Penyintas Tsunami Palu Keluhkan Pasokan Air yang Keruh

67428 medium ec4ithrjjdrkflax803u
Sejumlah penyintas tsunami Palu yang tinggal di hunian sementara atau huntara di Kelurahan Mamboro, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu, Sulawesi Tengah, mengeluhkan pasokan air ke huntara mereka yang keruh. Kondisi tersebut membuat para penyintas terpaksa membeli air isi ulang untuk memenuhi keperluan memasak dan minum mereka.

Hasmiati (33 tahun), salah seorang penyintas yang menghuni huntara di Mamboro misalnya, mengakui distribusi air ke tempat penampungan para penyintas tergolong lancar. Hanya saja kondisinya tidak layak untuk digunakan untuk keperluan mandi dan cuci karena airnya sangat keruh. Selain keruh, kata Hasmiati, air tersebut terkadang bercampur tanah, hingga tidak dapat dipergunakan untuk keperluan masak dan minum.

Ia mengaku tidak mengetahui penyebab pasokan air yang didistribusikan ke lokasi huntara tersebut, kualitasnya tak layak digunakan untuk keperluan air bersih. Padahal sebelumnya, kualitas airnya cukup jernih.

“Air yang lalu jernih waktu masih menggunakan pemasangan pipa dap yang pertama,” ujarnya.

Belakangan, setelah dilakukan pemasangan pipa berikutnya, ternyata air yang keluar sangat keruh. “Entah apa alasannya sehingga ditancapkan lagi pipa untuk mesin pompa air kedua,” ujar Hasmiati.

Hasilnya, air yang keluar dari pemasangan pipa berikutnya hanya bisa digunakan untuk keperluan cuci pakaian dan piring saja. Itupun harus diendapkan lebih dulu beberapa jam, sebelum digunakan.

Sedangkan untuk keperluan masak dan minum, terpaksa memesan air isi ulang dengan harga Rp 5.000 per galon. Dan, itu maksimal hanya bisa memenuhi kebutuhan air bersih maksimal dua hari saja.

Dia berharap kepada pemerintah agar pasokan air keruh yang terjadi pada penyintas di huntara Mamboro bisa segera dicarikan solusinya. "Biar kita tidak lagi mengeluarkan biaya, membeli air galon untuk keperluan masak dan minum," katanya.

Hal senada disampaikan Robert (43). Menurutnya, untuk keperluan masak dan minum, dia memesan air isi ulang. Dalam sepekan, terkadang dia bisa menggunakan empat galon air isi ulang.

"Jadi dalam satu bulan bisa 16 galon, artinya harus mengeluarkan uang Rp 80 ribu khusus untuk kebutuhan air bersih," ujarnya.

Ketua RT 02/RW02 Kelurahan Mamboro, Sudirman, menjelaskan jumlah penghuni di huntara Mamboro adalah 240 kepala keluarga. Mereka menempati 240 bilik di 20 unit huntara yang ada di Kelurahan Mamboro.

Dari 240 KK ini, katanya, selain mengeluhkan air yang keruh, para penyintas Mamboro juga mempertanyakan kepastian realisasi penyaluran jaminan hidup (Jadup) oleh pemerintah.

Persoalannya, para penyintas Mamboro selama ini hanya terus dijanjikan oleh pemerintah. “Sebelum puasa, sesudah lebaran, setelah tempati huntara, tapi nyatanya sampai detik ini belum ada kepastian,” ujar Sudirman.

Sumber : Palu Poso
Sudah dilihat 49 kali

Komentar