PEMILIK SENYUM MENTARI (part.20)

6 June 2019, 08:34 WIB
4 2 83
Gambar untuk PEMILIK SENYUM MENTARI (part.20)
Raga mungil dengan tangis melengking itu kini sudah tenang dalam pangkuan Nina. Beberapa menit setelah kalimat azan dan iqamah dari lisan ayahnya, menyapa gendang telinga mungilnya, ASI pertama dia nikmati lahap walau dengan sedikit kesulitan pada awalnya, pertanda ia sedang beradaptasi dengan kehidupan baru diluar rahim ibu. Bayi laki-laki dengan berat tiga koma delapan kilogram itu, cukup berat untuk dilahirkan normal, namun semua makhluq mengikuti alur kehidupannya sesuai kehendak penciptanya.

Suasana rumah yang sedikit berbeda menyambut kedatangan aku dan bayiku. Tanpa sepengetahuanku, saat masih dirumah sakit, Nina menata satu kamar disebelah kamarku untuk dijadikan kamar bayi. Tatanan apik yang membuatku mengucap terimakasih berulang-ulang pada Nina. Kamar bayi yang membuatku nyaman untuk berlama-lama menemani buah hatiku. Kamar yang akhirnya menjadi favorit kami, bahkan tidak jarang kami bertiga, aku, Nina dan kak Komar tidur disana, menemani Muhammad Fatih Komaruddin, yang sering menghadiahi kami dengan tangis melengkingnya yang khas.

Tujuh purnama sudah kunikmati dengan sempurna. Arakan awan gelap tak lagi menghalanginya menyapa jendela kamarku. Kunikmati selalu indah terangnya, seindah senyum fatih yang menyambut uluran tanganku saat baru bangun dari mimpinya. Yah…Fatihku telah merajai rasa di jiwaku, mengusir gundah yang dulu kerap hadir berlebihan. Mengajariku bahwa jingga di dekapan senja, tak harus dinikmati sendiri, bahkan senyum hangat mentari pagipun, takkan berkurang hangatnya walau ada jiwa yang lain juga menikmatinya.

“Hari ini Fatih dibawa aja Fid, aku kuliahnya agak siang, nanti dia sama aku aja kalau kamu kuliah pagi”, dengan penuh semangat Nina menggendong Fatih yang sudah harum pagi itu.
“Nanti kita main di taman ya nak, seperti kemarin itu kan, kita cari kupu-kupu dan belalang ya!”, Nina selalu asyik ngobrol berdua dengan Fatih, walaupun hanya ditimpali celotehan tak jelas oleh Fatih.
“Anak itu harus diajak ngobrol terus, walaupun belum bisa ngomong, supaya nanti saat dia sudah bisa bicara, dia kaya perbendaharaan kata”, begitu katamu waktu aku tertawa mendengarmu berbicara sendiri saat bersama Fatih.

Begitulah Nina sangat perhatian sama Fatih, begitu juga Fatih sering tertidur nyaman dalam buaian Nina. Ah…senyumku terukir dibibir dan terlukis dihati, saat kak Komar mengajarkan Fatih untuk memanggil Inaq padaku dan Ibu pada Nina.
“Fatih sangat beruntung, memiliki dua orang Ibu yang baik dan sangat menyayanginya”, kalimat yang kudengar tak hanya sekali dari mulut kak Komar.
“InsyaAllah ia akan tumbuh cerdas dan kuat, tentu sholeh juga”, kak Komar menimang fatih dengan tatapan penuh cinta, tatapan yang selalu menaklukkan jiwaku dalam keindahan kasih yang menghangatkan.
“Bapak mendo’akan, semoga kelak kau menjadi pemuda secerdas Sultan Muhammad Al-Fatih, yang ketangguhannya pernah diprediksi oleh Rasulullah”, kak Komar terus berbicara sendiri didepan Fatih yang hanya menanggapi dengan menggerakkan kaki dan tangannya sambil berceloteh tak jelas. Aku mengartikan celotehannya adalah cara dia mengaminkan do’a bapaknya yang mendo’akannya mengikuti jejak Sultan Turky yang terkenal hebat dan tawadhu’ itu.

------------------------------------------------------------------------------------------------

Matahari diluar terik mengganas. Kutunaikan sholat zuhur dalam kecemasan. Fatih dibawa Nina dan kak Komar sejak pagi tadi. Entah kesibukan apa yang mereka lakoni sampai lupa mengabariku kalau belum bisa pulang sampai zuhur. Ah…aku hanya bisa menghela napas ketika telefon tak terjawab oleh kak Komar ataupun Nina.

Menu sederhana makan siang ini belum juga sempat kusentuh, napsu makanku tiba-tiba menguap. Perlahan rasa khawatirku semakin menjadi, bahkan kini rasa itu bercabang menjadi beberapa rasa yang sebenarnya tak kuinginkan. Ada sedikit perih di dinding hati, saat ingat kalau akhir-akhir ini, Nina dan kak Komar sering menghabiskan waktu diluar berdua dan sesekali membawa Fatih. Ah…kenapa harus ada perih, bukankah hari ini memang kak Komar waktunya bersama Nina, kenapa harus cemburu.

Mondar mandir dari dapur ke kamar tanpa sengaja kulakukan, karena dengan itu aku tak merasa bosan memandang jarum jam di dinding yang gerakannya semakin merangkak dan cenderung kulihat terhenti. Aku tersentak dengan membanting sapu ke lantai, saat mendengar suara mobil masuk ke halaman depan.

“Kenapa jam segini baru bawa Fatih pulang, walaupun ASI eksklusifnya sudah selesai, tapi ia tetap harus minum ASI”. Akhirnya aku tumpahkan kekesalanku dihadapan mereka berdua dan di depan Fatih juga.
“Kalin kalau mau jalan-jalan seharian, jangan bawa Fatih dong, kalau dia kenapa-kenapa karena kecapean bagaimana?”, kurasakan mulutku belum mau berhenti bicara, mewakili luapan kekecewaan atas perlakuan Nina dan kak Komar yang menurutku kurang memikirkan kesehatan Fatih. Tapi apakah benar, kemarahanku karena Fatih atau karena rasa cemburu yang kembali memburu hati lapukku. Entahlah…aku bingung membaca pikiranku sendiri, tapi sepertinya Nina kelihatan jauh lebih bingung dariku, ia hanya melongo menatapku yang marah-marah sambil mengambil dengan kasar Fatih dari gendongannya. Dia mungkin tak menyangka bahwa aku akan semarah ini, memang baru kali ini aku tidak bisa mengontrol emosi di depan Fatih.

“Ini semua karena kesalahanku, maafkan kami Fid, tadi ada masalah di pabrik yang tidak bisa diselesaikan dengan cepat, aku tidak bisa meninggalkannya sebelum semuanya selesai, Fatih juga tadi tidurnya lama di sana setelah Nina kasih makan”, kak Komar akhirnya angkat bicara setelah dari tadi terdiam mendengar omelanku yang baginya jarang terdengar. Aku memang tahu kalau tadi pagi sebelum berangkat, Nina memasukkan beberapa potong makanan pendamping ASI di baby bagnya Fatih, jadi sebenarnya aku tidak perlu khawatir yang berlebihan jika Fatih tidak bersamaku dalam beberapa jam.
----------------------------------------------------------------------

Sore yang dingin, angin bertiup seperti tak sabar. Biasanya ia bertiup sepoi-sepoi, manis mengayun daun bunga kertas di halaman samping. Tapi berbeda dengan sore ini. Kulihat debu berterbangan dari jalan beraspal di luar pintu gerbang halaman depan. Hawa dingin menyapa kulit dibalik gamis longgar berwarna gelap yang kukenakan. Cepat kakiku beranjak dari teras depan, tak ingin tubuh bungil Fatih tersapu angin sore yang sepertinya kurang bersahabat ini.

“Makan malam nanti sudah siap, biar aku yang mandikan Fatih, tapi tunggu dulu ya aku angkat jemuran dulu”. Dengan tanpa memandangku dan tanpa senyum juga, Nina keluar dari dapur ketika aku dan Fatih masuk rumah.

Nina…aku benar-benar tak enak dengan sikapmu akhir-akhir ini. Lebih banyak diam sambil mengerjakan semua pekerjaan rumah, yang sebelumnya selalu kita berbagi tugas. Apa mungkin kamu marah karena aku pernah marah-marah waktu kamu pergi dengan kak Komar sampai sore dan membawa Fatih juga?. Ah…sebenarnya aku juga tidak enak dengan sikap dinginmu, tapi sepertinya mulutku kelu untuk mencandaimu seperti kemarin-kemarin, saat kita belum pernah berantem.

Bersambung...

  2 Komentar untuk PEMILIK SENYUM MENTARI (part.20)

Masuk ke akun AtmaGo kamu untuk ikut memberi komentar!

Masuk  atau  Daftar