PEMILIK SENYUM MENTARI (part.22)

66998 medium screenshot 20181227 143106
Kupandangi bergantian dua wajah mungil di pangkuanku, tidurnya tenang tak terusik oleh debaran jantungku yang beberapa hari ini berdetak tak biasa. Debaran yang kadang berhasil kutenangkan dengan istigfar, namun juga kadang aku tak berdaya, butiran Kristal bening berdesakan keluar dari kelopak mata, semakin deras tak terbendung.

Perlahan kuletakkan Aisyah dan Fatimah di atas kasur nyamannya. Aku tak ingin air mataku jatuh ke wajah mereka, terlalu nyaman tidurnya untuk kuusik dengan air mata kesedihan tak berkesudahan yang sampai saat ini masih belum mampu kukalahkan.

“Ikhlaskan kepergiannya, Nina kembali dalam husnul khotimah, kita menjadi saksi akan bebajikan-kebajikan yang dia perbuat semasa hidupnya, bukankah itu juga menjadi cita-cita kita semua? Menghadap Allah dengan bekal yang cukup, insyaallah kelak kita akan berkumpul kembali di surganya Allah “. Entah sudah berapa kali suamiku menghibur dengan kalimat-kalimat itu, walau aku tahu ia juga memalingkan muka setelahnya, tak mau terlihat mendung tebal diwajahnya.

Pendarahan hebat pasca persalinan telah mempertemukan Nina dengan kematian, ia pergi menuju kehidupan setelahnya, meninggalkan aku yang baru saja sadar akan berharganya dia dalam kehidupanku, meninggalkan aku yang baru menyadari bahwa hadirnya adalah kebahagiaan dan kebutuhan hidupku.

Nina telah pergi, meninggalkan suaminya yang selalu berusaha berlaku adil pada isteri-isterinya, juga meninggalkan Fatimah Mufidatunnabilah dan Aisyah Mufidatunnajah, bayi kembar yang memiliki mata indah yang mereka warisi dari ibunya.

“Aku ingin ada namamu pada nama mereka Fid, biar mereka jadi perempuan sholehah dan berhati mulia seperti kamu”, terngiang kata-kata Nina ketika baru saja kak Komar selesai mengucapkan kalimat-kalimat azan di telinga kedua putrinya itu.

“Tapi ingat ya Fid, cerewetmu jangan diwariskan ke mereka, kasian bapaknya nanti, sudah punya isteri cerewet, punya dua anak perempuan cerewet lagi”, masih jelas dimataku saat itu, Nina kelihatan sangat bahagia.

“Fid…kamu mau kan…mengasuh dan menyayangi mereka seperti menyayangi dan mengasuh Fatih?”, permintaan yang dia ucapkan dengan raut muka sedikit berbeda.

“Itu pasti Nin, anakku adalah anakmu juga, begitu juga anakmu akan menjadi anakku yang akan kusayangi dan kurawat sebaik-baiknya, aku tidak akan membeda-bedakan mereka walaupun Fatimah dan Aisyah tidak lahir dari rahimku”. Kembali kulihat senyumnya mengembang.

“Fid…kita tidak pernah tau ya, seberapa lagi waktu yang kita miliki sebelum Allah memanggil kita untuk kembali, entah besok lusa atau kapan, walaupun kita dalam kondisi sehat-sehat saja tidak menjamin kesempatan hidup kita masih lama”, aku dan kak Komar memandangnya heran karena tiba-tiba saja dia berbicara tentang maut.

“Tapi insyaallah aku tenang Fid, kalau sekiranya Allah memanggilku kapan saja, aku yakin Fatimah dan Aisyah akan tumbuh sehat dan tangguh dalam pengasuhan kalian”. Entah apa yang ada dalam pikirannya waktu itu.

Kak Komar bangkit dari duduknya, menghampiri Nina dan membelai rambutnya, mengusap lenganya yang masih terhubung dengan selang infus.

“Kita berdo’a saja, semoga Allah menyatukan kita di kehidupan dunia sampai kehidupan kelak di syurga”. Kami mengaminkan do’a itu dengan penuh pengharapan pada kasih sayang yang Maha Rahim. Sejenak kulirik wajah suamiku, diantara kami bertiga mungkin saat ini dia yang paling bahagia. Aku bersyukur akan hal itu, selama ini akulah yang telah membuat kehidupannya cukup rumit. Dia harus berusaha mengerti dan memenuhi segala keinginanku yang kadang tidak memikirkan kesulitan demi kesulitan akan hadir setelahnya. Dia harus berusaha adil pada dua orang perempuan yang menjadi tanggung jawabnya dunia akherat, dengan tidak jarang usahanya untuk berlaku adil tidak diterima dengan ikhlas oleh salah satu dari kami. Dia harus mengambil keputusan yang sulit, menitipkan Nina pada bibi Najma demi menghindari perang dingin denganku. Keputusan yang sulit saat dia harus berbohong padaku dan memohon keikhlasan Nina.

“Maafkan aku suamiku, ampuni aku ya Allah”, permohonan maaf yang hanya mampu kulirihkan dalam hati, namun berharap senyum bahagia suamiku adalah kerido’annya padaku.

Pendarahan hebat yang Nina alami setelah kami pulang kerumah, cukup mengagetkan kami.

“Kamu kuat ya sayang, kita segera ke rumah sakit sekarang”, kak Komar mengendong tubuh Nina masuk ke mobil dengan buru-buru. Aku ingin sekali menemani Nina yang sudah kelihatan lemah, wajahnya pucat dan bibirnya gemetaran, tapi tentu dua bayi perempuan dan satu balita gantengku ini tidak bisa ditinggalkan hanya bersama neneknya.

Gelap…saat suara terbata-bata suamiku ditelefon.
“Nina telah meninggalkan kita Fid”, hanya kalimat itu yang bisa jelas kudengar.
Tanganku tiba-tiba melemah dan tidak kuat menggenggam gawaiku lagi.

Suara tangisan melengking yang entah itu dari mulut Aisyah atau Fatimah atau kedua-duanya serta tangan mungil Fatih yang menarik-narik ujung jilbabku membuatku segera menyadari apa yang sedang terjadi.

“Aku harap kamu tenang Fid, supaya bisa mentajhiz jenazah Nina dengan sempurna, aku ingin kamu yang melakukannya Fid”, kata-kata kak Komar memulihkan kesadaranku bahwa aku harus segera bangun dan melupakan kesedihanku untuk segera menemui jenazah Nina dan menyelesaikan tajhiznya. Aku ingin menunjukkan rasa sayangku padanya untuk yang terakhir kalinya. Karena setelah itu, hanya do’a yang menjembatani kami dengan kasih sayang Allah.

Tanah basah ini dengan aroma bunga kamboja ini membawaku kepadamu Nin, wajah cantikmu keliatan lucu saat kita bercanda dengan aneka tema di teras, sambil menunggu kepulangan Kak Komar dari kampus sore itu.

“Fid, kelak di syurga aku aja yang jadi bidadari pertamanya kak Komar, aku yang menyambut kalian di pintu syurga gitu”.

“Enak aja, yang berstatus isteri pertama itu aku, dan itu status berlaku dunia akherat tau”,

“Bagaimana kalau aku yang lebih dulu sampai ke syurga bersama kak Komar, itu artinya kamu yang kedua, iya kan?”

“Tidak bisa, tetap aku yang pertama, mau ditinjau dari segi apapun tetap aku yang pertama”, sambil cekikikan aku melanjutkan pembelaan.
“Dari segi usia, aku lebih tua tiga bulan sepuluh hari dari kamu Nin, dari segi ketangkasan, aku juga diatas kamu, buktinya yang paling gesit pergi belanja kebutuhan dapur siapa, aku kan” alasan-alasan kocak juga kujadikan peluru untuk mengalahkan Nina.

Akhirnya kami tertawa terpingkal-pingkal saat sadar kalau tema candaan kami saat itu adalah tema terlucu sepanjang sejarah hidup kami.

----------------------------------
Untuk kesekian kalinya sejak seminggu kepergian Nina, aku terpaku dikamarnya, memandangi gamis-gamisnya yang masih tergantung rapi di lemari. Memandang foto-foto jadul kami disamping foto kedua orang tua Nina dan juga foto waktu akad nikahnya dengan kak Komar. Semuanya tertata rapi di meja dan dinding kamar.

Mataku tertuju pada pojok lemari buku, laptop Nina tergeletak terbuka dalam kondisi off. Ternyata laptop itu ia gunakan tidak lama sebelum ia dibawa kerumah sakit, atau bisa jadi laptop itu digunakan pada malam hari lalu membiarkannya terbuka setelah powernya dimatikan. Ya…mungkin saja, seingatku Nina mengeluh pusing saat aku ke kamarnya menjelang subuh.

Bersambung...
Sudah dilihat 42 kali

Komentar