PEMILIK SENYUM MENTARI (part.21)

63182 medium screenshot 20181227 143106
Cerita kehidupan terus berjalan, seperti perjalanan siang dan malam. Tinggal manusia yang harus bijak menyikapinya. Siap dengan pelita saat gelap mengambil posisi terang, juga siap bergegas berpacu dengan mentari, saat terang sudah berhasil mengusir pekat. Seperti itulah seharusnya menyikapi gelap dan terang, tidak meratap saat gelap menghampiri dan tak lupa bergegas saat indahnya mentari menyapa dengan hangat.

Kubiarkan angin sore yang agak dingin membelai wajahku. Fatih sedang bermain bersama neneknya yang baru tadi siang datang. Ada wajah sesosok perempuan bermain di benakku, ia menari-nari mengaduk perasaanku, nyanyiannya yang mampu menghimpun uap air di udara menjadi gumpalan-gumpalan pekat, lalu mengubahnya menjadi titik-titik bening yang akhirnya jatuh di sudut mata.

Empat purnama sudah, Nina pamit padaku dengan mengirim pesan singkat di whatshapp. Waktu itu aku sedang dikampus untuk bertemu dengan dosen pembimbing skripsi yang menemuinya seperti main kucing-kucingan, saat aku datang beliau tidak ada, disusul ketempat lain, tetap tidak bisa ketemu, walaupun sudah janjian lewat telefon. Butuh kesabaran dan pengorbanan karena Fatih juga harus sering kutinggalkan.

“Fid, maaf ya…tidak bisa nunggu kamu pulang, aku pamit mau ke tempat bibi Najma, beliau sedang kurang sehat dan minta ditemani, tidak lama kok, paling cuma dua hari, lusa aku pulang, aku juga kan harus kuliyah”. Aku terkejut membaca pesan singkatnya, tidak biasanya Nina pergi meninggalkan rumah buru-buru begini dan hanya pamit padaku hanya lewat WA aja.

Segera kutelfon kak Komar karena telfonya Nina sedang sibuk.
“Iya dek, ini kakak yang mau antar ke bandara, Fatih sama Inaq ini, baru saja datang”, rasa heranku semakin menjadi mendengar jawaban singkat dari suamiku, belum sempat aku menanyakan apapun, kak Komar sudah mengucap salam dan menutup telefon.

Nina pergi seperti buru-buru, kak Komar memberikan penjelasan seadanya dan Inaq yang datang untuk membantuku mengurus Fatih. Apakah kepergian Nina erat kaitannya dengan kondisi hubungan kami yang akhir-akhir ini semakin tidak harmonis. Aku teringat saat beberapa kali tidak mampu menahan emosi didepannya, aku marah karena ia menginap di rumah kerabatnya di Tanjung padahal malam itu seharusnya kak Komar bersamaku. Waktu itu kak Komar mengantarnya untuk berziarah ke makam orang tuanya. Untuk yang kesekian kalinya, aku tetap tidak mampu menahan emosi, walaupun kak Komar menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Waktu mau pulang, tiba-tiba Nina demam dan susah bernapas, kak Komar yang khawatir penyakit lama Nina kambuh, langsung membawanya ke rumah sakit dan mendapat perawatan semalam disana, baru paginya bisa pulang. Dia tidak menghubungiku dengan alasan tidak mau membuatku khawatir.

Nina memang pernah menderita infeksi saluran pernapasan akut, yang biasa kita kenal dengan ispa. Penyakit yang rentan diderita oleh korban gempa itu juga menjangkiti Nina ketika baru saja kami jemput untuk tinggal bersama kami. Penyakit yang salah satu penyebabnya karena asupan nutrisi yang tidak cukup itu, kembali dideritanya.

Ah…apa mungkin Nina kekurangan nutrisi ?, mungkin saja. Sejak kami sering cekcok akhir-akhir ini, kami jarang makan bersama, kak Komar sering makan diluar dan Nina juga selalu bilang sudah makan di dapur saat mengingatkan aku untuk makan. Mungkin saja Nina berbohong dan jarang makan tanpa sepengetahuan kami. Kalau benar seperti itu kenyataannya, aku sudah bersalah padanya, menciptakan kondisi yang membuatnya sakit.

“Hidup ini hakekatnya adalah berbenah dan terus berbenah, sampai kelak kita menghadap Allah dalam kondisi terbaik kita”. Suara Inaq pelan menanggapi keluh kesahku yang sudah sekian kali tumpah didepannya.

“Percuma hidup kalau hari ini masih sama dengan hari kemarin, mintalah ampun terus kepada Allah, jangan hanya raga kita saja yang senantiasa rajin bersujud kepadanya, namun juga jiwa kita juga harus patuh dan taat dalam ketentuan Allah”, terasa sejuk nasehat Inaq, menelisik kerelung-relung hatiku.

“Inaq, apakah aku salah jika merasa cemburu pada Nina ?, kak Komar sering sekali memujinya didepanku, sampai-sampai pujiannya itu kudengar berlebihan”. Aku kembali menumpahkan isi hatiku didepan perempuan yang sangat kucintai itu. perempuan berparas manis yang selalu menjadi gerimis disaat ganasnya terik mentari, perempuan yang mampu menjadi pelita saat aku kehilangan cahaya dalam pekat, juga perempuan yang kadang-kadang harus bersusah payah menghadang angin kencang dan mengubahnya menjadi angin sepoi-sepoi, demi membuatku tenang dalam dekapnya.

“Sebenarnya itu tidak salah nak, sebab rasa cemburu itu manusiawi. Siti aisyah juga pernah cemburu pada isteri-isteri Rasulullah yang lain, tapi dalam hal ini kita harus berusaha menyikapinya dengan bijak”, suara Inaq pelan menanggapi keluhku, lalu meletakkan Fatih yang sudah tertidur pulas karena kekenyangan.

“Menurut Inaq, Komar juga tidak berlebihan dalam memuji Nina, kamu juga sering dipuji sama suamimu, didepan Nina juga, bahkan Inaq pernah mendengarnya langsung”, ah…benarkah apa yang kudengar dari mulut Inaq. Ya Allah…apakah itu berarti aku salah paham selama ini, aku merasa suamiku tak adil, padahal ia sangat menghargai kami isteri-isterinya. Nina juga tak pantas kucemburui secara berlebihan, dia sudah sangat baik padaku, dia tak pernah berubah sejak dulu, selalu menjadi kawan sejati untukku, yang selalu ada untukku dalam segala kondisi.

Tiba-tiba rasa bersalah itu mampir dihatiku, aku merasa sangat jahat sama Nina, sahabat kecilku yang akhirnya menjadi isteri kedua suamiku. Pernikahan kedua suamiku bersamanya yang direstui oleh Allah itu, awalnya adalah karena keinginanku. Aku baru menyadari bahwa sikapku pada Nina selama ini salah. Akhirnya titik-titik bening disudut mata tak mampu kubendung lagi, jatuh berderai bersama rasa bersalahku yang kian terasa. Rasa bersalah yang mengurai peristiwa demi peristiwa. Teringat betapa jahatnya aku, saat aku cuek saja melihat Nina memegang kepalanya sendiri sambil menahan nyeri, saat dia muntah-muntah di kamar mandi lalu kak Komar menggendongnya karena ia seperti kehabisan tenaga dan terduduk dilantai kamar mandi.

Ah…kembali wajah manis sahabatku itu terbayang, saat ia tersenyum manis padaku waktu pulang dari dokter kandungan, tapi aku berlalu dari hadapannya dengan tanpa menanyakan hasil periksa dokter, apakah dia benar hamil atau tidak, bahkan hingga kini aku tidak pernah menanyakan itu.

Ya Allah, aku baru inget, kejadian itu kan sudah lama. Aku ingat waktu Nina kedokter kandungan itu sekitar empat bulan sebelum ia pergi ketempat bibi Najma, ini adalah bulan kelima ia disana, kalau benar Nina hamil sejak waktu itu, berarti sekarang kehamilannya sudah besar bahkan sedang menunggu hari.

Kegelisahan semakin mengkungkungku, aku tak menyadari kehadiran kak Komar disampingku dari tadi. Akhirnya air mataku tumpah di pundaknya.

“Aku kangen Nina kak”, hanya kalimat itu yang mampu kuucapkan dan kurasakan belaian lembut tangan kak Komar dikepalaku, ia tak mengucapkan sepatah katapun dan itu membuat rasa bersalahku semakin menjadi-jadi. Isakku masih terdengar saat kak Komar meraih gawainya yang memanggil, dengan setengah berbisik ia memberitahu kalau yang nelfon adalah bibi Najma. Aku terkejut karena malam sudah larut, kalau bukan karena hal yang sangat penting, bibi pasti tidak akan nelfon jam-jam seperti ini.
“Sekarang di klinik mana bi’, bagaimana kondisinya?”,

Bersambung...
Sudah dilihat 50 kali

Komentar