PEMILIK SENYUM MENTARI (part.4)

31 December 2018, 23:02 WIB
1 0 110
Gambar untuk PEMILIK SENYUM MENTARI (part.4)
“Dek Fida capek ya?”, suara kak Intan , kakak iparku cukup membuatku kaget, “Kamu istirahat aja ya, besok kan libur, bisa ngobrol sepuas-puasnya sama abangmu”, kak Ibra juga mendukung kata-kata isterinya, akupun beranjak ke kamar setelah menyelesaikan makan malam.

Tiga bulan sudah kulewati hari-hari yang menyiksa itu, ternyata Tuhanku mendengar do’aku selama ini, kumohon ketenangan dalam beraktivitas dikampus dan juga dirumah, sering kumenangis dalam do’a, aku menghiba memohon pada sang penguasa jiwa dan raga, aku tidak ingin rasa dihatiku menjadi pengganggu dan penghalang bagiku dalam menjalani hari-hariku, aku ingin serius menyelesaikan kuliah.

Alhamdulillah akhirnya aku berhasil berdamai dengan hatiku, kehadiran dosen pemilik senyum mentari itu tak lagi membuat nelansa hari-hariku, dia masih tetap mengajar di kelasku, tapi kehadirannya sudah tak lagi memporak-porandakan benteng pertahanan hatiku. Senyumnya masih sehangat mentari, tapi aku sudah menganggapnya seperti mentari yang menyinari persada sepanjang masa, lumrah dan tak berlebihan. Ya…kondisiku sudah kembali ketitik normalnya, dengan ditemani mentari yang adil menyinari seluruh alam.

Tiga bulan kemudian, ternyata sang Pemilik Alam punya rencana khusus buatku. “Dek, ada yang lamar kamu melalui kakak”, cukup kaget aku mendengar kata-kata itu dari kak Ibro, Ibu juga menghentikan suapan kemulut Ical, anaknya kak Ibra yang sedang menikmati liburan di rumah kami. Aku masih terdiam dengan memandang lekat kewajah kak Ibra. “Dosen pilsafat kamu, temannya kakak itu kemarin datang temui kakak dan menyatakan ingin melamarmu”, Tuhan…apa lagi ini, apa yang barusan kudengar itu seperti suara asing yang hadir dalam mimpiku, ah…aku benar-benar tak bisa menjawab.

Siang malam tak kulewati setiap kesempatan, kumohon petunjuk dan ketenangan pada Sang Penguasa Alam, menghiba dihadapanNYA, karena kuyakini hanya keputusan atas petunjuk dari Allahlah yang akan membawa kepada ketenangan dan kebahagiaan. Sampailah saat itu, aku menemukan jawaban dan menerima lamaran dari pemilik senyum mentari itu.

Sebuah acara walimah yang jauh dari kata mewah mengiringi akad yang menghalakan aku dengan pemilik senyum mentari. Hari-hari yang indah kulalui, ternyata kak Komar bukan hanya memiliki senyum sehangat mentari, namun juga memiliki perangai seindah rembulan, tentu itu kutau setelah menjalani pacaran halal dengannya dalam rumah tangga.

“Nyonya Komar jangan bengong aja, jawab dong !”, Nina mencolek keras bahuku. “eh…apa Nin ?, ternyata memang Nina tadi ngomong sama aku, Ah…aku jadi kelihatan bego dihadapan Nina, gara-gara sibuk balas pesan kak Komar, pertanyaan Nina tentang tugas kelompok sama sekali tak kudengar.

Kak Komar pandai sekali membuat hatiku berbunga, padahal baru beberapa jam terpisah, dia sudah berkirim pesan lewat wathapps. (Sayang, nanti kalo sudah keluar kelas kita langsung pulang ya, kakak tunggu di depan). Aku tersenyum sampai kedasar hati membaca pesan yang sepertinya berat memikul rindu itu. (Nanti jangan pake ngobrol dulu ya, soalnya kalau kakak kelamaan nunggu, bisa-bisa kakak jadi pembunuh…pembunuh rindu). Ya rohman…membaca pesan romantis dari kekasih halalku serasa waktu terhenti, angin berhenti bertiup dan daun-daun yang jatuh sepertinya melawan gravitasi, indah tak ternarasikan, bahkan oleh skenario drama korea sekalipun.

Begitulah masa-masa indah itu kuakrabi, tak jarang kami di hadiahi cuitan nakal teman-teman dikampus, ketika melihat kami jalan berdua setelah kuliah usai. Yaah…ternyata aku terlahir sebagai tulang rusuk dosen pilsafatku.

Menu sarapan sedikit lagi rampung, ketika kak Komar yang sedang berada di depan televisi memanggilku. Berlari kecil aku menemuinya, karena tak biasanya dia memanggil dengan suara tinggi. Bersambung....#asyiknyaFiksi
#titipDiAtmago

  Komentar untuk PEMILIK SENYUM MENTARI (part.4)

Masuk ke akun AtmaGo kamu untuk ikut memberi komentar!

Masuk  atau  Daftar
Jadilah yang pertama memberi komentar!