PERKAYA JIWANYA DENGAN CINTA

49858 medium fb img 1549975507080 1
Menghitung jumlah foto yang tergantung sepanjang jalan
Saking banyaknya sampai menganggu pemandangan
Namun biarlah ini jadi pembelajaran
Pendidikan politik memang perlu diajarkan
Tak mengapa walau di pinggir jalan

Akhir-akhir ini kusering bersedih hati
Acap teringat tingkah anak negeri
Sifat pemberani seringkali di salah arti
Dengan durhaka pada gurunya sendiri
Sungguh tak habis pikir dengan semua ini

Dari deretan puluhan foto yang tergantung sepanjang jalan, imajinasiku mengembara. Ini adalah bagian dari demokrasi. Dalam Wikipedia, demokrasi di Indonesia merupakan suatu proses sejarah dan politik perkembangan demokrasi di dunia secara umum, hingga khususnya di Indonesia, mulai dari pengertian dan konsepsi demokrasi menurut para tokoh dan founding fathers kemerdekaan Indonesia. Selain itu juga proses ini menggambarkan perkembangan demokrasi di Indonesia dimulai saat kemerdekaan Indonesia, berdirinya Republik Indonesia Serikat, kemunculan orde lama lalu orde baru hingga proses konsolidasi demokrasi pasca reformasi 1998 hingga saat ini.

Lalu apakah tunas-tunas bangsa itu perlu diberikan pendidikan politik untuk membentuk budaya politik, demi sebuah demokratisasi yang berjalan baik? Tentu saja, bahkan dari jenjang pendidikan terendah sekalipun, atau dari sejak berada pada level pendidikan anak usia dini (PAUD), namun tentu dengan teknik dan pendekatan yang relevan dengan tahap perkembangan anak.

Menjadi konsumen media sosial yang cukup aktif, aku sendiri sering merasa gerah melihat budaya politik kita yang digambarkan secara vulgar di media sosial. Tak perlu kuceritakan kembali disini tentang berita-berita yang kadang mengaduk-aduk emosi itu. Namun dalam hal ini aku sering berimajinasi, suatu saat berada di sebuah alam demokrasi yang sejuk. Dimana banyak pribadi mendiskusikan isi otak dan hatinya dengan tenang dan lisan terjaga. Saya impikan ketika menjelang pemilu, para simpatisan berlomba-lomba menunjukkan kelebihan dari masing-masing jagoannya. Ya…menunjukkan kelebihan, bukan berlomba-lomba membuka aib satu sama lain, bukan…
Tapi mau tidak mau, suka tidak suka, gerah ataupun sejuk, disinilah kita berada saat ini…
Lalu apakah hubungannya antara iklim demokrasi dan sifat pemberani yang disalah pahamkan oleh anak-anak kita akhir-akhir ini?. Sepertinya tidak begitu erat hubungan keduanya. Hanya saja keduanya merupakan anak sungai dari sungai besar bernama pendidikan.

Saya kembali teringat kejadian siang tadi di PAUD. Anak usia TK A itu mempunyai nama panggilan Gendis. Ketika salaman hendak pulang, dia tidak mau melepaskan tanganku walaupun aku memberi isyarat bahwa di belakangnya masih banyak teman yang menunggu giliran untuk salaman. Anehnya Si gendis ini belum juga mau melepaskan tanganku. Sampai kutanya dengan lembut, sebenarnya maunya apa. Akhirnya aku benar-benar terharu setelah mengetahui maunya apa, dia minta ijin mau mencium pipiku sebelum pulang. Entah apa yang ada dibenaknya, yang jelas selama dua hari terakhir ini, dia lebih sering berada di pangkuanku selama kegiatan di PAUD, aku memang memberikan perhatian lebih, karena kutahu dia sedang kurang sehat.

Kejadian siang tadi kembali melambungkan imajinasiku, kelak setelah tunas-tunas kecil ini tumbuh, mereka akan menjadi remaja yang kaya cinta, karena waktu kecilnya ia mendapatkan limpahan cinta dari sekelilingnya baik dirumah ataupun disekolah, hingga gurunya tetaplah diperlakukan sebagai guru yang harus di patuhi dan dimuliakan, bukan justeru di lecehkan atau bahkan dianiaya. Kemudian setelah dewasa, mereka akan menjadi penyejuk di tengah-tengah lingkungannya. Kalaupun dia memilih menjadi politisi, ia adalah politisi yang berjiwa besar dan berlisan terjaga, sehingga dunia politik menjadi sejuk, sesejuk jiwanya yang kaya cinta sejak dini.

Semoga yang Maha Rahim merahmati…







Sudah dilihat 52 kali

Komentar