PENDIDIKAN: KELINCI PERCOBAAN ABADI

43164 medium post 50180 91b281f7 0f62 44a9 983e a19177dbc214 2018 12 18t18 41 31.488 08 00 43165 medium post 50180 2fe530ce f36b 43f9 829b 8fba6384c6d5 2018 12 18t18 41 31.977 08 00
Sudah sejak lama ungkapan bahwa dunia pendidikan merupakan dunia uji coba. Dunia dengan kebijakan yang berubah-ubah seiring bergantinya pemegang kebijakan. Kondisi ini juga dapat dimaknai dengan ramainya kebijakan yang belum maksimal dilaksanakan, sudah diganti lagi dengan yang baru. Tidak ayal lagi, lembaga pendidikan dengan unsur yang terlibat di dalamnya banyak melakukan protes, sekaligus menuai protes dari berbagai pihak.
Fokus perbincangan dunia pendidikan yang sedang mencuat akhir-akhir ini tentang kurikulum dan pendekatan pembelajaran. Fokus debat yang tak usai dengan dinamika dan pandangan masing-masing.
Sejak 1945 (jika tak salah ingat) Indonesia sudah 9 kali bongkar pasang kurikulum. Hingga yang terakhir dan menjadi sexy diperbincangkan sekarang, kurikulum 2013. Beberapa pihak sudah menuding bahwa K-13 (sebutan fimiliar untuk Kurikulum 2013) sudah tidak relevan lagi dijadikan panduan. Dinilai sudah usang dan perlu direvisi (diganti) dengan kurikulum lain yang identik dengan perkembangan zaman.
Di tataran implementasi, K-13 masih menjadi "makhluk aneh" bagi banyak lembaga pendidikan dan pendidik. Masih banyak yang sangat tidak paham dengan makhluk dimaksud secara umum. Bahkan untuk hal yang sangat krusial, seperti penekanan pada tematik integratif dan sistem penilaian masih menuai perdebatan. Ditambah lagi, belum semua sekolah menerapkan K-13 meskipun sebatas judul besarnya saja. Lantas sudah perlukah diganti dan diberi label lain?
Higher Order Thinking Skills (HOTS) menjadi topik yang tidak kalah populer dari K-13. Menyusul snowball effect yang ditimbulkan dari penerapan pendekatan pembelajaran ini. Masalahnya, siswa tidak pernah diarahkan dan dibiasakan dengan HOTS tetapi evaluasi yang dilakukan "memaksa" siswa untuk menyelesaikan soal dengan pendekatan HOTS. Otomatis tidak nyambung. Banyak siswa yang mengeluh bahwa soal yang diberikan kepada mereka sangat sulit. Muaranya, nilai UN menjadi jeblok. Fakta ini terungkap vulgar pada diseminasi pemetaan mutu pendidikan yang digelar oleh LPMP NTB (khusus NTB) ketika berbicara tentang SKL (Standar Kompetensi Lulusan).
Materi yang disampaikan pada tulisan ini baru dua bagian kecil dari luasnya dunia pendidikan yang membutuhkan kinerja progresif dan konstruktif para pihak yang terlibat di dalamnya. Termasuk juga para stakeholders. Pendidikan tidak dapat bergerak maju dengan lancar tanpa kerjasama positif multipihak dalam kerangka trikon pendidikan. Ini hanya dapat dilakukan oleh mereka yang menjadi pendidikan sebagai kebutuhan, bukan mainan apalagi komoditi yang diekploitasi habis oleh agen dan aktor politik.
Jadi, STOP jadikan pendidikan sebagai ruang uji coba. Mari menjadikan kiprah di dunia ini menjadi pilihan hati. Salam Edukasi ... #mariberubahbersamaatmago
Sudah dilihat 80 kali

Komentar

  • 10240 new thumb pt2018 07 03 21 36 23

    Saya pun kadang bingung juga. Sering kepikiran, apa yg akan diperoleh dg kebijakan yg berganti setiap saat.

  • 11715 new thumb img 6094

    memang pendidikan di indonesia ini tergantung siapa mentrinya dan orang yang berpengaruh , sementara kita yang dibawah dijejali dengan berbagai
    teori dan aturan, tapi kita mau gemana lagi hanya bisa menjalan tanpa bisa berkata saya belum paham atau bagaimna maksudnya?,hanya kepada Allah kita berlindung supaya apa yang telah kita berikan kepada snsk didik kita bermanfaat

  • 11715 new thumb img 6094

    memang pendidikan di indonesia ini tergantung siapa mentrinya dan orang yang berpengaruh , sementara kita yang dibawah dijejali dengan berbagai
    teori dan aturan, tapi kita mau gemana lagi hanya bisa menjalan tanpa bisa berkata saya belum paham atau bagaimna maksudnya?,hanya kepada Allah kita berlindung supaya apa yang telah kita berikan kepada snsk didik kita bermanfaat

  • Missing avatar

    Pada hakikatnya pendidikan sejati itu core business-nya adalah humanistis, apapun nama dan bagaimanapun bentuk kurikulumnya. Namun melihat kondisi tenaga pendidik kita yang masih stagnan hari ini, kelinci akan tetap menjadi hewan uji coba...hahaha