PENDIDIKAN MENGGUGAT

34960 medium post 43579 fb3b75d0 2b5d 4bab 9ed9 62bff0360324 2018 10 07t22 42 31.330 08 00 34961 medium post 43579 6bfc9357 440f 41c2 b45e bcb02bd23401 2018 10 07t22 42 33.108 08 00 34962 medium post 43579 112eae68 68ef 4d1e a785 209ed13f76d8 2018 10 07t22 42 34.969 08 00 34963 medium post 43579 dc3c68cf 84f5 489d 805a 070b99bb621b 2018 10 07t22 42 35.888 08 00 34976 medium post 43579 136548f2 7c24 4def b56c 50fa83cc59e3 2018 10 08t07 13 15.925 08 00
Masih segar dalam ingatan, penggalan penjelasan Prof.Dr.Soedijarto tentang Sistem Pendidikan Nasional Indonesia yang tertuang dalam Undang-Undang Sisdiknas untuk mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Utuh dalam hal ini dimaknai oleh Sulaiman (2000) sebagai manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur. Sangat jelas arahnya yaitu membentuk anak didik menjadi pribadi utuh yang dilandasi oleh agama, akhlak dan budi pekerti. Tidak ada tawaran lain lagi. Hal tersebut sudah diputuskan melalui undang-undang sekaligus merupakan kebutuhan secara universal.
Tidak dapat ditawar dan diperdebatkan lagi. Tigas itu sepenuhnya menjadi beban lembaga pendidikan, institusi yang mutlak bertugas untuk mencetak generasi sesuai tuntutan semua pihak. Meski banyak benturan baik dalam konteks regulasi, kondisi masyarakat mau pun kebijakan lainnya.
Tantangan terbesar pendidikan saat ini adalah masalah moral (karakter). Masalah ini menurut Erikson terkait erat dengan tugas sosioemosional dalam kerangka perkembangan individu dan biasanya dialami oleh anak pada fase perkembangan remaja akhir menuju dewasa. Ada banyak hal penting yang mempengaruhi di dalamnya baik secara intrinsik maupun ekstrinsik. Salah satu hal yang termasuk dalam kategori terakhir ini adalah materi pelajaran yang diterima peserta didik dari (maupun tanpa) guru, secara langsung maupun tidak.
Menjadi sangat kaget dan marah saya, ketika mendapat kiriman (plus membaca di media sosial) tentang terbit dan beredarnya buku Jampi-Jampi Batur Sasak dan Pantun Sasak. Pada hemat saya, pengarang buku (H.Sudirman, S.Pd, Bahri, S.Pd dan Lalu Ratmaja, S.Pd) yang diterbitkan oleh PUSAKANDA ini kurang memahami ruh tujuan pendidikan. Setidaknya jika itu dilihat dari banyak kalimat yang tertulis dalam buku dimaksud.
Buku yang sudah beredar tersebut memuat beberapa kalimat yang sangat vulgar untuk dibaca oleh anak-anak, apa lagi jika dimaksudkan sebagai materi pelajaran Muatan Lokal pada anak SD/MI dan SMP/MTS. SANGAT TIDAK ETIS !!! Di dalam buku banyak muatan yang mengandung unsur porno, kata-kata kasar dan pelecehan terhadap perempuan (dalam Bahasa Sasak) yang sebenarnya sangat tabu diucapkan pada komunitas Sasak.
Dinas Pendidikan Lombok Timur telah menjelaskan bahwa dua buku dimaksud telah ditarik dari peredaran pada dua kecamatan (Sakra Barat dan Labuhan Haji). Tapi saya kira masalahnya tidak sebatas dan sesimple itu. Apalagi pihak dinas juga menyampaikan bahwa kedua judul buku tersebut tidak pernah diajukan untuk diverifikasi, hanya terselip di percetakan. Masuk akalkah...
Pertanyaanya adalah (1) tidakkah dilakukan proses editing terhadap isi buku sebelum dicetak; (2) tidak adakah proses review oleh dinas pendidikan terhadap isi buku sebelum direkomendasikan untuk digunakan di sekolah; (3) bisakah buku dalam jumlah banyak, hanya "terselip" di percetakan yang kemudian digunakan secara meluas di lembaga pendidikan; (4) kenapa penarikan hanya di dua kecamatan, apa buku tersebut hanya beredar di dua kecamatan; (5) bagaimana pertanggungjawaban moril yang berwenang jika isi buku tersebut sudah dibaca dan tertanam di benak anak..dst... yang terpenting, TIDAKKAH TERKETUK MORAL PENULIS KETIKA MENULISKAN KALIMAT ANEH ITU?! Apa tidak terbayangkan bagaimana sekiranya jika yang membaca buku itu adalah anak sendiri?!
Mengurus dunia pendidikan tidak dapat dilakukan setengah hati. Terlebih untuk urusan moral dan karakter anak. Pegangan utuh kita adalah generasi sekarang akan menjadi pengganti generasi sebelumnya. Jadi, bekali mereka dengan ilmu yang memberi manfaat bukan yang membawa mudarat.
Melalui media ini juga, kami dari lembaga EDUCATION COMMUNITY NTB menuntut agar penulis, penerbit dan pengedar buku (Dinas Pendidikan Lombok Timur) bertanggungjawab terhadap peredaran buku dimaksud. Tuntutan ini juga bermakna bahwa (1) penulis meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat dan bersedia melakukan revisi terhadap isi buku yang ditulis; (2) penerbit bersama dinas pendidikan menarik semua buku yang sudah beredar. Semoga menjadi pembelajaran buat kita semua.
Mari berubah bersama #atmaGO
Wujudkan upaya warga bantu warga
Sudah dilihat 201 kali

Komentar

  • 10240 new thumb pt2018 07 03 21 36 23

    Jangan perlihara ketakutan, dek. Bentengi diri dan anak dengan akhlak yang baik. insyaallah ketakutan itu akan dibentengi oleh Allah juga dg kekuatan.

  • 13479 new thumb 20181005 074010

    Melihat indonesia yg seperti ini,aku menjadi takut sekali bagaimana kalau 10 th lagi,bagaimana dengan anak2 kami nantinya kalau moral manusia seperti itu.

  • 10240 new thumb pt2018 07 03 21 36 23

    Buku sudah beredar luas, dek. Dan baru ditarik di dua kecamatan. Lagi pula, kenapa buku tidak ditelaah isinya dulu baru diterbitkan ...

  • 11211 new thumb user 11211 8027d6e9 04a1 4572 9027 279abe430f4a 2018 09 23t16 57 24.781 08 00

    Astagfirullah...
    Mudah2n tdk banyak anak yg sdh konsumsi buku ini.

  • Missing avatar

    saya doakn semoga instansi terkait menyadari bahwa kekeliruan yang dilakukan akan merusak generasi penerus bangsa ini. dan semoga niat baik bunda selalu dijabah dan mndapt ridho ALLAH SWT. aaamiiin ✊🏻✊🏻✊🏻