Perempuan Dan Kemerdekaan Sebuah Refleksi HUT RI ke 73

30503 medium fb img 1534421289216
Wonosari, atmaGo
Hiruk pikuk perayaan 17 Agustus sudah menjadi sebuah tradisi di tiap tahunnya.

Bung Hatta pernah berpesan, “kemerdekaan kita bukan hanya merdekanya sebuah bangsa dari penjajahan, tetapi juga merdekanya setiap individu warga negara dari segala macam penindasan dan penghisapan.”

Dengan kata lain, ketika masih ada bagian rakyat Indonesia yang belum terbebas dari eksploitasi, berarti kemerdekaan kita belum sempurna. Masih banyak orang Indonesia, terutama dari kalangan miskin, belum pernah mencicipi rasanya terbebas dari eksploitasi. Mereka masih terus diperbudak oleh kemiskinan, kebodohan, buta-huruf, pengangguran, hukum yang tidak adil, dan lain-lain.

Namun, yang paling menyedihkan, bahwa kaum perempuan Indonesia sampai di abad modern ini ternyata belum merdeka. Di sini, soal pengertian merdeka yang sesungguhnya, bahwa kemerdekaan adalah kekuasaan untuk menentukan diri sendiri untuk berbuat atau tidak berbuat. Dengan kekuasaan di tangannya, seorang manusia merdeka akan mengembangkan diri sebagai manusia utuh.

Menurut saya, ada tiga hal yang menunjukkan betapa perempuan Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Pertama, perempuan Indonesia belum merdeka atas tubuhnya sendiri. Buktinya, sampai sekarang ini tubuh perempuan masih menjadi sasaran eksploitasi dan kekerasan. Ini terlihat jelas dengan maraknya kasus pemerkosaan, pelecehan perempuan, kuatnya stereotipe negatif terhadap tubuh perempuan, dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Kekerasan seksual tersebut menandai masih kuatnya anggapan bahwa tubuh perempuan hanyalah alat pemuas bagi superioritas laki-laki. Cara pandang ini berkaitan erat dengan budaya patriarki.

Ditambah lagi, kapitalisme yang menempatkan perempuan lebih sebagai obyek seksual dan objek eksploitasi untuk kepentingan bisnis. Demi mengejar keuntungan, kapitalisme memperdagangkan tubuh perempuan melalui industri pornografi, iklan komersil, industri hiburan (musik, film, sinetron), dan industri mode pakaian.

Kedua, perempuan Indonesia belum merdeka untuk memasyarakat atau mengaktualisasikan dirinya sebagai warga bangsa yang setara dengan warga bangsa yang lainnya. Di berbagai lapangan kehidupan, seperti ekonomi, politik, sosial dan budaya, perempuan masih mengalami perlakuan diskriminatif.

Di bidang ekonomi, memang banyak perempuan yang sudah tampil sebagai pengusaha. Namun, perempuan Indonesia masih sulit berpartisipasi dan sejajar dengan pria dalam pekerjaan.

Di bidang politik, partisipasi perempuan juga masih sangat kecil. Keterwakilan perempuan Indonesia di parlemen masih sangat rendah.

Dalam ruang sosial-budaya, langkah perempuan ketika keluar rumah masih sering mendapat cap negatif. Terlebih bila perempuan keluar rumah pada malam hari. Dalam ruang-ruang sosial, seperti pertemuan warga, kehadiran perempuan sangat kecil.

Ketiga, perempuan Indonesia belum merdeka untuk mengembangkan kapasitas dirinya sebagai manusia. Tentu saja, supaya bisa mengembangkan diri, manusia perlu memenuhi prasyarat, seperti makanan yang cukup, kesehatan yang baik, pendidikan, dan kemerdekaan untuk mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.

Masalahnya, karena rintangan struktur ekonomi-politik, perempuan sulit mengakses pendidikan dan kesehatan yang baik. Data Kemendikud RI menyebutkan, hingga 2010 jumlah perempuan Indonesia yang belum melek huruf mencapai 5 juta lebih.

Hal-hal di atas membuat emansipasi perempuan berjalan lamban. Padahal, emansipasi sebuah bangsa tidak boleh terpisah dengan emansipasi seluruh rakyatnya, termasuk perempuan. Hanya dengan memberikan kesetaraan penuh kepada seluruh warga negara, termasuk kesetaraan gender, bangsa Indonesia bisa mencapai keadilan sosial.(*)
Sudah dilihat 45 kali

Komentar