suntuk yang bisa disaksikan warga Jengkol atau Plosoklaten. Bagaimanapun juga ,wayang kulit sudah menjadi ciri khas kalau itu bagian budaya Indonesia,” kata Hendra S. selaku pimpinan PG Djengkol.

Lanjutnya, kehadiran PG Djengkol di Plosoklaten ini sudah lama, bahkan dirinya mengakui keberadaan pabrik gula yang berdiri di era kolonial Belanda ini, sudah ada jauh sebelum ia lahir, bahkan orangtuanya sendiri juga masih belum lahir. Banyak cerita yang mengiringi keberadaan PG Djengkol ini, termasuk pasokan tebu yang kian menurun.

“Dulu, pasokan tebu dari warga Plosoklaten sudah mencukupi kebutuhan PG Djengkol, tapi itu dulu. Sekarang, pasokan tebu bukan saja dari Kediri, bahkan kita juga dapat dari luar Kediri. Bisa dimaklumi, dulu banyak lahan tebu, tetapi sekarang sudah berubah menjadi bangunan rumah,” sambungnya.

Dirinya sendiri mengakui sangat kagum, bagaimana bisa di masa kolonial Belanda, moda transportasi bisa dibangun ditengah lahan yang tidak datar alias pegunungan. Apalagi dulunya lokasi keberadaan PG Djengkol adalah hutan, bisa disulap menjadi kawasan industri gula.

Dengan lakon “Tumurune Wahyu Purbo Alas”, ki dalang Rudi Gareng dari Blitar menghipnotis penonton yang memadati areal PG Djengkol, bahkan hingga pergantian hari, warga masih setia menyaksikan hiburan rakyat ini.
Sudah dilihat 44 kali

Komentar