Pengaruh 'Angin Kumbang' terhadap Perilaku Masyarakat Pantura Brebes

6 July 2018, 07:07 WIB
1 0 198
Gambar untuk Pengaruh 'Angin Kumbang' terhadap Perilaku Masyarakat Pantura Brebes
BREBES - Masyarakat Wilayah Pantura di Brebes dan sekitarnya tentu hafal dengan istilah angin kumbang. Angin ini bersifat panas dan kering pada siang hari dan dingin di malam hari. Hal tersebut disebabkan oleh rendahnya kelembaban udara. Angin ini biasanya berembus pada bulan-bulan pertengahan tahun seperti Juni, Juli, dan Agustus.
Angin Kumbang merupakan siklus pergerakan angin yang berasal dari Gunung Slamet bagian utara turun melintas wilayah Pegunungan Kumbang di Kabupaten Brebes. Angin ini bergerak dinamis ke utara karena adanya proses pemanasan ke arah lembah. Disebabkan kelembaban nisbi turun cepat sehingga udara yang tiba di wilayah Brebes, Cirebon dan Tegal menjadi panas dan kering pada siang.
Kendati hari ini sudah masuk pada bulan ke-7, menurut Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tegal, Hendy Andriyant, angin kumbang belum sepenuhnya terjadi di wilayah Pantura. "Analisa saya, fase angin kumbang belum terjadi sempurna," jelasnya kepada Panturapost.id, Minggu, 1 Juli 2018.
Kondisi tersebut menurut Hendy disebabkan adanya dinamika atmosfer yang membuat intensitas hujan masih sering terjadi. "Khususnya di wilayah pantura, masih terjadi hujan, sehingga angin kumbang tidak sempurna," tuturnya.
Sementara itu, Sejarawan Brebes Wijanarto menerangkan, angin kumbang bagi masyarakat Brebes mempunyai peranan penting dalam membentuk suatu perilaku bercocok tanam, khususnya bawang merah.
"Pada munculnya angin inilah petani Bawang Merah memulai aktivitas. Karena angin kumbang memiliki peranan penyerbukan bawang merah. Karena karekteristik bawang merah tidak memerlukan kelembaban udara tinggi dan volume air banyak," paparnya.
Sedangkan bagi nelayan pesisir pantura, fenomena hadirnya angin kumbang juga merupakan pertanda bahwa gelombang laut tinggi pada malam hari. Siklus angin ini berkisar antara bulan Mei hingga Oktober. Menurut Wijan, rentang waktu inilah yang menjadi pertanda transisi dari musim hujan menuju musim kemarau.
"Orang Brebes biasa sebut mangsa ketiga sudah hadir, artinya musim kemarau sudah datang menggantikan mangsa rendeng atau musim hujan," jelasnya.
Hadirnya angin kumbang juga menjadi pengingat oleh warga Brebes dan masyarakat pantura pada umumnya. Mengingat saat musim itu akan datang penyakit seperti flu dan batuk. "Masyarakat pantura mengkhawatirkan datangnya pagebluk atau musim banyak orang sakit yang ditandai lamanya hujan dan datangnya penyakit pada kemarau datang," papar Wijan.
Di kampung adat Jalawastu yang berada di Kecamatan Ketanggungan, Brebes, datangnya musim kemarau berarti persiapan penyimpanan panen musim sebelumnya dan persiapan musim tanam palawija. "Saat kemarau memuncak mereka akan menggelar upacara Ngaguyang Kuwu di Curug Rambukasang, agar Sang Pencipta menurunkan hujan," pungkas Wijan.
Kumparan.com

  Komentar untuk Pengaruh 'Angin Kumbang' terhadap Perilaku Masyarakat Pantura Brebes

Masuk ke akun AtmaGo kamu untuk ikut memberi komentar!

Masuk  atau  Daftar
Jadilah yang pertama memberi komentar!

Related Posts

Terbaru


Terpopuler

  1. Bupati Ancam Pecat Kadus dan Kaling Minim Pengawasan Kebersihan

    Muhammad Rizal Suryadin  di  Batukliang, Lombok Tengah  |  6 Jan 2020
  2. PEREMPUAN TANGGUH PERINA

    @ichaq_rasyid  di  Jonggat, Lombok Tengah  |  5 Jan 2020
  3. Dugaan Pencemaran Nama Baik, Hendly Tempuh Jalur Hukum

    Sandy Makal  di  Palu Kota  |  15 Jan 2020
  4. Organisasi Mahasiswa Daerah Melakukan Aksi Galang Dana Peduli Banjir Bekasi

    Abdul Malik Fajar  di  Bekasi Kota  |  4 Jan 2020

Komentar Terbanyak

  1. 5
    Komentar

    BPBD BANYUWANGI SIAGA BENCANA(diklat pmi)

    Hendika Londho  di  Banyuwangi, Banyuwangi  |  17 Jan 2020
  2. 5
    Komentar

    SAMPAH BAGAIKAN KELUARGA (Diklat PMI)

    Konco Longok  di  Banyuwangi, Banyuwangi  |  16 Jan 2020
  3. 5
    Komentar

    PULAU TABUHAN AKHIRNYA RESMI DISEWAKAN KE PERUSAHAAN SINGAPURA

    𝙈𝙊𝙃𝘼𝙈𝙈𝘼𝘿 𝙅𝘼𝙀𝙉𝙐𝘿𝙄𝙉  di  Wongsorejo, Banyuwangi  |  15 Jan 2020
  4. 5
    Komentar

    MAKSIMALKAN ATMAGO SEBAGAI UPAYA KESIAPSIAGAAN BENCANA (DIKLAT PMI)

    Agus Basuki RAPI  di  Banyuwangi, Banyuwangi  |  16 Jan 2020