PERINA MEMILIH BERSATU

36394 medium post 44578 5b6b1727 88e4 4511 8ac9 dda1ec786d2a 2018 10 19t17 04 45.493 08 00
Cuaca di Kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat saat ini sedang panas. Panas dalam arti yang sesungguhnya, panas juga dalam artian nuansa politik. Pasca Pilgub, didera oleh situasi politik desa (pemilihan kepala desa).
Dalam proses ini, perang jargon dan nurani tentu melahirkan warna sendiri. Ragu terhadap siapa yang akan dipilih termasuk dasar dalam menentukan pilihan juga menjadi bagian yang tak terpisahkan. Menyadari hal tersebut, seorang kandidat calon kepala desa di Desa Perina Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah melakukan pendekatan yang berbeda. Mengisi masa kampanye yang disediakan oleh Panitia Pemilihan Kepala Desa Perina, Yahum SH (calon Kades Perina Nomor Urut 1) bersama pendukungnya menggelar kegiatan tabligh dengan tema Menjalin Ukhuwah untuk Perina Bersatu. Kegiatan dilakukan dengan mengundang penceramah fenomenal Lombok Tengah Al Ustad Lalu Supardan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ustad Kutilang.
Materi yang disampaikan tentang pentingnya seorang pemimpin dalam suatu kaum, termasuk kewajiban seorang pemimpin diharapkan dapat menjadi bahan renungan bagi masyarakat Desa Perina. Mengingat seluruh penduduk desa ini muslim, maka seyogyanyalah pendekatan dalam memilih pemimpin juga dilakukan dalam konteks Islam.
Dalam sebuah kaidah ushuliyah berbunyi “al-umuru bimaqasidiha” (setiap perbuatan itu tergantung kepada niatnya). Artinya, seorang yang mencalonkan diri untuk menduduki suatu jabatan dengan tujuan ingin memperbaiki kehidupan umat serta jalan untuk menebar syiar agama merupakan suatu perbuatan yang mulia. Artinya, setiap jabatan yang diduduki akan senantiasa dimanfaatkan sesuai aturan agama dan hukum yang berlaku.
Di samping itu pula kewenangan yang dimilikinya itu dapat digunakan untuk kemaslahatan agama dengan membuat aturan yang berpihak dalam kemajuan ajaran agama. Jabatan itu penting agar kita punya pengaruh dan kewenangan sehingga dengan jabatan tersebut dapat melahirkan kebijakan yang pada ujungnya memberi kesejahteraan dalam masyarakat.
Tidak salah kiranya jika saya mengutip referensi Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin jilid 3 menjelaskan bahwa hakikat dari seorang pemimpin adalah pengaruh yaitu sejauh mana ia disegani dan dicintai oleh rakyat dengan hati yang iklhas. Rakyat perlu teliti dan jeli dalam memilih calon pemimpin tidak hanya melihat popularitas yang dibangun-bangun oleh sekelompok orang maupun yang diagung-agungkan oleh media massa sehingga jadi terkenal. Mengenal visi dan misi serta latar belakang seorang calon pemimpin itu lebih penting dari pada melihat dari golongan mana dia maju sebagai kandidat pemimpin.
Setidaknya ada 4 hal yang perlu diperhatikan seorang pemimpin dalam konteks imamah. Hal dimaksud adalah sidik, amanah, fathonah dan tabligh. Empat komponen mendasar ini juga dapat menjadi patok awal penilaian masyarakat terhadap pemimpin yang akan dipilih, agar dapat mengurus masyarakat yang dipimpin dengan baik. Maka cerdas dalam memilih juga menjadi tuntutan. Jika setiap orang menjadi pemilih yang cerdas, secara tidak langsung kita telah menolak pemimpin yang salah.
Mari berubah bersama #atmaGO
Wujudkan upaya warga bantu warga
Sudah dilihat 82 kali

Komentar