Pengangguran Vs Kelapa Kerdil

49284 medium post 55746 ad8f5e5d 9fd5 42bf b520 11b8c0a315a6 2019 02 07t17 23 13.460 08 00 49283 medium post 55746 c289d8c6 3c24 4b3c 9434 3f8aad69e7c7 2019 02 07t17 23 11.816 08 00 49285 medium post 55746 fb201545 3106 4a57 8031 2f914395d221 2019 02 07t17 23 13.820 08 00
Cukup sederhana arti kata pengangguran di Kamus Besar Bahasa Indonesia yang diterjemahkan sebagai hal atau keadaan menganggur. Sementara pada banyak literatur dimaknai berbagai macam, dalam berbagai perspektif. Intinya,  pengangguran itu identik dengan angkatan kerja yang belum mendapat kesempatan bekerja, tetapi sedang mencari pekerjaan atau orang yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin memperoleh pekerjaan. Definisi ini cukup padat dan jelas tanpa harus dielaborasi lebih lanjut.
Fenomena sosial ini terjadi tanpa memilih tempat, di desa mau pun kota, Tidak juga mengenal tingkatan pendidikan. Pada gambar yang saya ikutkan di tulisan ini menunjukkan bahwa trend pengangguran di Indonesia semakin meningkat. Ironisnya, jika melihat jumlah pengangguran di level pendidikan sarjana, jumlahnya lumayan juga (5,89%). Saya sendiri tidak tahu jumlah pastinya. Yang jelas angka ini mengalahkan jumlah pengangguran di level pendidikan SD-SMP. Apa mungkin karena penduduk Indonesia tingkat pendidikannya sdh semakin maju, shingga angkatan kerja dg ijazah SD-SMP jumlahnya menurun. Atau mungkin kesalahan pendataan. Entahlah
Banyak janji, wacana dan rencana yang juga saya dengar tentang lapangan pekerjaan sebagai jawaban atas melonjaknya jumlah pengangguran. Tentu juga diiringi dengan penyiapan anggaran yang tidak sedikit. Tapi, tampilan data yang ada menyangkal semua upaya tersebut. Artinya, upaya yang dilakukan nyaris dapat dikatakan tidak menjawab soal. Jika di-breakdown lebih lanjut tentu banyak faktor yang mempengaruhinya. Bisa jadi akan sebanding dengan dalil-dalil pembenaran yang akan dikemukakan oleh pembuat janji dan penyusun rencana.
Lalu apa urusannya dengan tunas kelapa kerdil ini? Andai menurut pembaca tak ada hubungannya, saya akan paksa untuk membuat hubungan itu. Setidaknya ada simpul yang mengarah untuk menjawab soal tentang pengangguran.
Tunas kelapa kerdil ini menurut pembuatnya jika dijual bisa laku sampai Rp.200.000,-/tunas tergantung style dan uniknya. Cara membuatnya pun tidak susah, cukup dengan modal ijazah SD atau tanpa ijazah sekali pun. Andai ada 2 orang pengangguran di satu desa membuat kerajinan ini dan dapat menjual 10 tunas saja dalam satu bulan, dia sudah dapat mengantongi uang Rp.2 juta rupiah.
Tentu saja ide-ide kreatif ini harus ditumbuhkembangkan di otak generasi. Agar tidak penuh berharap menjadi ASN yang ternyata agak sulit untuk dijangkau. Contoh kasus, kebutuhan guru IPA di Kabupaten Lombok Tengah dalam penjaringan CPNS lalu tidak ada. Sementara lulusan sarjana IPA terus membludak. Hal yang sama berlaku untuk jurusan lain.
Sudah saatnya generasi mengubah mindset agar tidak terpaku pada ketersediaan lapangan kerja. Buka lapangan kerja sendiri. Baca peluang yang ada di wilayah masing-masing. Biarkan hanya tunas kelapa yang kerdil, jangan KERDILKAN pikiran dan peluangmu untuk berkreasi.
MOVE ON !!!! #berubahbersamaatmaGO
Sudah dilihat 247 kali

Komentar