PEMILIK SENYUM MENTARI (Part.9)

51963 medium screenshot 20181227 143106
Malam begitu panjang kurasa. “Kak, bagaimana, sudah ada kabar tentang Nina dan keluarganya?”, ini adalah pesan kelima yang kukirim kepada Kak Komar. Tiga jam setelah ia pamitan untuk pergi ke pusat bencana. Selang beberapa jam ku kirim pesan senada, namun hingga sekarang, kelima pesanku lewat aplikasi watsapp itu masih dengan tanda centang satu, jangankan dibaca, sampai ke nomor yang dituju aja belum.

“Ya Allah tenangkan hatiku”, sudah puluhan kali do’a ketenangan kuucapkan.Kuraih benda persegi dersampul merah jambu itu, benda yang selalu setia menemani suka dukaku sejak lama.Al-Qur’an for women itu kubuka acak.

Surat Al-Isra’, ah…entah mengapa mataku langsung tertuju ke ayat 16, “Jika kami berkehendak untuk menghancurkan negeri, kami memerintah orang-orang yang hidup mewah namun mereka durhaka dalamnegeri tersebut, maka sudah sepantasnya kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”.

Ayat ini membawa imajinaasiku mengembara ke belahan bumi yang kini sedang mendapat musibah bencana alam berupa gempa bumi, namun tanganku kembali menelusuri baris demi baris tafsir ayat ini.

Para ahli qiraat masih berbeda pendapat tentang bacaan amarna (kami perintahkan), tetapi yang masyhur adalah bacaan takhfif.Dan para ahli tafsir juga masih berbeda pendapat tentang arti kata tersebut. Ada yang mengatakan bahwa kata tersebut berarti ,”Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu, suatu perintah yang sudah menjadi takdir, tetapi justeru mereka berbuat kedurhakaan di negeri tersebut. Yang demikian itu seperti firmannya: “Tiba-tiba datanglah kepadanya adzab kami pada waktu malam dan siang”. (QS, Yunus : 24)

Ali bin Abi Thalhah menceritakan dari Ibnu Abbas ia berkata: kami jadikan orang-orang jahat di Negeri ini berkuasa, sehingga mereka berbuat durhaka di negeri tersebut. Dan jika mereka telah melakukan hal itu, maka Allah akan membinasakan mereka dengan adzab.

Aaaahhh…Aku menghela napas, memejamkan mata sejenak.Dalam beberapa saat itu, kembali bayangan Nina mendominasi imajinasiku. Iringan do’a kembali bergemuruh dalam dada dan di dukung dengan lisan serta jiwa berpasrah hanya pada kuasa sang penguasa alam.

Bangku sekolah masih menjadi kenangan favorit dibenak. Membahas tentang penomena alam dalam bidang study geografi, sering mengundang kantuk, makanya tidak heran, jika pengetahuan geografi kami kini timbul tenggelam di ingatan, maklum waktu mempelajarinya, konsentrasi kami lebih sering tenggelam dari pada timbul.

Dalam ilmu geografi, gempa bumi adalah peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi didalam bumi secara tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi.Akumulasi energi penyebab terjadinya gempa bumi dihasilkan dari pergerakan lempeng-lempeng tektonik.Energi yang dihasilkan dipancarkan kesegala arah berupa gelombang gempa bumi, sehingga efeknya dapat dirasakan sampai ke permukaan bumi.

“Astagfirullahal Azhiim”, kalimat istigfar sebagai perwakilan kekalutan yang memohon ketenangan pada sang pembolak balik hati. Kuulang berkali-kali disela-sela murojaah suratAl-Isra’. Akhirnya kelelahan dan kekalutan pikiran menuntunku terlelap di atas sajadah setelah menutup mushap dengan buru-buru.

Suara notifikasi dari gawaiku membuat aku terbangun.“ wa’alaikumussalam, maaf baru bisa balas, jaringannya bermasalah dek. Tenang aja sayang, kakak sudah ketemu Nina, dia baik-baik saja, sekarang di tenda pengungsian bersama warga lainnya. Tapi kakak belum bisa bicara banyak sama dia, insya Allah besok pagi kakak pergi lagi ketempatnya Nina. Oh ya malam ini kakak nginap di posko teman, mungkin besok belum bisa pulang, mau ikut bantu disini beberapa hari lagi, besok pagi kakak kirim kabar lagi”.

Kabar yang kutunggu-tunggu ini membuat rasa kantukku hilang lenyap. Cepat ku tekan tombol dial setelah memencet nomor Hp kak Komar. Beberapa kali panggilan hanya suara mendu perempuan operator itu saja yang menjawabnya. Yah…harus kumaklumi, sinyal disana pasti sangat tidak mendukung. Kulirik jam dinding yang bertengger lesu didinding kamar, aku menghela napas demi melihat jarum pendeknya berada tepat di angka dua, menandakan bahwa subuh masih lama, waktu sangat cukup untuk melanjutkan mimpi, namun tidak untuk saat ini, aku sama sekali tak ingin tidur bahkan tak butuh tidur saat ini, aku hanya ingin melihat jarum jam itu berlari, lalu mengantarku menyambut fajar shadiq dan segera mendengar suara kekasihku lewat angin mengabarkan berita baik tentang Nina.

Dua rakaat tahajud menjadikan pikiranku jauh lebih tenang.Kembali lisan naifku gaungkan permohonan yang sama, tentu keselamatan Nina adalah temanya.

Bersambung...
Sudah dilihat 25 kali

Komentar