PEMILIK SENYUM MENTARI (Part.8)

2 March 2019, 07:18 WIB
0 0 49
Gambar untuk PEMILIK SENYUM MENTARI (Part.8)
Aku masih terisak dalam dekapan kak Komar.Dengan lembut kak Komar menarik tanganku dan memberi isyarat untuk mengambil air wudhu’.

Air wudhu’ hanya membasahi kulit mukaku, namun sejuknya kurasakan sampai ke dalam relung hatiku. Aku kembali terisak di belakang kak Komar, mengaminkan do’a khusus yang kutahu di khususkan untuk saudara-saudara muslim yang menjadi korban gempa. Rupanya do’a khusus yang kuaminkan setelah do’a dhuha’ itu memancing air mata dan menajamkan ingatanku kembali pada Nina. Ah…ada penyesalan di dadaku, kenapa aku tidak menahan Nina pulang ke Tanjung pada liburan kali ini, sungguh aku tidak pernah keberatan dia menghabiskan liburan di rumah ini, tentu suamiku juga tidak akan menolaknya.

“Rumah tanggamu masih seumur jagung, pasti kalian masih masih butuh banyak waktu untuk beradaptasi satu sama lain, ndak apa-apa aku pulang ke Tanjung aja, masih ada bibik yang nanti temani aku di sana”.

Ini adalah liburan kedua bagi Nina setelah kepergian kedua orang tuanya.Bapaknya yang meninggalkannya untuk selama-lamanya, setelah seminggu acara zikiran hari kesembilan ibunya.Tentu itu berat bagi Nina yang merupakan anak tunggal itu.Liburan semesteran kemarin kami pulang bersama ke Lombok tengah, menghabiskan liburan di kampung yang pernah menjadi saksi masa kecil kami yang sarat kenangan. Namun kali ini iabersikeras untuk menghabiskan liburan di tanah kelahiran orang tuanya, sekalian ia kangen ingin membaca surah Yasin setiap pagi di kuburan kedua orang tuanya. Sebuah alasan yang tak bisa kutawar lagi.

“Dek, sebaiknya kakak langsung ke Lombok Utara hari ini, ada teman relawan yang akan jemput kakak sekarang”.Lembut suara kak Komar sembari mengusap kepalaku.Tentu saja aku sangat setuju mendengarnya, namun hanya anggukan keras yang mewakili kata hatiku karena suaraku masih bertahan ditenggorokan yang perihnya masih belum reda.

“Sebaiknya kakak antar kamu kerumah Inaq aja ya, kemungkinan besar kakak akan menginap disana”, lagi-lagi aku mengangguk keras mengiyakan. Tinggal sendiri di perumahan ini tentu tidak nyaman bagiku, menatap tembok tinggi yang menghalangi kesempatan silaturrahim setiap saat dengan tetangga sebelah, tentu akan sangat membosankan. Memang sudah bertahun-tahun aku kost di komplek perumahan ini sebelum kami menikah, namun tentu suasananya jauh berbeda, dulu terbiasa ramai dengan teman-teman satu kost, sekarang hanya tinggal berdua di rumah tipe 36 yang sebenarnya akan terasa sempit jika sang buah hati sudah ada di antara kami.

Tak sepatah katapun keluar dari mulutku sepanjang perjalanan.Kebiasaanku yang tidak berhenti ngomong kalau sedang berada di samping suamiku, sepertinya kali ini hanya mampu kulakukan dalam hati.Dalam hatiku tak henti-hentinya memanjatkan do’a untuk semua korban gempa yang terjadi di Lombok utara, tentu saja do’a khusus untuk Nina menjadi intinya.Sesekali tangan kiri kak Komar meraih tanganku, menggengamnya erat, dan aku selalu merasa lebih tenang ketika tanganku sudah berada dalam genggamannya.

Lampu merah di jalan TGH.Ibrahim ini memberikan kesempatan pada tangan kak Komar untuk membelai kepalaku. Betapa ia sangat paham akan kegalauan memuncak yang kini menyambangi hatiku.

“Permisi bapak Ibu”.seorang anak remaja SMU mengetuk kaca mobil, kotak kardus bertuliskan “Peduli korban Gempa KLU” itu membuatku tersentak. Seperti terhipnotis, tanganku merogoh tas selempang dipangkuan, mengeluarkan dompet dan lembaran-lembaran berwarna merah itu sudah berada didalam kotak kardus ditangan remaja disamping kaca mobilku.

Kak Komar menatapku dengan sedikit aneh, aku menerka apa yang ada dalam hatinya, mungkin dia heran melihatku menghabiskan isi dompet untuk sedekah padahal awal bulan masih cukup lama.

“Maaf kak…untuk Nina”, kekasih halalku itu mengangguk keras seakan-akan ia sangat setuju dengan tingkahku yang sepertinya kurang wajar tadi. Kembali dielusnya kepalaku sambil menatapku. Senyumnya yang selalu sehangat mentari itu sedikit menenangkan hatiku. Akhirnya bunyi klakson kendaraan dibelakang kami cukup mengagetkan. Telingaku sepertinya belum mampu beradaptasi, masih saja terkejut dengan bunyi klakson ketidaksabaran itu, yah...memang itu gambaran ketidaksabaran, menunggu dengan tenang kendaraan didepan melaju duluan setelah lampu berubah warna, adalah sesuatu yang langka dijalan raya, walaupun menunggunya hanya hitungan detik.

Teh hangat buatan inaq kuhirup pelan, aku tahu Inaq juga mengkhawatirkan keadaan Nina. Kak Komar kulihat berbincang sebentar dengan Inaq lalu mencium punggung tangan Inaq dan beranjak pergi setelah mencium keningku.

Malam begitu panjang kurasa. “Kak, bagaimana, sudah ada kabar tentang Nina dan keluarganya?”, ini adalah pesan kelima yang kukirim kepada Kak Komar. Tiga jam setelah ia pamitan untuk pergi ke pusat bencana. Selang beberapa jam ku kirim pesan senada, namun hingga sekarang,

Bersambung...

  Komentar untuk PEMILIK SENYUM MENTARI (Part.8)

Masuk ke akun AtmaGo kamu untuk ikut memberi komentar!

Masuk  atau  Daftar
Jadilah yang pertama memberi komentar!