PEMILIK SENYUM MENTARI (part.6)

6 January 2019, 16:07 WIB
2 1 115
Gambar untuk PEMILIK SENYUM MENTARI (part.6)
Berjuta kenangan itu berkelebat kini, masih jelas diingatan, ketika kami membuat kesepakatan di atas pohon jambu samping rumah, seminggu setelah terima ijazah SD. Kami sepakat untuk melanjutkan sekolah ditempat yang sama. Dimanapun sekolah yang dipilihkan orang tuaku, itu juga akan menjadi sekolah Nina, begitu juga sebaliknya. Akhirnya kami sepakat untuk masuk Pondok saja, tapi harus di Pondok yang sama. Akhirnya usaha kami membuahkan hasil, kedua orang tuaku dan orang tua Nina yang bertetangga baik itu menyetujui keinginan kami untuk masuk Pondok, namun ayahku yang memilih Pondok mana yang menjadi tujuan. Sebuah Pondok Pesantren di Kota santri menjadi pilihan kedua orang tua kami. Suka cita tak terlukiskan, ketika kami diajak untuk observasi ke Pondok itu sambil mengantar berkas pendaftaran.

Tiga tahun di bangku sekolah menengah pertama kami habiskan bersama. Tentu saja kenangan-kenangan berwarna-warni kami penuhi diberanda jiwa. “Nin…aku ke kamar dulu ya, mau selesaikan cerpenku dulu, nanti kalau ustaz nasoro datang cepetan panggil aku”, setengah berbisik ditelinga Nina. “Ustaz Nasoro ?”, si Nina mengernyitkan dahi, “siapa Da ? sekarang kan Ilmu sharaf, Ustaz Hasyim kan ?”, kelihatan lugunya si Nina kalau lagi begini. “Iya…ya tau sekarang jamnya ustaz hasyim, tapi nanti kalau ngajar pasti yang jadi contohnya kata nasoro…nasoroo…nasorot…”. Serentak teman-temanku tertawa semua mendengar candaanku. Sebenarnya Ilmu sharaf itu tidak banyak santri yang suka, mungkin karena pembahasannya sedikit ribet, atau mungkin saja karena ustaznya yang kurang kreatif dalam menyampaikan materi, walaupun sebenarnya kami sadar ilmu sharaf sebagai salah satu ilmu tata bahasa arab, sangat penting untuk dikuasai demi memahami bahasa arab dan tentunya bahasa Al-Qur’an. “Assalamu’alaykum”, suara ustaz hasyim membungkam mulut kami semua yang sedang berguyon dengan kata nasoro.

Kedekatan aku dan Nina sering dikomentari oleh guru-guru di pondok, “Kalian itu sangat mirip, mirip wajahnya, mirip cerdasnya juga”. Begitu selalu yang diucapkan ustazah Faridah, seorang mudabbirah di pondok. “Mudah-mudahan persahabatan kalian kekal hingga ke syurga kelak”, do’a tulus dari seorang guru yang merupakan pengganti Ibu kami itu, serentak kami aminkan yang dibalas dengan senyum tulus dari beliau.

Begitu indahnya persahabatan kami, walaupun sesekali dibumbui pertengkaran karena kesalahpahaman yang tak pernah berlangsung lama. Hingga tiba berita yang tidak pernah kami inginkan itu.

Suatu pagi yang cerah di hari jum’at, pengeras suara di ruang mudabbirah, memberitakan tentang wali murid yang datang menjenguk anaknya atas nama Nurul Falah Fi Ikhtiarina yang berasal dari Lombok tengah. Serentak penghuni asrama putri ini menyimak berita panggilan dengan bahasa Arab yang kemudian diulang dengan bahasa Inggris itu. “Namamu kepanjangan Nin”, begitu komentarku suatu saat dikelas, seperti biasa dibalas Nina dengan senyum lebar. Aku memang suka mengolok-olok Nina tentang namanya yang sepanjang jalan pulang itu. Saat itu juga sebenarnya aku teringat cerita ibuku, “Orang tuanya Nina itu benar-benar berjuang untuk mendapatkan keturunan, segala ikhtiar beliau lakukan, makanya anaknya yang lahir setelah duapuluh tahun pernikahannya itu diberi nama begitu, kamu tahu maknanya sayang ?, nama itu menggambarkan tentang cahaya keberhasilan dari sebuah ikhtiar kedua orang tuanya”, panjang lebar ibu mengisahkan tentang kehidupan keluarga Nina yang merupakan tetangga baiknya itu.

Nina menarik tanganku untuk segera ke ruang tamu menemui orang tuanya. Selalu begitu memang, kalau oraang tua Nina yang datang menjenguk, akupun ikut menemui, begitu juga sebaliknya. Ibunya Nina tersenyum melihat kami yang menghabiskan dalam sekejap kue serabi yang beliau bawakan. Bergantian bapak dan ibunya mengajukan pertanyaan kepada kami seputar kegiatan di pondok, tentu saja pertanyaan-pertanyaan itu kami jawab dengan riang, karena kenyataannya memang begitu, kami selalu gembira dan bahagia tinggal di Pondok, tempat yang bagi sebagian anak remaja seusia kami menganggap pondok sebagai sebuah penjara, karena peraturan-peraturan yang dianggap mengekang.

Sampailah ke pembicaraan serius dari bapaknya Nina, “Nin…setelah tamat MTS besok, kamu melanjutkan di Tanjung aja, ninikmu sudah sering menanyakan kamu, beliau ingin kamu melanjutkan study di Madrasah beliau, sama kok programnya dengan di Pondok sini, lagian juga akhir tahun ini, bapak sudah purnabakti sebagai guru SD di Lombok Tengah, kasihan nenekmu kesepian di sana”. Dduuaarrrr…kalimat panjang dari mulut bapaknya Nina seperti sebuah ledakan keras ditelingaku, kulirik Nina juga terkejut mendengarnya. Bersambung...#berbagiLewatKaryaFiksi
#titipDiAtmago

  1 Komentar untuk PEMILIK SENYUM MENTARI (part.6)

Masuk ke akun AtmaGo kamu untuk ikut memberi komentar!

Masuk  atau  Daftar