Penyintas Tsunami Palu Keluhkan Pasokan Air yang Keruh

21 July 2019, 19:58 WIB
7 0 91
Gambar untuk Penyintas Tsunami Palu Keluhkan Pasokan Air yang Keruh
Sejumlah penyintas tsunami Palu yang tinggal di hunian sementara atau huntara di Kelurahan Mamboro, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu, Sulawesi Tengah, mengeluhkan pasokan air ke huntara mereka yang keruh. Kondisi tersebut membuat para penyintas terpaksa membeli air isi ulang untuk memenuhi keperluan memasak dan minum mereka.

Hasmiati (33 tahun), salah seorang penyintas yang menghuni huntara di Mamboro misalnya, mengakui distribusi air ke tempat penampungan para penyintas tergolong lancar. Hanya saja kondisinya tidak layak untuk digunakan untuk keperluan mandi dan cuci karena airnya sangat keruh. Selain keruh, kata Hasmiati, air tersebut terkadang bercampur tanah, hingga tidak dapat dipergunakan untuk keperluan masak dan minum.

Ia mengaku tidak mengetahui penyebab pasokan air yang didistribusikan ke lokasi huntara tersebut, kualitasnya tak layak digunakan untuk keperluan air bersih. Padahal sebelumnya, kualitas airnya cukup jernih.

“Air yang lalu jernih waktu masih menggunakan pemasangan pipa dap yang pertama,” ujarnya.

Belakangan, setelah dilakukan pemasangan pipa berikutnya, ternyata air yang keluar sangat keruh. “Entah apa alasannya sehingga ditancapkan lagi pipa untuk mesin pompa air kedua,” ujar Hasmiati.

Hasilnya, air yang keluar dari pemasangan pipa berikutnya hanya bisa digunakan untuk keperluan cuci pakaian dan piring saja. Itupun harus diendapkan lebih dulu beberapa jam, sebelum digunakan.

Sedangkan untuk keperluan masak dan minum, terpaksa memesan air isi ulang dengan harga Rp 5.000 per galon. Dan, itu maksimal hanya bisa memenuhi kebutuhan air bersih maksimal dua hari saja.

Dia berharap kepada pemerintah agar pasokan air keruh yang terjadi pada penyintas di huntara Mamboro bisa segera dicarikan solusinya. "Biar kita tidak lagi mengeluarkan biaya, membeli air galon untuk keperluan masak dan minum," katanya.

Hal senada disampaikan Robert (43). Menurutnya, untuk keperluan masak dan minum, dia memesan air isi ulang. Dalam sepekan, terkadang dia bisa menggunakan empat galon air isi ulang.

"Jadi dalam satu bulan bisa 16 galon, artinya harus mengeluarkan uang Rp 80 ribu khusus untuk kebutuhan air bersih," ujarnya.

Ketua RT 02/RW02 Kelurahan Mamboro, Sudirman, menjelaskan jumlah penghuni di huntara Mamboro adalah 240 kepala keluarga. Mereka menempati 240 bilik di 20 unit huntara yang ada di Kelurahan Mamboro.

Dari 240 KK ini, katanya, selain mengeluhkan air yang keruh, para penyintas Mamboro juga mempertanyakan kepastian realisasi penyaluran jaminan hidup (Jadup) oleh pemerintah.

Persoalannya, para penyintas Mamboro selama ini hanya terus dijanjikan oleh pemerintah. “Sebelum puasa, sesudah lebaran, setelah tempati huntara, tapi nyatanya sampai detik ini belum ada kepastian,” ujar Sudirman.

Sumber : Palu Poso

  Komentar untuk Penyintas Tsunami Palu Keluhkan Pasokan Air yang Keruh

Masuk ke akun AtmaGo kamu untuk ikut memberi komentar!

Masuk  atau  Daftar
Jadilah yang pertama memberi komentar!

Related Posts

Terbaru


Terpopuler

  1. Dugaan Pencemaran Nama Baik, Hendly Tempuh Jalur Hukum

    Sandy Makal  di  Palu Kota  |  15 Jan 2020
  2. Rahmat Effendi Terjun Langsung Bersihkan Lumpur Sisa Banjir

    Indra Gunawan  di  Jatiasih, Bekasi Kota  |  12 Jan 2020
  3. BANYUWANGI SIAGA BENCANA

    Mbak Ning  di  Banyuwangi, Banyuwangi  |  10 Jan 2020
  4. RAPAT PERSIAPAN KOMUNITAS SENIMAN GURU LOMBOK TENGAH.

    Muhammad Rizal Suryadin  di  Batukliang, Lombok Tengah  |  11 Jan 2020

Komentar Terbanyak

  1. 9
    Komentar

    PENGENDANG BANYUWANGI (FATWA AMIRULLAH)

    fatwa amirullah kendang  di  Banyuwangi, Banyuwangi  |  17 Jan 2020
  2. 8
    Komentar

    MAKSIMALKAN ATMAGO SEBAGAI UPAYA KESIAPSIAGAAN BENCANA

    Agus Basuki RAPI  di  Banyuwangi, Banyuwangi  |  16 Jan 2020
  3. 5
    Komentar

    SAMPAH BAGAIKAN KELUARGA

    Konco Longok  di  Banyuwangi, Banyuwangi  |  16 Jan 2020
  4. 5
    Komentar

    BPBD BANYUWANGI SIAGA BENCANA(diklat pmi)

    Hendika Londho  di  Banyuwangi, Banyuwangi  |  17 Jan 2020